Kumparan Logo

Riset Mobil Otonom Uber Diperluas ke Luar Amerika Serikat

kumparanTECHverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Mobil tanpa sopir milik Uber. (Foto: Uber via Twitter)
zoom-in-whitePerbesar
Mobil tanpa sopir milik Uber. (Foto: Uber via Twitter)

Segala pemberitaan negatif tak menghentikan perusahaan transportasi online Uber untuk bergerak maju. Mereka mempunyai rencana baru untuk memperluas kawasan pengujian mobil otonom miliknya.

Untuk awalnya memang perluasan itu belum terlalu jauh. Toronto, Ontario, Kanada, menjadi kawasan yang akan disambangi Uber sebagai area pengembangan teknologi mobil otonomnya. Ini akan menjadi kali pertama Uber mengembangkan riset mobil otonomnya ke daerah luar Amerika Serikat.

Selain itu, langkah ini seakan menunjukkan gugatan hak paten dari Google terhadap teknologi mobil otonom Uber tak mempengaruhi mereka untuk terus mengembangkan teknologi ini.

Uber telah mengumumkan kerja sama dengan Raquel Urtason, seorang profesor ilmu komputer dari University of Toronto, yang akan memimpin cabang baru dari tim mobil otonom Uber di sana.

Urtason memiliki spesialisasi di mesin pembelajaran dan visi komputer, teknologi yang akan membantu mobil-mobil 'melihat dunia di sekitarnya'. Menurut Uber, ia akan memimpin sebuah kelompok kecil, yang terdiri dari delapan murid dan beberapa postdoc, yang bakal menjadi pegawai tetap Uber setelah menyelesaikan studinya.

Urtason dan timnya akan berfokus pada tiga hal, yaitu persepsi, atau mengenali objek-objek di dunia, kedua adalah lokalisasi, bagaimana mobil mengetahui lokasi mereka, dan ketiga adalah pemetaan, meningkatkan kapabilitas pemetaan dari skala mobil otonom milik Uber.

Kantor Uber di Queens, New York. (Foto: Brendan McDermid/Reuters)
zoom-in-whitePerbesar
Kantor Uber di Queens, New York. (Foto: Brendan McDermid/Reuters)

Baca juga: Uber Ditinggal Seorang Ahli Mobil Otonom

Menurut CEO Uber, Travis Kalanick, Urtason akan berperan serta dalam riset yang sedang digarap di laboratorium AI Uber, dipimpin alumnus University of Toronto, Zoubin Ghahramani. Kelompok itu diluncurkan setelah Uber mengakuisisi sebuah startup bernama Geometric Intelligence pada Desember lalu.

Tapi, kemudian salah satu periset dari startup itu mengundurkan diri dari perannya di laboratorium AI Uber, menjadi salah satu nama yang meramaikan kepergian anggota eksekutif dari Uber.

Teknologi mobil tanpa sopir menjanjikan jalanan menjadi lebih aman, lingkungan lebih sehat, dan kota jadi lebih nyaman ditinggali.

Kalanick mengaku masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Uber untuk meningkatkan teknologi mobil otonom tersebut. Apalagi, mereka sedang berseteru dengan Google terkait masalah hak paten teknologi itu. Google menuduh mantan pegawainya Anthony Levandowski, yang kini di Uber, telah mencuri bahan kunci dari teknologi mobil otonom. 

Google menyebut teknologi yang dicuri ini bernama sensor LIDAR. Mereka menuduh Uber menggunakan teknologi itu untuk menempatkan posisi mereka sebagai kepala teknologi mobil otonom dari Uber.

Levandowski, menghindari masalah ini dengan cara mengundurkan diri dari posisinya di tim teknologi Uber, tapi ia tidak pergi meninggalkan perusahaan. Meski begitu, diperkirakan karir di Levandowski tak akan lama.

Google ingin menghentikan Uber menggunakan sensor yang mereka anggap hasil curian, sehingga Uber harus memutar otak dalam mencari cara untuk menciptakan sensor baru mobil otonomnya.

Baca juga: Uber Bantah Curi Teknologi Mobil Otonom Google Waymo