Konten dari Pengguna

Nasionalisme dan Diaspora: Menjaga Indonesia di Luar Batas Negeri

Muhammad Gumilar Mulyana
Seorang lulusan baru dari program studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang dan seorang penulis junior di suatu lembaga kajian bernama "Lingkar Kajian Kolaboratif".
24 Agustus 2025 0:36 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Nasionalisme dan Diaspora: Menjaga Indonesia di Luar Batas Negeri
Diaspora Indonesia menunjukkan bahwa nasionalisme tak kenal batas. Dari festival budaya hingga remitansi, mereka menjaga identitas dan kontribusi bagi tanah air.
Muhammad Gumilar Mulyana
Tulisan dari Muhammad Gumilar Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Warga Indonesia yang Rindu Pulang ke Indonesia (Foto dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Warga Indonesia yang Rindu Pulang ke Indonesia (Foto dibuat dengan AI)
ADVERTISEMENT
Nasionalisme yang sering terbayang di benak kita adalah upacara bendera, lagu kebangsaan, atau simbol-simbol negara. Namun, nasionalisme sebenarnya jauh lebih luas daripada itu. Ia juga hidup di luar negeri, di antara diaspora Indonesia yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka bukan sekadar pekerja migran, pelajar, atau profesional di mancanegara. Mereka adalah wajah Indonesia di panggung global.
ADVERTISEMENT
Banyak yang mengira nasionalisme hanya bisa diwujudkan di tanah air. Padahal, diaspora Indonesia justru memperlihatkan betapa nasionalisme bisa melintasi batas geografis. Ketika pekerja migran di Hong Kong saling membantu sesama WNI yang kesulitan, itu bentuk nyata solidaritas kebangsaan. Saat mahasiswa Indonesia di Eropa mengadakan festival budaya, memperkenalkan batik, makanan nusantara, atau gamelan, mereka sedang meneguhkan identitas Indonesia di mata dunia.
Di ruang-ruang itu, nasionalisme bukan lagi soal seremonial, tetapi tentang bagaimana menjaga nama baik bangsa, memperkuat jejaring, dan menularkan kebanggaan menjadi orang Indonesia.

Diaspora sebagai Jembatan Global

Dalam era globalisasi, diaspora memegang peran penting sebagai jembatan antara Indonesia dengan dunia. Para profesional di Silicon Valley, akademisi di universitas-universitas internasional, hingga pengusaha Indonesia di luar negeri menjadi duta tidak resmi yang memperkenalkan kapasitas bangsa. Mereka menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya konsumen budaya global, tetapi juga mampu menjadi produsen pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
ADVERTISEMENT
Bahkan, kontribusi diaspora terasa konkret secara ekonomi. Remitansi dari pekerja migran Indonesia, misalnya, menyumbang miliaran dolar ke kas negara setiap tahunnya. Itu bukan hanya soal transfer uang, melainkan bukti bahwa cinta tanah air bisa hadir dalam bentuk yang sangat praktis.

Nasionalisme di Antara Rindu dan Identitas

Namun, hidup di luar negeri tidak selalu mudah. Diaspora sering menghadapi dilema identitas. Di satu sisi, mereka berusaha beradaptasi dengan budaya setempat; di sisi lain, mereka ingin tetap menjaga jati diri Indonesia. Rindu pada tanah air kadang menjadi energi untuk merawat nasionalisme. Itulah mengapa di banyak negara, komunitas diaspora Indonesia begitu aktif menggelar acara kebudayaan, peringatan Hari Kemerdekaan, atau sekadar kumpul-kumpul untuk memasak rendang dan soto.
ADVERTISEMENT
Di momen-momen sederhana itu, nasionalisme menemukan bentuknya yang paling tulus: rasa memiliki terhadap tanah air yang jauh dari jangkauan.

Nasionalisme Tanpa Batas

Benedict Anderson pernah menyebut bangsa sebagai imagined community—sebuah komunitas yang dibayangkan, diikat oleh rasa kebersamaan meski anggotanya tidak saling kenal. Dalam konteks diaspora, imajinasi itu semakin nyata. Mereka membayangkan Indonesia bukan sekadar wilayah di peta, tetapi juga sebagai identitas yang terus melekat di hati, meski mereka tinggal ribuan kilometer dari tanah air.
Hal ini juga menunjukkan bahwa nasionalisme tidak harus eksklusif atau sempit. Justru, nasionalisme yang sehat mampu berdialog dengan dunia, membuka diri pada perbedaan, tanpa kehilangan akar budaya. Diaspora Indonesia adalah contoh nyata dari nasionalisme kosmopolit: menjadi bagian dari dunia sekaligus tetap setia pada identitas bangsa.
ADVERTISEMENT

Menjadikan Diaspora Mitra Bangsa

Sayangnya, peran diaspora sering kali kurang diperhatikan oleh negara. Padahal, banyak negara lain seperti India, Tiongkok, atau Filipina justru menjadikan diaspora sebagai kekuatan strategis pembangunan. Indonesia seharusnya belajar untuk lebih serius menggandeng diaspora—bukan hanya saat butuh remitansi, tapi juga sebagai mitra dalam inovasi, diplomasi, dan promosi budaya.
Generasi muda diaspora, misalnya, bisa menjadi agen perubahan yang menjembatani Indonesia dengan perkembangan global. Dengan akses mereka terhadap teknologi, pendidikan, dan jaringan internasional, mereka bisa memperkaya wawasan bangsa, sekaligus membawa suara Indonesia ke forum dunia.

Nasionalisme Diaspora: Membebaskan, Bukan Membatasi

Pada akhirnya, nasionalisme diaspora mengajarkan kita bahwa cinta tanah air tidak harus diekspresikan dengan cara-cara lama. Nasionalisme bisa hadir dalam bentuk solidaritas antarpekerja migran, kontribusi akademis di kampus luar negeri, atau sekadar memperkenalkan batik di festival budaya. Semua itu adalah ekspresi nasionalisme yang membebaskan—nasionalisme yang tidak membatasi diri dengan simbol formal, melainkan memberi ruang untuk berkreasi dan berkontribusi.
ADVERTISEMENT
Jika nasionalisme di tanah air kadang terasa semu karena dibajak oleh elit politik, maka nasionalisme diaspora justru menunjukkan wajah yang lebih jujur. Ia lahir dari kerinduan, kerja keras, dan kebanggaan yang sederhana, tapi tulus.
Indonesia butuh nasionalisme yang lentur, mampu menyesuaikan diri dengan tantangan zaman. Diaspora memberi pelajaran bahwa nasionalisme tidak mengenal batas teritorial. Selama ada cinta, solidaritas, dan kontribusi nyata, nasionalisme akan selalu hidup, bahkan jauh di negeri orang.
Mungkin, di masa depan, wajah baru nasionalisme Indonesia justru akan banyak ditentukan oleh mereka yang berada di luar batas negeri—para diaspora yang dengan caranya sendiri terus menjaga Indonesia tetap hidup dalam hati dunia.