Konten dari Pengguna

Pengalaman dari Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, Skouw–Wutung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sahashika Sudantha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Gedung PLBN Skouw, Indonesia. Dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Foto Gedung PLBN Skouw, Indonesia. Dokumentasi pribadi.

Pengalaman yang menarik dari ditempatkan di Papua adalah kesempatan untuk melihat Indonesia dari sudut yang berbeda. Bukan hanya karena bentang alam dan keragaman budayanya, melainkan juga karena di tanah ini, kita dapat berdiri di satu negara dan hanya dengan berjalan beberapa langkah saja kita sudah tiba di negara lain.

Kesempatan itulah yang saya dapatkan ketika berkunjung ke Skouw, kawasan perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini (Papua New Guinea atau biasa disingkat PNG), pada Kamis hingga Sabtu pekan lalu (8-10 Oktober 2026). Kunjungan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan saya di salah satu perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua dalam kegiatan Border Trade Fair RI–PNG.

Selama kegiatan berlangsung, saya bersama rekan-rekan dari Bank Indonesia menyosialisasikan sejumlah hal yang berkaitan dengan tugas dan kewenangan Bank Indonesia, termasuk pentingnya penggunaan rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pesan ini menjadi semakin relevan mengingat Skouw merupakan kawasan perbatasan yang mempertemukan aktivitas perdagangan dan masyarakat dari dua negara dengan mata uang berbeda, yakni rupiah dan kina.

Sebetulnya, ada banyak hal menarik yang ingin saya bahas mengenai penggunaan kina di wilayah Indonesia, termasuk bagaimana transaksi perdagangan berlangsung ketika dua mata uang saling berhadapan di satu kawasan. Namun, persoalan tersebut rasanya cukup menarik untuk menjadi tulisan tersendiri. Untuk kali ini, saya ingin terlebih dahulu berbagi pengalaman yang lebih sederhana: bagaimana rasanya menyeberang ke Papua Nugini, negara tetangga di timur Indonesia.

Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini

Tampak depan gapura PLBN Skouw. Dokumentasi pribadi.

Salah satu hal pertama yang menarik perhatian saya adalah perbedaan wajah perbatasan kedua negara. Dari sisi Indonesia, kita disambut oleh bangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw yang terbilang megah. Arsitekturnya tertata, bangunannya besar, dan fasilitasnya memberikan kesan sebagai pintu gerbang resmi sebuah negara.

Namun, begitu melintasi perbatasan menuju Wutung, Papua Nugini, suasananya terasa cukup berbeda. Bangunan pemeriksaan imigrasi di sisi PNG tampak jauh lebih sederhana dibandingkan dengan bangunan yang baru saja saya lewati. Kontras ini cukup mencolok, terlebih karena keduanya hanya dipisahkan oleh jarak yang relatif dekat.

Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari bangunannya, tetapi juga dari aktivitas yang menyambut pengunjung. Di sisi Indonesia, keberadaan aparat keamanan dan fasilitas pemerintahan cukup menonjol. Sementara itu, tidak jauh setelah melewati pemeriksaan di sisi Papua Nugini, saya justru langsung dihadapkan pada deretan pedagang yang menawarkan berbagai barang dagangan.

Ada kemeja santai bergaya pantai, topi, gantungan kunci, payung, hingga berbagai cendera mata dengan ornamen khas Papua Nugini. Menariknya, sebagian besar barang tersebut didominasi oleh warna merah, selaras dengan salah satu warna utama bendera negara mereka. Bendera mereka yang dihiasi dengan burung cenderawasih yang menjadi lambang nasional Papua Nugini juga cukup sering dijumpai pada berbagai dagangan yang dijual.

Tidak jauh dari sana, beberapa pedagang turut menawarkan olahan daging, termasuk daging domba yang tampak kemerahan. Saya tidak begitu mengetahui bumbu atau cara pengolahannya, tetapi aroma yang tercium dari lapak-lapak tersebut cukup khas. Bahkan, jika harus menyebutkan satu hal yang sulit saya lupakan dari kunjungan singkat itu, barangkali aroma makanan di kawasan perbatasan menjadi salah satunya.

Pasar Skouw dan Dinamika Perekonomian di Perbatasan

Barang dagangan masyarakat Papua Nugini. Dokumentasi pribadi.

Aktivitas perdagangan lintas negara sebenarnya telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan Skouw–Wutung. Di sisi Indonesia, terdapat Pasar Skouw yang menjadi salah satu tujuan belanja masyarakat Papua Nugini, khususnya mereka yang tinggal di sekitar Wutung.

