Konten dari Pengguna

Mengapa Ibu Disebut Madrasatul Ula? Jawabannya Ada di Keseharian Kita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Hafiidhul Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ini menampilkan suasana hangat di dalam rumah, di mana seorang ibu berhijab dan anak laki-lakinya sedang bermain balok alfabet bersama, lengkap dengan teks judul artikel di bagian atas yang berbunyi, "Mengapa Ibu Disebut 'Madrasatul Ula'? Jawabannya Ada di Keseharian Kita." Latar belakang ruangan dipenuhi dengan jendela besar yang memberikan cahaya alami, rak buku yang rapi, serta pigura foto keluarga di dinding, menciptakan kesan harmoni dan kasih sayang dalam pendidikan awal sang anak. Di bagian bawah gambar terdapat logo Kumparan serta label kategori artikel "Gaya Hidup" dan "Opini," yang semakin memperkuat identitas ilustrasi ini sebagai gambar fitur untuk sebuah artikel populer. Sumber/Kredit Gambar: Generasi AI (Gemini)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ini menampilkan suasana hangat di dalam rumah, di mana seorang ibu berhijab dan anak laki-lakinya sedang bermain balok alfabet bersama, lengkap dengan teks judul artikel di bagian atas yang berbunyi, "Mengapa Ibu Disebut 'Madrasatul Ula'? Jawabannya Ada di Keseharian Kita." Latar belakang ruangan dipenuhi dengan jendela besar yang memberikan cahaya alami, rak buku yang rapi, serta pigura foto keluarga di dinding, menciptakan kesan harmoni dan kasih sayang dalam pendidikan awal sang anak. Di bagian bawah gambar terdapat logo Kumparan serta label kategori artikel "Gaya Hidup" dan "Opini," yang semakin memperkuat identitas ilustrasi ini sebagai gambar fitur untuk sebuah artikel populer. Sumber/Kredit Gambar: Generasi AI (Gemini)

Ketika mendengar istilah madrasatul ula, mungkin sebagian orang langsung teringat pada sosok ibu. Dalam bahasa Arab, madrasatul ula berarti “sekolah pertama”. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan peran ibu sebagai orang pertama yang memberikan pendidikan kepada anak. Namun, mengapa ibu disebut sebagai sekolah pertama? Jawabannya sebenarnya tidak selalu berada di dalam buku atau ruang kelas. Kita dapat menemukannya dalam hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari.

Sejak kecil, seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga, terutama dengan ibu. Sebelum mengenal guru di sekolah, anak biasanya sudah lebih dahulu mengenal suara, kebiasaan, dan sikap ibunya di rumah. Dari sinilah proses pendidikan sebenarnya dimulai. Bahkan, banyak hal yang pertama kali dipelajari seorang anak bukan berasal dari pelajaran tertulis, melainkan dari apa yang ia lihat dan rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya sangat sederhana. Ketika seorang ibu mengajarkan anak untuk mengucapkan salam saat bertemu orang lain, mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan, atau meminta maaf ketika melakukan kesalahan, sebenarnya saat itu ibu sedang memberikan pendidikan. Anak mungkin belum memahami bahwa hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter. Namun, kebiasaan yang dilakukan berulang kali dapat menjadi bagian dari perilakunya ketika ia tumbuh.

Begitu juga ketika ibu mengajarkan anak untuk beribadah. Mengajak salat, mengingatkan untuk membaca Al-Qur’an, mengajarkan doa sebelum makan, atau sekadar mengingatkan untuk bersyukur merupakan bentuk pendidikan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama tidak selalu dimulai dari penjelasan yang panjang. Terkadang, anak justru belajar melalui contoh yang diberikan oleh orang terdekatnya.

Di sinilah letak pentingnya keteladanan seorang ibu. Anak tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan, tetapi juga memperhatikan apa yang dilakukan. Jika seorang ibu membiasakan berbicara dengan sopan, anak akan belajar bahwa berbicara dengan baik merupakan sesuatu yang penting. Jika ibu membiasakan menghargai orang lain, anak pun perlahan belajar untuk melakukan hal yang sama.

Pendidikan seperti ini sering kali berlangsung tanpa disadari. Ketika ibu mengajarkan anak merapikan tempat tidur, menyimpan barang pada tempatnya, membantu pekerjaan rumah, atau menjaga kebersihan, sebenarnya anak sedang belajar tentang tanggung jawab. Ketika ibu mengajarkan anak untuk berbagi makanan dengan saudaranya, anak sedang belajar tentang kepedulian. Ketika ibu mengingatkan anak agar tidak berbohong, anak sedang belajar tentang kejujuran.

Hal-hal tersebut terlihat sederhana karena menjadi bagian dari rutinitas. Namun, justru dari kebiasaan kecil itulah karakter seorang anak perlahan terbentuk. Apa yang dilakukan berulang-ulang di rumah dapat terbawa ketika anak berada di sekolah, berteman dengan orang lain, hingga memasuki lingkungan masyarakat.

Peran ibu sebagai madrasatul ula juga tidak berarti bahwa pendidikan anak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Ayah, keluarga, guru, dan lingkungan juga memiliki peran yang sangat penting. Istilah tersebut lebih menunjukkan bahwa ibu dan keluarga menjadi salah satu lingkungan pendidikan paling awal bagi seorang anak. Sebelum mendapatkan berbagai ilmu dari sekolah formal, anak terlebih dahulu mendapatkan pengalaman dari rumah.

Jika dipikirkan kembali, banyak pelajaran yang kita bawa hingga dewasa sebenarnya berawal dari rumah. Cara berbicara, cara menghormati orang yang lebih tua, cara memperlakukan teman, kebiasaan beribadah, hingga cara menghadapi masalah sering kali memiliki kaitan dengan apa yang pernah kita lihat dan pelajari sejak kecil.

Menariknya, seorang ibu tidak harus selalu memberikan nasihat panjang untuk menjadi seorang pendidik. Terkadang, cukup dengan memberikan contoh. Ketika ibu tetap sabar menghadapi masalah, anak belajar tentang kesabaran. Ketika ibu tetap berusaha meskipun menghadapi kesulitan, anak belajar tentang keteguhan. Ketika ibu menunjukkan kepedulian kepada keluarga, anak belajar bahwa kasih sayang dapat diwujudkan melalui tindakan.

Karena itu, menyebut ibu sebagai madrasatul ula bukan sekadar memberikan sebuah gelar. Di balik istilah tersebut terdapat penghargaan terhadap peran ibu dalam membentuk dasar kepribadian seorang anak. Pendidikan pertama tidak selalu hadir dalam bentuk pelajaran dan tugas, tetapi melalui kebiasaan, perkataan, sikap, dan contoh yang setiap hari dilihat oleh anak.

Pada akhirnya, jawaban mengapa ibu disebut madrasatul ula sebenarnya dapat kita temukan dalam keseharian. Dari rumah, seorang anak pertama kali belajar mengenal kasih sayang, sopan santun, tanggung jawab, kejujuran, agama, dan berbagai nilai kehidupan. Semua itu mungkin terlihat kecil ketika dilakukan, tetapi dapat menjadi bekal yang besar bagi kehidupan anak di masa depan.

Maka, sebelum seorang anak mengenal sekolah dengan papan tulis, buku pelajaran, dan guru di depan kelas, ia sebenarnya telah lebih dahulu mengenal “sekolah” pertamanya di rumah. Dan di dalam sekolah pertama itu, ibu menjadi salah satu sosok yang paling awal mengajarkan bagaimana cara seorang anak mengenal dunia dan menjalani kehidupan.