Konten dari Pengguna
Nasionalisme Indonesia di Era Globalisasi: Dari Seremoni ke Aksi Nyata
24 Agustus 2025 0:01 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Nasionalisme Indonesia di Era Globalisasi: Dari Seremoni ke Aksi Nyata
Nasionalisme sejati bukan sekadar upacara bendera, tapi keberanian generasi muda mencipta keadilan dan solidaritas di tengah globalisasi.Muhammad Gumilar Mulyana
Tulisan dari Muhammad Gumilar Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
17 Agustus, kita terbiasa melihat bendera Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan berkumandang, dan berbagai perlombaan rakyat digelar. Pada momen itu, rasa nasionalisme biasanya meledak di dada. Namun, setelah upacara selesai, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah nasionalisme kita masih hidup dalam keseharian, atau hanya sebatas seremoni tahunan?
ADVERTISEMENT
Sejak awal, nasionalisme di Indonesia punya wajah yang penuh warna. Pada masa kolonial, nasionalisme menjadi energi pemersatu untuk melawan penjajah. Sumpah Pemuda 1928 adalah bukti nyata bagaimana sekat etnis, bahasa, dan agama bisa dilebur demi satu tujuan: Indonesia merdeka. Benedict Anderson, seorang ilmuwan politik, pernah menyebut bangsa sebagai "imagined community"—komunitas yang dibayangkan. Artinya, meskipun kita tidak saling kenal, ada rasa terikat sebagai satu bangsa. Di Indonesia, ikatan itu lahir dari bahasa, sejarah, dan simbol-simbol kebangsaan.
Namun, setelah hampir delapan dekade merdeka, wajah nasionalisme kita mengalami pergeseran. Ia sering dijadikan jargon politik oleh elit, tetapi pada saat yang sama justru dipraktikkan secara lebih tulus oleh masyarakat biasa. Fenomena ini terlihat jelas di masa pandemi Covid-19. Solidaritas gotong royong antarwarga tumbuh di mana-mana: dari penggalangan dana online, dapur umum, hingga distribusi masker dan obat-obatan. Itu semua adalah ekspresi nasionalisme kultural yang lahir dari bawah, bukan dari pidato politik di televisi.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana nasionalisme sering dipakai sebagai alat kekuasaan. Simbol-simbol kebangsaan seperti Pancasila atau slogan “Cinta NKRI” kadang dijadikan tameng untuk membungkam kritik. Ironisnya, rakyat diminta untuk setia kepada negara, sementara praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme terus merajalela. Menurut data Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2024 masih berada di angka 37/100, peringkat 99 dari 180 negara. Angka ini menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia masih memandang institusi negara dengan penuh kecurigaan.
Di tengah situasi seperti ini, muncul pertanyaan: apa arti nasionalisme di era globalisasi? Apakah masih relevan, atau sudah usang?
Nasionalisme di Era Digital
Globalisasi membuat batas-batas negara menjadi semakin kabur. Budaya asing masuk lewat film, musik, dan media sosial. E-commerce membuat produk luar lebih mudah diakses daripada produk lokal. Revolusi digital mengubah cara kita berinteraksi, bahkan membentuk “imagined community" baru yang lintas negara.
ADVERTISEMENT
Namun, justru di sinilah nasionalisme menemukan bentuk barunya. Nasionalisme tidak lagi sekadar soal mengibarkan bendera atau ikut upacara, tetapi juga tentang bagaimana kita memberi ruang bagi identitas Indonesia di dunia global. Contohnya, ketika produk lokal berhasil viral di TikTok, atau saat tim e-sports Indonesia mengharumkan nama bangsa di ajang internasional, ada rasa kebanggaan yang muncul. Itu juga nasionalisme, meskipun lahir di ruang digital.
Generasi Muda sebagai Motor Perubahan
Dalam konteks ini, generasi muda menjadi aktor kunci. Mereka bukan hanya pewaris nasionalisme lama, tapi juga pencipta makna baru. Nasionalisme bagi anak muda bisa berarti banyak hal: memilih untuk mendukung UMKM lokal, mengkampanyekan isu lingkungan, hingga menginisiasi gerakan sosial lewat media sosial.
ADVERTISEMENT
Contoh sederhana adalah kampanye “Bangga Buatan Indonesia” yang ramai beberapa tahun terakhir. Di tangan generasi muda, kampanye ini bukan sekadar program pemerintah, melainkan gaya hidup. Belanja produk lokal dianggap keren, bahkan prestisius. Ini menunjukkan bahwa nasionalisme bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, generasi muda juga menghadapi tantangan besar. Politik identitas berbasis agama atau etnis masih kerap dipakai untuk memecah belah masyarakat. Narasi nasionalisme sering kali dibajak untuk kepentingan kekuasaan. Jika anak muda tidak kritis, nasionalisme bisa kembali direduksi menjadi alat retorika kosong.
Dari Simbol ke Substansi
Seorang filsuf, Franz Magnis-Suseno, pernah mengingatkan bahwa negara hanya berhak menuntut loyalitas dari rakyat apabila negara berlaku adil dan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dalam konteks hari ini, hal itu berarti nasionalisme tidak boleh berhenti pada simbolisme semata. Nasionalisme yang sejati harus menjadi semangat kolektif untuk menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, kita masih sering terjebak pada simbol. Upacara bendera penting, tapi nasionalisme tidak berhenti di sana. Menyanyikan lagu kebangsaan itu mulia, tapi jauh lebih mulia bila kita bisa memastikan tetangga tidak kelaparan. Membentangkan spanduk cinta NKRI itu bagus, tapi lebih bagus lagi bila pejabat publik bisa menekan angka korupsi yang merugikan rakyat.
Nasionalisme yang Membebaskan
Pada akhirnya, nasionalisme Indonesia harus bertransformasi dari nasionalisme seremonial menjadi nasionalisme yang membebaskan. Nasionalisme yang membebaskan artinya bukan sekadar cinta tanah air secara abstrak, tapi cinta yang diwujudkan dalam aksi nyata: melindungi yang lemah, menciptakan keadilan, dan membuka ruang bagi kreativitas anak bangsa.
Kita tentu tidak bisa menutup diri dari globalisasi. Namun, globalisasi tidak harus berarti kehilangan jati diri. Dengan nasionalisme yang sehat, Indonesia justru bisa lebih percaya diri menghadapi dunia. Kuncinya ada pada generasi muda—mereka yang berani mengkritik, berani berinovasi, dan berani menuntut perubahan.
ADVERTISEMENT
Nasionalisme masa depan Indonesia tidak lagi hanya berdiri di atas simbol, melainkan di atas tindakan nyata. Dari solidaritas sosial, dukungan terhadap produk lokal, hingga keberanian melawan ketidakadilan, di situlah nasionalisme menemukan wajah barunya.
Mungkin inilah saatnya kita bertanya: sudahkah nasionalisme kita benar-benar membebaskan, atau masih sekadar membebani? Jawaban atas pertanyaan itu ada di tangan kita semua.

