Konten dari Pengguna

FOMO: Antara Ingin Eksis dan Terjebak Kecemasan Sosial

Muhammad Gumilar Mulyana
Seorang lulusan baru dari program studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang dan seorang penulis junior di suatu lembaga kajian bernama "Lingkar Kajian Kolaboratif".
7 September 2025 1:05 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
FOMO: Antara Ingin Eksis dan Terjebak Kecemasan Sosial
Esai ini membahas fenomena FOMO di Indonesia, dampak positif-negatifnya, serta pentingnya mengelola budaya ini secara bijak agar tidak menjerat kehidupan sosial.
Muhammad Gumilar Mulyana
Tulisan dari Muhammad Gumilar Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Budaya FOMO di Lingkungan Sosial Masyarakat (Foto ini dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Budaya FOMO di Lingkungan Sosial Masyarakat (Foto ini dibuat dengan AI)
ADVERTISEMENT
FOMO atau Fear of Missing Out, kian akrab terdengar di tiap telinga masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan anak muda yang tak dapat terlepas dari hiruk pikuk keramaian internet dan media sosial. Secara sederhana, FOMO dapat diartikan sebagai rasa takut dan gelisah ketika tertinggal oleh kemasifan informasi, tren, ataupun pengalaman yang sedang marak diperbincangkan. Gejala FOMO akan muncul di kala seseorang merasakan cemas apabila ia tertinggal dalam perkembangan sebuah informasi, baik itu informasi seputar acara konser, promo belanja online, maupun tren healing yang sedang marak beredar, terutama di ranah media sosial.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia sendiri, pengguna media sosial yang masuk kategori “aktif” telah mencapai angka sekitar 170 juta orang. Hal ini menyebabkan pertumbuhan budaya FOMO di Indonesia terbilang pesat. Setiap notifikasi baru, unggahan baru, dan tren baru yang muncul di layar gawai tiap orang pengguna media sosial di Indonesia, memaksa tiap individu untuk ikut menyimak dan mengikuti apa yang baru saja beredar. Sehingga, budaya FOMO secara otomatis akan hinggap di tiap-tiap pengguna media sosial di Indonesia, yang mana hal ini pasti dimulai dari rasa penasaran, hingga menimbulkan rasa cemas akan ketertinggalan sebuah informasi baru yang sedang marak beredar. Pertanyaannya: apakah budaya FOMO ini akan membawa sebuah kebaikan, atau malah membawa permasalahan sosial baru?
ADVERTISEMENT

Dampak Positif FOMO

Kita tak dapat memungkiri, FOMO memiliki dampak positif bagi kehidupan masyarakat Indonesia. FOMO dapat membuat seseorang menjadi lebih “tersambung” dengan lingkaran sosialnya. Pada zaman sekarang, di mana kemajuan teknologi digital dapat terbilang pesat, arti kebersamaan seakan dapat merambah ke ranah yang lebih luas, bukan sekadar kebersamaan secara tatap muka saja. Namun, kebersamaan juga dapat tercipta melalui teknologi digital, dengan adanya kirim-mengirim pesan di gawai kita masing-masing.
Penting kiranya di era sekarang untuk beradaptasi mengikuti perkembangan tren, membicarakan sesuatu yang sedang viral, dan merencanakan untuk menghadiri sebuah acara yang akan digelar. Sehingga, dalam hal ini, diperlukan budaya FOMO, supaya dapat “tersambung” dengan lingkaran sosial kita. Ikatan sosial pun berpotensi menjadi semakin erat dan kuat, karena kita mengetahui dan saling “tersambung” dalam sebuah koneksi yang sama. Entah itu perencanaan sebuah agenda, mengobrolkan sebuah topik yang sedang viral, ataupun sekadar membicarakan sebuah tren yang sedang marak.
ADVERTISEMENT
Selain mempererat ikatan sosial, FOMO juga dapat mendorong seseorang untuk terus update terhadap sebuah informasi. Rasa takut akan ketertinggalan sebuah informasi membuat seseorang menjadi rajin membaca berita, menyimak perkembangan teknologi, dan mencari tahu topik-topik terbaru yang sedang hangat diperbincangkan. Dengan hal ini, FOMO dapat menjadi sebuah motivasi bagi seseorang untuk tidak tertinggal dari arus kemajuan zaman.
Kemudian, dampak positif ketiga, FOMO dapat menjadi pemicu semangat seorang individu untuk terus mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Contohnya, ketika seorang individu melihat seorang temannya berhasil meraih sebuah prestasi, seorang individu tersebut pasti akan merasa terpantik untuk lebih bekerja keras dalam meraih sebuah prestasi juga. Dengan kata lain, FOMO dapat menjadi pelecut semangat bagi seorang individu agar tidak terlena pada zona nyamannya.
ADVERTISEMENT