Pasar ini memiliki hari-hari perdagangan tertentu (disebut sebagai Hari Pasar), di antaranya pada hari Kamis dan Sabtu, ketika aktivitas pasar sangatlah aktif dan terbuka. Berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan, elektronik, hingga perlengkapan rumah tangga semuanya menjadi bagian dari komoditas yang diperjualbelikan.

Bagi masyarakat Papua Nugini yang tinggal di sekitar perbatasan, berbelanja ke wilayah Indonesia merupakan bagian dari hiburan. Kedekatan geografis, ketersediaan barang, dan perbedaan harga menjadi sejumlah faktor yang membuat Pasar Skouw memiliki daya tarik tersendiri.

Dari sini, saya mulai melihat bahwa hubungan Indonesia dan Papua Nugini tidak hanya dapat dipahami melalui hubungan diplomatik antarpemerintah. Hubungan tersebut juga terbangun dari interaksi ekonomi yang berlangsung hampir setiap hari, ketika masyarakat dari kedua negara saling memenuhi kebutuhannya.

Tentu, dari sudut pandang Bank Indonesia, terdapat satu hal yang menarik untuk dicermati lebih jauh, yakni bagaimana rupiah dan kina digunakan dalam aktivitas perdagangan di kawasan ini. Misalnya, kita bisa melihat apakah masyarakat lebih memilih salah satu mata uang, bagaimana pedagang menentukan nilai tukarnya, dan sejauh mana penggunaan mata uang asing memengaruhi kebiasaan pembayaran di sisi Indonesia.

Menikmati Vanimo dari Ketinggian Wutung

Pemandangan Vanimo dari Wutung, Papua Nugini. Dokumentasi pribadi.

Setelah berjalan melewati kawasan perdagangan di Wutung, saya menyempatkan diri mengunjungi salah satu tempat wisata yang cukup dikenal oleh pengunjung perbatasan. Lokasinya berupa kawasan pandang di tepi ketinggian yang menghadap ke arah pesisir Vanimo, salah satu kota di Papua Nugini yang letaknya tidak terlalu jauh dari wilayah perbatasan Indonesia.

Dari tempat tersebut, kita dapat menikmati hamparan laut dan kawasan pesisir yang tampak dari kejauhan. Pemandangannya cukup indah, dengan garis pantai yang membentang dan perbukitan hijau yang mengelilinginya.

Di kawasan ini juga terdapat dua bendera Papua Nugini yang berkibar dan menjadi salah satu titik favorit pengunjung untuk berfoto. Bagi saya, berdiri di sana memberikan pengalaman yang sedikit berbeda. Di satu sisi, saya masih dapat merasakan kedekatan geografis dengan Indonesia, namun di sisi lain, bendera yang berkibar dan suasana di sekitar mengingatkan bahwa saya sedang berada di negara yang berbeda.

Di sekitar tempat wisata, pengunjung dapat membeli berbagai makanan dan minuman. Salah satunya adalah olahan daging domba yang dijual tidak jauh dari titik pandang. Sementara itu, bagi yang ingin mencoba sesuatu yang sedikit berbeda, tersedia Fanta rasa nanas, varian yang cukup menarik perhatian saya karena tidak lazim dijumpai dalam keseharian di Indonesia.

Untuk memasuki kawasan tersebut, saya membayar biaya sebesar Rp25.000 melalui QRIS kepada pengelola setempat yang merupakan warga Papua Nugini. Hal ini cukup menarik karena di tengah perbedaan negara dan mata uang, transaksi digital yang begitu akrab digunakan di Indonesia ternyata juga dapat saya manfaatkan dalam pengalaman singkat tersebut.

Perbedaan Indonesia dan Papua Nugini

Pintu masuk ke tempat wisata di Witung, Papua Nugini. Dokumentasi pribadi.

Hal menarik lainnya selama berada di Wutung adalah kesempatan untuk mengamati masyarakat yang saya temui di sepanjang kawasan perbatasan.

Secara geografis dan historis, masyarakat di kedua sisi Pulau Papua tentu memiliki banyak kedekatan, termasuk dalam aspek budaya dan hubungan kekerabatan. Namun, dari interaksi singkat saya, terdapat sejumlah hal yang membuat suasana di Wutung terasa berbeda dengan apa yang biasa saya jumpai di Jayapura.

