Kumparan Logo

Dokter Sarankan Warga Jabodetabek Pakai Masker KN95, Cegah Abu Vulkanik

kumparanSAINSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi masker KN95. Foto: Andrey_Popov/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi masker KN95. Foto: Andrey_Popov/Shutterstock

Warga Jabodetabek disarankan memakai masker KN95 ketika beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko menghirup partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia Komisariat Kota Depok sekaligus Sekretaris IDI Cabang Kota Depok, dr. Dewangga Gegap Gempita, mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, mata, dan kulit.

"Abu vulkanik ini banyak mengandung berbagai macam mineral tajam dan juga bahan silika," kata Dewangga kepada kumparan, Minggu (6/9).

Menurut Dewangga, paparan abu vulkanik dalam konsentrasi rendah maupun tinggi dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Apabila ini terhirup, baik itu dalam konsentrasi rendah ataupun dalam konsentrasi tinggi, ini bisa menyebabkan adanya iritasi pada saluran pernapasan. Bisa timbul penyakit pada saluran pernapasan atas, seperti ISPA,” ujarnya.

Ilustrasi masker KN95. Foto: JE-pics/Shutterstock

Masker KN95 direkomendasikan karena dapat membantu mengurangi jumlah partikel halus yang terhirup. Masker perlu menutup hidung, mulut, dan dagu dengan rapat agar perlindungannya bekerja optimal.

Selain saluran pernapasan, abu vulkanik dapat masuk ke mata dan menimbulkan iritasi. Partikel mineral dan silika yang menempel pada kulit juga berpotensi menyebabkan rasa tidak nyaman.

"Apabila debu atau abu vulkanik ini partikelnya masuk ke dalam mata, ini juga bisa mengiritasi mata. Yang juga bisa terkena dampak adalah bagian kulit kita," jelas Dewangga.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau terbagi ke dalam dua klaster besar per Minggu (6/9) pagi. Sebaran material vulkanik tersebut membentang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

"Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat," ujar Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.

BMKG masih memantau perkembangan erupsi dan pergerakan abu selama 24 jam.

Dewangga meminta masyarakat tetap tenang agar dapat mengambil langkah perlindungan secara tepat. Warga juga perlu mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik.

"Ketika sudah timbul kepanikan, kadang-kadang kita tidak bisa berpikir secara jernih sehingga tidak bisa mengambil keputusan yang baik ataupun tindakan yang tepat," tuturnya.