Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan Indonesia: Krisis Nyata di Tengah Narasi Swasembada

muhammad gibran hiumar

muhammad gibran hiumar

Mahasiswa IAIN TERNATE,penulis lepas yang mengkritisi isu-isu pendidikan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari muhammad gibran hiumar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

mewujudkan ketahanan pangan di tengah krisis iklim (https://https://pixabay.com/images/search/ketahanan%20pangan/?pagi=2)
zoom-in-whitePerbesar
mewujudkan ketahanan pangan di tengah krisis iklim (https://https://pixabay.com/images/search/ketahanan%20pangan/?pagi=2)

Ketahanan pangan di tengah krisis iklim semakin menekan upaya Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan. Anomali cuaca, kekeringan ekstrem, dan gagal panen menjadi realitas yang tidak bisa lagi diabaikan. Kementerian Pertanian bahkan menyebut potensi penurunan produksi beras mencapai 2 juta ton jika El Niño berlanjut hingga akhir tahun. Kondisi ini menuntut strategi baru dan keseriusan dalam menata sistem pangan nasional. Topik tentang krisis iklim dan pertanian menjadi semakin relevan untuk ditelaah secara kritis dalam konteks ketahanan pangan. Namun, permasalahan pangan di Indonesia tidak semata-mata soal produksi. Distribusi yang timpang, ketergantungan pada impor, serta minimnya inovasi teknologi pertanian turut memperumit masalah. Banyak daerah produsen pangan justru mengalami kerawanan gizi, memperlihatkan ketidakseimbangan antara pusat dan daerah. Di sisi lain, alokasi subsidi pupuk dan benih masih belum sepenuhnya tepat sasaran.

Modernisasi Pertanian untuk Ketahanan Pangan

modernisasi pertanian,mengubah wajah pertanian indonesia (https://pixabay.com/images/search/modernisasi%20petani/?pagi=2)

Untuk menjawab tantangan ini, modernisasi pertanian bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan. Pemanfaatan Internet of Things (IoT), big data, dan pertanian presisi harus menjadi bagian integral dari kebijakan pangan nasional. Beberapa inisiatif seperti Smart Farming telah menunjukkan hasil positif, tetapi masih bersifat lokal dan belum terintegrasi ke dalam sistem nasional yang inklusif.

Langkah lain yang krusial adalah pembenahan tata kelola air dan lahan. Perubahan iklim membuat ketersediaan air tidak dapat diprediksi. Maka dari itu, pembangunan infrastruktur irigasi berkelanjutan dan restorasi lahan menjadi kunci. Program food estate yang sempat digadang-gadang sebagai solusi pun perlu dievaluasi ulang karena banyak kritik menganggapnya tidak berpihak pada petani lokal dan mengabaikan prinsip keberlanjutan. Simak juga bahasan tentang program food estate dan tantangannya di lapangan.

Lebih jauh, pendekatan multisektor yang melibatkan kementerian, swasta, dan masyarakat sipil sangat diperlukan. Ketahanan pangan bukan hanya urusan pertanian, tapi juga gizi, pendidikan, dan perlindungan sosial. Sinergi lintas sektor ini akan membangun ekosistem yang tangguh dalam menghadapi guncangan global.

Refleksi Kritis terhadap Ilusi Swasembada

pentingnya swasembada karena untuk memenuhi kebutuhan petani, tanpa harus bergantung pada pihak lain (https://pixabay.com/images/search/swasembada%20pertanian/)

Swasembada pangan kerap menjadi jargon populis menjelang pemilu. Namun, tanpa fondasi yang kokoh dalam aspek produksi, distribusi, dan konsumsi, swasembada hanya akan menjadi ilusi. Ketahanan pangan harus diposisikan sebagai prioritas lintas generasi, bukan sekadar proyek lima tahunan yang berakhir pada laporan seremonial.

Dalam konteks ini, penting untuk memikirkan kembali konsep kedaulatan pangan sebagai hak rakyat atas tanah, air, dan benih. Bukan sekadar ketersediaan pangan dalam jumlah banyak, melainkan ketersediaan pangan sehat, berkelanjutan, dan terjangkau.

M.Gibran Hi.Umar,Mahasiswa IAIN TERNATE,penulis lepas yang mengkritisi isu-isu terkini.