Dampak Negatif FOMO

Di balik dampak positif yang dihasilkan oleh adanya FOMO, ternyata juga ada dampak negatif dari FOMO yang terbilang berbahaya untuk kesehatan mental dan kehidupan sosial seorang individu.
Dampak negatif yang pertama, FOMO sering menciptakan kecemasan sosial. Seorang individu dapat merasa rendah diri, karena ia terus-terusan membandingkan dirinya dengan pencapaian-pencapaian orang lain yang dilihatnya di media sosial. Padahal, tidak semua yang terlihat di media sosial itu merupakan sebuah kenyataan. Namun, seorang individu tersebut berpotensi besar untuk merasa tertinggal, yang mana hal itu sering kali berujung pada stres dan menurunnya kepercayaan diri individu tersebut.
Dampak negatif yang kedua, FOMO dapat menciptakan gaya hidup yang konsumtif. Agar tidak ketinggalan sebuah tren, seseorang rela untuk mengeluarkan uangnya demi membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Sebagai contoh, berbelanja pada saat promo flash sale, membeli tiket konser, hingga nongkrong di kafe tertentu, sering kali dijadikan tolok ukur dari sebuah eksistensi individu. Alhasil, gaya hidup seorang individu menjadi boros. Ia membeli sebuah barang bukan karena sebuah kebutuhan, namun karena hasrat takut akan ketertinggalan.
ADVERTISEMENT
Dampak negatif ketiga, FOMO dapat menurunkan kualitas interaksi antar individu. Alih-alih menikmati sebuah kebersamaan, seorang individu lebih disibukkan untuk memikirkan update-an yang ada di media sosialnya ketika sedang berkumpul bersama teman-temannya di sebuah tempat. Seorang individu lebih memilih untuk sibuk memantau gawainya ketimbang berbincang-bincang dengan teman seperkumpulannya. Lambat laun, hal ini dapat melemahkan kualitas ikatan sosial dalam sebuah lingkaran sosial.

Budaya Baru yang Membentuk, tapi Juga Menghantui

FOMO memiliki dampak positif dan dampak negatif. Di satu sisi, FOMO merupakan energi yang menjadi pendorong bagi seorang individu untuk “tersambung” dalam lingkaran sosialnya dan juga menjadi pendorong seorang individu untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Namun, di sisi lain, FOMO juga memiliki dampak negatif yang terbilang berbahaya, terutama ketika FOMO telah menjelma sebagai sebuah gaya hidup. Memang, apabila FOMO telah menjelma sebagai gaya hidup, itu dengar sepele. Namun, dari situlah FOMO dapat berubah menjadi sebuah permasalahan sosial yang serius.
ADVERTISEMENT
Bayangkan saja apabila generasi muda terus-terusan dibentuk oleh rasa takut dan cemas akan ketertinggalan sebuah tren, informasi, maupun prestasi. Hal ini dapat membuat generasi muda akan sulit membangun identitas diri yang kuat. Kehidupan generasi muda akan selalu ditentukan oleh sebuah tren, bukan oleh kebutuhan dan tujuan personal. Inilah bahayanya: masyarakat (terutama generasi muda) dapat kehilangan kendali atas dirinya sendiri, karena mereka dikendalikan oleh derasnya arus informasi.

Mengelola FOMO dengan Bijak

Haruslah diakui bahwa budaya FOMO tidak bisa dihilangkan begitu saja. Budaya FOMO lahir dari sebuah perkembangan teknologi dan kebutuhan sosial umat manusia. Langkah yang bisa kita lakukan hanyalah mengelolanya dengan bijak. Maka dari itu, penting kiranya bagi kita untuk menumbuhkan sebuah kesadaran dalam menggunakan teknologi secara sehat. Seorang individu perlu mengetahui bahwa tidak semua tren yang beredar harus diikuti, tidak semua notifikasi perlu ditanggapi, dan tidak semua hal yang terpampang di layar gawai merupakan refleksi dari kenyataan.
ADVERTISEMENT
Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa literasi digital itu amatlah penting. Kita perlu memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja. Sehingga, kita dapat lebih kritis, tidak terjebak dalam arus FOMO, serta dapat memilah arus FOMO yang berpotensi memberikan dampak negatif kepada kita. Selain itu, penting rasanya bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah mengikuti sesuatu memanglah bermanfaat, atau kita hanya sedang mengikuti arus eksistensi semu.
Pada akhirnya, di zaman kemajuan teknologi digital ini, hal yang lebih penting bukanlah sekadar mengikuti tren yang sedang ramai, melainkan mengetahui kapan kita harus berhenti mengikuti sebuah tren, serta menghindari tren yang berpotensi memiliki dampak negatif bagi diri kita. Di balik setiap tren yang menciptakan ke-FOMO-an, kita selalu dipaksa untuk berlari mengikuti tren tersebut. Padahal, ada kebutuhan mendasar dari diri manusia yang sejatinya harus selalu diingat: hidup tenang, autentik, dan selaras dengan diri sendiri.
ADVERTISEMENT