Salah satunya adalah cara masyarakat menampilkan identitas kebangsaannya. Beberapa orang mengenakan pakaian dengan warna dan ornamen yang mengingatkan pada bendera Papua Nugini. Warna merah tampak cukup menonjol, baik pada pakaian maupun barang-barang yang dijual. Saya juga menjumpai beberapa orang dengan tato yang terlihat jelas pada bagian tubuh mereka, serta gaya berpakaian yang memberikan kesan tersendiri.

Tentu pengamatan tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh masyarakat Papua Nugini. Keragaman masyarakat di negara ini sangat luas, sehingga pengalaman saya di Wutung hanyalah potret kecil dari kehidupan di kawasan perbatasan. Namun, justru melalui hal-hal sederhana itulah saya mulai merasakan adanya perbedaan kebiasaan dan ekspresi budaya antara masyarakat yang tinggal di dua sisi batas negara.

Perbedaan lainnya yang cukup menarik perhatian saya adalah bahasa. Sebagian masyarakat yang saya temui mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, mulai dari beberapa kata sederhana hingga percakapan yang cukup lancar. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan mengingat intensitas perdagangan dan interaksi dengan masyarakat Indonesia yang telah berlangsung cukup lama.

Namun, ketika berbicara di antara sesama mereka, saya lebih sering mendengar bahasa yang terdengar seperti bahasa Inggris, tetapi dengan pengucapan dan susunan kata yang berbeda. Bahasa tersebut dikenal sebagai Tok Pisin, salah satu bahasa resmi sekaligus bahasa penghubung yang paling luas digunakan di Papua Nugini, di samping bahasa Inggris dan Hiri Motu.

Tok Pisin berkembang dari interaksi bahasa Inggris dengan berbagai bahasa lain, termasuk bahasa-bahasa lokal. Karena itu, sebagian kosakatanya terdengar cukup akrab bagi penutur bahasa Inggris, meskipun struktur dan penggunaannya memiliki karakteristik tersendiri. Misalnya, kata house dalam bahasa Inggris menjadi haus dalam Tok Pisin, sementara water menjadi wara, sedangkan thank you diucapkan tenkyu.

Bagi saya, bahasa ini cukup menarik karena sekilas terdengar familiar, tetapi tidak terlalu mudah dipahami. Kita mungkin dapat menebak arti beberapa kata, namun belum tentu memahami keseluruhan percakapannya. Menarik pula bahwa Papua Nugini memiliki lebih dari 800 bahasa lokal. Di tengah keragaman tersebut, keberadaan Tok Pisin menjadi salah satu sarana penting yang memungkinkan masyarakat dari berbagai latar belakang bahasa tetap dapat berkomunikasi satu sama lain.

Lebih dari Sekadar Wilayah Perbatasan

Pintu masuk dari Papua Nugini menuju Indonesia. Dokumentasi pribadi.

Kunjungan singkat ke Skouw dan Wutung memberikan kesan yang cukup mendalam bagi saya. Semula, saya datang untuk menjalankan tugas dalam kegiatan Border Trade Fair: RI–PNG. Namun, dari kesempatan tersebut, saya justru memperoleh pengalaman yang memperluas cara pandang saya mengenai kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan.

Saya melihat dua bangunan imigrasi dengan karakteristik berbeda, para pedagang yang menawarkan barang dagangan khas negaranya, masyarakat yang berbicara menggunakan bahasa yang belum pernah saya dengar secara langsung, serta sebuah titik wisata sederhana yang memperlihatkan keindahan pesisir Vanimo.

Namun, dari seluruh pengalaman tersebut, ada satu hal yang menurut saya lebih penting daripada sekadar perbedaan yang terlihat di permukaan: Indonesia dan Papua Nugini memang merupakan dua negara yang memiliki bahasa, mata uang, dan sistem pemerintahan berbeda. Akan tetapi, masyarakat yang hidup di sepanjang perbatasannya telah lama terhubung melalui sejarah, hubungan kekerabatan, kegiatan perdagangan, dan berbagai interaksi sosial yang tidak selalu dapat dipisahkan oleh garis batas negara.

Bagi masyarakat di kawasan ini, perbatasan bukan hanya tempat pemeriksaan paspor atau pergantian bendera. Perbatasan juga menjadi ruang untuk mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan membangun hubungan dengan masyarakat di seberangnya.

Karena itu, hubungan baik Indonesia dan Papua Nugini sudah sepatutnya terus dijaga dan diperkuat, tidak hanya melalui kerja sama antarpemerintah, tetapi juga melalui upaya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di kedua sisi perbatasan. Penguatan perdagangan, konektivitas, serta kemudahan interaksi yang tetap memperhatikan ketentuan masing-masing negara menjadi bagian penting dari upaya tersebut.