Ketika AI Membantu Banyak Hal, Apa yang Perlu Tetap Kita Kerjakan Sendiri?

Mahasiswa Teknik Informatika dari Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Furqan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
AI dalam Kehidupan Sehari-hari: Meningkatkan Produktivitas atau Menciptakan Ketergantungan yang Berlebihan? Pernahkah kita membuka AI hanya untuk menanyakan satu pertanyaan, dan akhirnya menggunakannya untuk hampir semua tugas? Dari bertukar pikiran ide dan merangkum materi hingga meningkatkan penulisan dan pemahaman kode program. Bagi banyak orang, khususnya pelajar dan generasi muda, AI secara bertahap menjadi bagian rutin dari kehidupan sehari-hari. Kehadiran dia membuat banyak hal menjadi lebih sederhana. Namun, di balik kemudahan ini, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar menjadi lebih produktif, atau kita menjadi terlalu bergantung pada teknologi?

Tidak dapat dipungkiri bahwa AI membawa banyak manfaat bagi kehidupan kita sehari-hari. Tugas-tugas yang dulunya memakan waktu lama kini dapat dimulai lebih cepat. Misalnya, seseorang yang kesulitan menulis dapat menggunakan AI untuk menentukan perspektif, menyusun kerangka, atau menyarankan cara berbeda untuk menyajikan idenya.
Selama proses pembelajaran, AI juga dapat berperan sebagai partner diskusi yang menjelaskan materi dengan berbagai cara. Apabila penjelasan dalam buku atau kelas sulit dipahami, pengguna dapat meminta contoh yang lebih sederhana atau mengajukan pertanyaan lanjutan. Untuk siswa yang mengerjakan proyek pemrograman, AI bahkan dapat membantu menemukan kemungkinan kesalahan dalam kode atau menjelaskan fungsi tertentu. Namun manfaat ini tidak boleh dinilai hanya dari seberapa cepat suatu pekerjaan diselesaikan. Produktivitas juga terkait dengan bagaimana waktu dihabiskan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Jika AI dapat mengurangi tugas yang berulang dan dapat meluangkan waktu untuk pekerjaan yang lebih penting, hal ini tentu akan menambah nilai. Artinya, AI lebih dari sekedar alat untuk mendapatkan jawaban instan. Kalau digunakan dengan benar, teknologi ini dapat memungkinkan orang bekerja lebih terarah dan belajar lebih fleksibel.
Permasalahan muncul ketika bantuan AI beralih dari hanya sekedar komponen proses menjadi menggantikan hampir seluruh proses berpikir. Misalnya, seseorang mungkin meminta AI untuk menyelesaikan suatu tugas, langsung menyalin hasilnya, dan mengumpulkannya tanpa benar-benar memahami materi atau proses di baliknya. Dalam kasus seperti ini, pekerjaan mungkin tampak selesai, namun keterampilan yang seharusnya dikembangkan melalui proses tersebut mungkin belum diperoleh. Padahal dalam pendidikan, siklus memahami, mencoba, membuat kesalahan, dan mengoreksi jawaban merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran.
Panduan UNESCO untuk AI Generatif dalam Pendidikan dan Penelitian menekankan bahwa AI generatif harus digunakan dengan pendekatan yang berpusat pada manusia. Panduan tersebut juga memperingatkan kemampuan AI dalam menghasilkan teks, kode, dan berbagai bentuk konten menantang pemahaman kita tentang pengetahuan dan proses pembelajaran. Selain tantangan pembelajaran, ada risiko lain yang sama pentingnya: menerima informasi tanpa memverifikasinya. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, namun mungkin masih salah, tidak lengkap, atau di luar konteks.
Hanya karena suatu jawaban terlihat rapi bukan berarti jawaban tersebut benar. Kecanduan juga bisa terjadi dalam bentuk yang lebih sederhana. Ketika kita terbiasa dengan AI yang menghasilkan semua ide, menulis setiap kalimat, atau menyelesaikan setiap masalah, kita mungkin kehilangan kebiasaan untuk terlibat dalam pemikiran yang tulus. Bukan berarti kemampuan tersebut akan langsung hilang, namun jika Anda terus melewatkan kesempatan untuk berlatih, maka kesempatan Anda untuk melatihnya akan berkurang.
Jadi, apakah jawaban atas masalah ini adalah dengan berhenti menggunakan AI? Sepertinya tidak sesederhana itu. Teknologi pada dasarnya adalah sebuah alat, dan dampaknya sangat bergantung pada cara orang menggunakannya. Yang paling penting adalah membangun kebiasaan penggunaan yang tepat.
Meskipun AI dapat membantu memicu inspirasi, kita tetap harus menciptakan ide kita sendiri. AI mungkin dapat membantu menjelaskan kode, akan tetapi kita harus fokus pada pemahaman cara kerjanya, bukan sekadar membuatnya berfungsi. AI juga bisa membantu merapikan tulisan, namun, untuk isi, sudut pandang, dan tanggung jawab tulisan tetap berada pada penulis.
Kita juga harus menghentikan kebiasaan mengecek informasi-informasi ringan kepada AI. Untuk tugas akademis, kesehatan, keuangan, atau keputusan penting, akan lebih baik apabila merujuk pada sumber terpercaya. Data pribadi dan informasi sensitif juga harus ditangani dengan hati-hati saat menggunakan layanan AI.
Pada akhirnya, meskipun AI adalah alat produktivitas yang hebat, AI tidak dapat menangani semuanya. Kita tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis, belajar mandiri, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan. AI harus bisa menjadi alat batu untuk membuat pekerjaan lebih mudah tanpa membuat kita kehilangan keinginan atau kemampuan untuk memahami proses di baliknya.
