Mengapa Pendidikan Selalu Kalah oleh Agenda Lain di Indonesia?

Nama : Moh. Galih Pratama,kuliah S1 di uin syarif hidayatullah jakarta,hukum pidana Islam,alumnus buntet pesantren cirebon
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Moh Galih Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap kali kita berbicara tentang masa depan bangsa, pendidikan hampir selalu disebut sebagai hal yang penting. Hampir semua orang setuju bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan. Namun anehnya, ketika masuk ke ranah kebijakan, pendidikan justru sering berada di posisi yang paling mudah dikalahkan oleh agenda lain yang dianggap lebih mendesak, lebih menarik secara politik, atau lebih cepat memberi hasil.
Di sinilah persoalannya. Pendidikan di Indonesia sering dipuji dalam kata-kata, tetapi tidak selalu benar-benar diprioritaskan dalam tindakan. Ia kerap hadir sebagai slogan, bukan sebagai komitmen yang sungguh-sungguh. Akibatnya, kita berulang kali mendengar janji perbaikan pendidikan, tetapi di lapangan masalahnya tetap itu-itu juga: kualitas belajar yang timpang, beban biaya yang berat, kesenjangan akses, dan kebijakan yang sering berubah-ubah.
Salah satu alasan mengapa pendidikan terus kalah adalah karena hasilnya tidak bisa dipanen secepat program lain. Pendidikan bekerja pelan. Ia membutuhkan waktu panjang, kesabaran, dan konsistensi. Sementara itu, dalam politik dan kebijakan publik, yang sering dicari adalah sesuatu yang terlihat cepat, bisa diumumkan, dan mudah dipresentasikan. Program yang dampaknya instan biasanya lebih menarik dibanding pembenahan pendidikan yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Masalahnya, logika seperti ini membuat pendidikan selalu tertinggal. Ketika pemerintah sibuk mengejar agenda yang bisa langsung terlihat, pendidikan justru diperlakukan seperti pekerjaan jangka panjang yang boleh ditunda. Padahal, justru karena dampaknya tidak instan, pendidikan harus dikerjakan dengan lebih serius. Kalau dibiarkan mengikuti logika sisa perhatian, maka pendidikan akan terus menjadi korban dari prioritas-prioritas lain yang lebih ramai tetapi belum tentu lebih penting.
Pendidikan juga sering disederhanakan hanya sebagai urusan sekolah dan kampus. Padahal, pendidikan jauh lebih luas dari itu. Ia menyangkut kualitas guru, fasilitas belajar, biaya yang harus ditanggung keluarga, kemampuan siswa mengakses pengetahuan, hingga bagaimana negara menciptakan lingkungan yang adil bagi semua orang untuk belajar. Ketika pendidikan dipersempit seperti ini, banyak akar masalah tidak pernah disentuh. Yang dibenahi hanya permukaannya, sementara luka utamanya tetap dibiarkan.
Selain itu, ada masalah lama yang terus berulang: pendidikan tidak selalu punya posisi tawar yang kuat dalam perebutan perhatian negara. Sektor lain yang dianggap lebih strategis sering mendapat tempat lebih besar dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, pendidikan kalah bukan karena tidak penting, tetapi karena tidak cukup didorong menjadi pusat kebijakan. Dalam praktiknya, yang sering menang bukan yang paling dibutuhkan rakyat, melainkan yang paling kuat tekanannya.
Padahal, jika pendidikan terus dikesampingkan, dampaknya akan kembali ke masyarakat dalam bentuk yang jauh lebih mahal. Kita akan menghadapi tenaga kerja yang kurang siap, mobilitas sosial yang lambat, ketimpangan yang makin lebar, dan kualitas demokrasi yang rapuh. Negara mungkin bisa terlihat berjalan hari ini, tetapi tanpa pendidikan yang kuat, fondasinya pelan-pelan melemah.
Karena itu, pertanyaannya apakah pendidikan itu penting. Jawabannya sudah jelas. Yang jauh lebih penting adalah mengapa sesuatu yang begitu penting masih terus kalah oleh agenda lain. Mengapa pendidikan selalu harus menunggu giliran, seolah-olah masa depan bangsa bisa ditunda begitu saja.
Kalau Indonesia sungguh ingin maju, maka pendidikan tidak boleh lagi ditempatkan sebagai pelengkap. Ia harus hadir dalam keputusan yang nyata, dalam anggaran yang memadai, dan dalam kebijakan yang konsisten. Sebab bangsa yang terus menomorduakan pendidikan sebenarnya sedang menunda kemajuannya sendiri.
