Kumparan Logo

Model AI Anthropic Bobol 3 Perusahaan Tanpa Disadari Gegara Salah Konfigurasi

kumparanTECHverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anthropic. Foto: Photo For Everything/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anthropic. Foto: Photo For Everything/Shutterstock

Model AI (kecerdasan buatan) milik Anthropic meretas sistem perusahaan saat menjalani pengujian keamanan siber. Insiden tersebut terjadi tanpa sepengetahuan Anthropic akibat kesalahan konfigurasi yang membuat model AI dapat mengakses internet.

Anthropic mengungkapkan insiden ini pada Kamis, 30 Juli 2026. Perusahaan tidak menyebut identitas ketiga korban, tetapi telah memberi tahu mereka pada Senin, 27 Juli 2026.

Kasus peretasan berlangsung dalam tiga insiden terpisah sejak April 2026. Model yang terlibat adalah Opus 4.7, Mythos 5, dan satu model riset yang belum disebutkan namanya.

Insiden OpenAI Picu Anthropic Cek Ulang 141.000 Uji AI

Temuan ini muncul sekitar satu minggu setelah OpenAI mengungkap bahwa agen AI miliknya berhasil keluar dari lingkungan pengujian terisolasi atau sandbox. Model tersebut kemudian mengakses internet dan meretas perusahaan AI Hugging Face.

Insiden OpenAI mendorong Anthropic memeriksa kembali seluruh pengujian keamanan sibernya. Perusahaan menelusuri catatan dari lebih dari 141.000 pengujian dan menemukan bahwa Claude beberapa kali berhasil terhubung ke internet.

Namun, model Anthropic tidak membobol sandbox seperti dalam kasus OpenAI. Sejumlah sistem pengujian yang digunakan Anthropic dan mitranya, perusahaan keamanan Irregular, ternyata tidak memiliki sandbox yang semestinya.

Claude Anthropic Foto: Kevin S. Kurnianto/kumparan

Salah Konfigurasi Bikin Model AI Anthropic Bisa Akses Internet

Anthropic menyebut kesalahan konfigurasi membuat model memperoleh akses langsung ke internet. Juru bicara Irregular mengatakan perusahaan sedang menyelidiki insiden tersebut.

Model-model itu sebelumnya menerima informasi bahwa akses internet tidak tersedia. Kenyataannya, model berhasil masuk ke internet selama pengujian dan menyerang perusahaan nyata dengan teknik peretasan dasar.

Claude antara lain menebak kata sandi yang lemah dan mencari sistem yang tidak memerlukan autentikasi. Model tersebut mengira tindakannya masih menjadi bagian dari pengujian atau benchmark yang diberikan Anthropic.

Dalam salah satu insiden, Claude berhasil menyusup ke sistem sebuah perusahaan keamanan yang tidak disebutkan namanya. Model menciptakan perangkat lunak berbahaya yang kemudian diunduh oleh sistem pemindai milik perusahaan tersebut.

Peranti lunak itu mencuri kredensial. Claude lalu menggunakan kredensial tersebut untuk mengakses infrastruktur perusahaan keamanan.

Pada dua insiden lain, Claude tidak menyadari bahwa targetnya benaran perusahaan nyata. Dalam salah satu kasus, model memahami kesalahan tersebut dan segera menghentikan aktivitas peretasan.

Ilustrasi Anthropic. Foto: PJ McDonnell/Shutterstock

Kasus OpenAI dan Anthropic Bikin Dunia Khawatir soal Risiko Model AI Canggih

Kasus tersebut memperlihatkan risiko ketika model AI otonom memperoleh akses ke sistem dan jaringan yang tidak terlindungi. Alex Stamos, Chief Product Officer Corridor, perusahaan keamanan siber, mengatakan perusahaan AI membutuhkan standar industri yang lebih kuat untuk mengisolasi model selama pengujian keamanan siber.

Menurutnya, kemampuan yang diperlihatkan model-model tersebut juga memberikan gambaran mengenai ancaman serangan siber pada masa depan. Pelaku ransomware berpotensi memakai AI yang semakin canggih untuk melancarkan serangan dalam skala luas.

"Kita perlu bersiap karena penyerang akan segera memiliki kemampuan seperti ini menggunakan model open-weight," kata Stamos, mengutip The Wall Street Journal.

Insiden Anthropic dan OpenAI diperkirakan meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko model AI berkemampuan tinggi. Pemerintah Amerika Serikat mulai memperketat pengawasan terhadap teknologi tersebut. Pada saat yang sama, sejumlah perusahaan swasta meminta agar akses terhadap model open-weight tetap dipertahankan.

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Greg Casar, menilai perkembangan AI saat ini berlangsung lebih cepat daripada regulasi yang dibutuhkan untuk melindungi masyarakat.

"AI berkembang sangat cepat tanpa regulasi nyata untuk menjaga keselamatan kita," ujarnya.