Konten dari Pengguna

Childfree: Antara Pilihan Hidup dan Beban Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Hafizhurrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi dibuat oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi dibuat oleh AI

Pilihan untuk tidak memiliki anak atau yang kini dikenal dengan istilah childfree semakin ramai diperbincangkan di kalangan generasi muda Indonesia. Bukan sekadar tren, fenomena ini mencerminkan pergeseran cara pandang masyarakat modern dalam memaknai arti sebuah keluarga dan tujuan hidup.

Childfree merujuk pada keputusan seseorang atau pasangan yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki keturunan. Berbeda dengan childless yang merujuk pada ketidakmampuan memiliki anak, childfree adalah pilihan aktif yang diambil dengan penuh pertimbangan. Perbedaan ini penting untuk dipahami agar masyarakat tidak salah kaprah dalam menyikapinya.

Bagi banyak orang, pertimbangan ekonomi menjadi faktor utama. Tingginya biaya hidup, besarnya tanggung jawab dalam mendidik anak, hingga ketidakpastian masa depan menjadi alasan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebuah studi dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia mencatat bahwa generasi muda perkotaan semakin mempertimbangkan aspek finansial secara matang sebelum memutuskan untuk berkeluarga. Tak sedikit pula yang memilih childfree demi menjaga kesehatan mental, mengembangkan karier, atau mengejar tujuan pribadi yang selama ini menjadi prioritas hidup mereka.

Namun di Indonesia, keputusan semacam ini masih kerap berbenturan dengan norma sosial yang mengakar kuat. Dalam banyak budaya lokal, pernikahan hampir selalu diidentikkan dengan kehadiran anak. Akibatnya, mereka yang memilih childfree sering menghadapi pertanyaan tak diundang "Kapan punya momongan?" atau pernyataan tegas bahwa memiliki anak adalah kewajiban setelah menikah. Tekanan semacam ini bukan hanya tidak nyaman, tetapi dalam jangka panjang juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis seseorang. Tekanan itu datang dari berbagai arah: keluarga besar, lingkaran pertemanan, hingga masyarakat luas. Individu yang memilih childfree kerap dicap egois, anti-keluarga, atau dinilai melawan kodrat. Dari sudut pandang psikologi, tekanan sosial semacam ini disebut sebagai social shaming sebuah bentuk penghakiman kolektif yang dapat memicu kecemasan, rasa bersalah, bahkan depresi pada individu yang menjadi sasarannya. Padahal, keputusan memiliki atau tidak memiliki anak adalah ranah paling personal yang berkaitan erat dengan kesiapan fisik, psikologis, dan kondisi hidup masing-masing orang. Perlu ditegaskan bahwa memilih childfree bukan berarti membenci anak-anak atau menolak nilai keluarga. Justru sebaliknya bagi sebagian orang, keputusan itu lahir dari kesadaran penuh bahwa menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar yang tidak boleh diambil sembarangan. Memaksakan diri memiliki anak tanpa kesiapan yang cukup justru berisiko lebih besar, baik bagi orang tua maupun anak itu sendiri.

Di sinilah pentingnya empati dan keterbukaan pikiran dalam menyikapi perbedaan pilihan hidup. Masyarakat perlu belajar bahwa menghargai pilihan orang lain bukan berarti menyetujuinya cukup dengan tidak menjadikannya bahan penghakiman. Ruang diskusi yang sehat dan inklusif perlu dibangun, di mana setiap orang merasa aman untuk berbicara tentang pilihan hidupnya tanpa takut dihakimi. Pada akhirnya, tolok ukur kehidupan yang bermakna tidak selalu diukur dari ada atau tidaknya anak. Setiap individu berhak menentukan jalan hidupnya sendiri termasuk memilih untuk tidak menjadi orang tua selama keputusan itu diambil dengan penuh tanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.

Childfree bukan berarti benci anak. Justru, ini adalah bentuk tanggung jawab karena sadar bahwa memaksakan diri menjadi orang tua tanpa kesiapan bisa berisiko bagi anak itu sendiri.