Doraemon Hilang dari RCTI: Analisis Elemen Kunci Programming

Mahasiswa Aktif, Fakultal Ilmu Komunikasi (Brodcasting), Univ. Pamulang
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Haikal Fatahillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan pada Minggu pagi, saat kita me time bersama keluarga berkumpul di depan televisi. Si adik bergegas mengambil remote untuk menyalakan saluran RCTI demi menyaksikan acara favoritnya. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, menonton Doraemon adalah sebuah rutinitas yang telah terjalin sejak dekade 1990-an. Karakter ini terus berkembang hingga menjadi salah satu program dengan durability paling mengagumkan di panggung penyiaran nasional.
Lebih dari tiga dekade menemani keluarga Indonesia, Doraemon secara resmi hilang dari jadwal siaran RCTI sejak akhir Desember 2025. Keputusan ini memicu beragam spekulasi penonton, terutama terkait isu rating. Namun, akan jadi terlalu sederhana jika persoalannya hanya sekadar rating.
Fenomena ini menarik dicermati bukan semata sebagai cerita kenapa Doraemon berhenti tayang, melainkan sebagai contoh pelajaran, bagaimana proses pertimbangan dan pengambilan keputusan tim Programming TV sangat berpengaruh dalam industri penyiaran.
Masalahnya kemudian bukan sekadar “Mengapa Doraemon berhenti tayang?”, tapi juga “Bagaimana sebuah program yang telah bertahan lebih dari tiga dekade, dinilai ulang ketika kondisi industri TV mengalami perubahan?”
Doraemon: Program dengan Durability Tinggi
Dalam Programming TV, terdapat sejumlah Elemen Kunci yang dapat memengaruhi keberhasilan sebuah program, salah satunya durability, yaitu kemampuan program mempertahankan daya tariknya dalam jangka panjang. Program dengan durability tinggi umumnya memiliki konsep yang memungkinkan variasi konten agar tetap menarik bagi audiens dari waktu ke waktu.
Doraemon menjadi contoh menarik. Sejak hadir di RCTI pada 1990, serial ini berkembang menjadi tontonan lintas generasi di Indonesia. Meski jadwal tayangnya beberapa kali berubah, Doraemon tetap bertahan hingga akhir 2025.
Namun, durability tidak menjamin sebuah program akan terus dipertahankan. Performa audiens, kejenuhan, perubahan demografi, jam tayang, hingga kebutuhan penyegaran konten dapat menjadi pertimbangan dalam keputusan programming.
Dengan demikian, durability menjelaskan bagaimana Doraemon mampu bertahan selama puluhan tahun, tetapi tidak cukup untuk menjelaskan mengapa program tersebut harus terus dipertahankan.
Consistency: Dilema Ekpektasi dan Perubahan
Selain durability, programming juga mengenal Consistency. Yaitu kemampuan program mempertahankan karakteristik dan ekpektasinya yang telah dibangun di hadapan penonton.
Kita mengingat sebuah program TV bukan hanya dari isinya, melainkan juga dari kebiasaan yang terbentuk berdasarkan waktu dan saluran tayangnya.
Doraemon punya keunggulan dalam aspek consistency. Selama bertahun-tahun, Doraemon identik ditayangkan di akhir pekan dan Minggu pagi sehingga ini menjadi bagian dari rutinitas sebagian penonton. Kondisi demikian menjelaskan respons emosional dari penonton jika program tersebut dihilangkan atau berubah jadwal tayangnya, sebab penonton telah terbiasa mengharapkan program tersebut hadir pada waktu yang sama secara berulang.
Namun, consistency juga punya tantangannya tersendiri
Stasiun TV tidak bisa mempertahankan program lama hanya demi menjaga ekpektasi penonton, Programmer tetap harus mengevaluasi dan menyusun ulang acara berdasarkan kondisi dan target pasar, serta kompetisi dan keputusan strategis stasiun. Karena itu terdapat semacam dilema tim programming: Antara mempertahankan ekpektasi penonton dan memberikan ruang bagi perubahan.
Timing & Trens Awareness: Perubahan Pola Konsumsi Audiens
Dalam programming, timing adalah kemampuan menempatkan program pada momentum yang sesuai, sedangkan trens awareness berkaitan dengan kemampuan programmer membaca perubahan tren dan preferensi audiens. Kedua elemen tersebut menjadi penting karena perilaku penonton tidak bersifat statis.
Ketika Doraemon pertama kali tayang di RCTI pada 1990, kondisi industri televisi jauh berbeda dibandingkan dengan hari ini.
Hari ini, pilihan media masyarakat jauh lebih beragam. Penonton tidak hanya disuguhkan dengan televisi konvensional, tetapi juga YouTube, layanan streaming, media sosial, dan berbagai platform digital yang memungkinkan seseorang menentukan sendiri kapan, di mana, dan apa yang ingin dia tonton.
Perubahan pola konsumsi ini yang disebut dampak dari Konvergensi Media, persaingan sebuah program TV hari ini tidak hanya berhadapan dengan program TV lainnya di slot jam yang sama. Program TV juga harus berhadapan dengan berbagai bentuk platform hiburan digital yang menawarkan fleksibilitas lebih tinggi.
Pada konteks ini, alasan untuk mengevalusi program lama seperti Doraemon menjadi semakin kuat, apakah tayangan ini masih relevan dengan pola konsumsi audiens hari ini.
Hal tersebut bukan berarti serial Doraemon telah kehilangan popularitasnya. Justru, daya tahan (durability) yang dimilikinya membuktikan bahwa karakter dan nilai tayangan ini tetap membekas di hati penonton. Hanya saja, dalam perspektif programming, fokus utamanya ada pada bagaimana audiens masa kini mengonsumsi sebuah konten.
Karena itu, melihat perubahan industri hari ini menjadi sangat penting dalam menganalisis kasus Doraemon.
Crossover Viewers: Doraemon Tayangan Lintas Generasi
Getting Crossover Viewers dalam programming tv, yaitu kemampuan suatu program tayangan menjangkau penonton di luar target audiens utamanya. Konsep ini tidak hanya menentukan keberhasilan program dari seberapa kuat ia menarik target utamanya, tapi juga bagaimana program tersebut dapat membangun basis audiens yang lebih luas.
Doraemon sejak awal sudah punya karakteristik yang sesuai dengan konsep tersebut.
Secara umum, Doraemon jelas adalah tontonan anak-anak. Tapi, tidak berhenti disitu. Orang dewasa yang mengenal Doraemon sejak kecil juga turut menontonnya, entah untuk sekadar hiburan atau mengawasi anak/adiknya ketika menyaksikan karakter tersebut. Bahkan anime Doraemon juga punya Fandom-nya tersendiri.
Namun, kembali lagi, kemampuan ini tidak semata membuat program tersebut layak terus dipertahankan. Programmer tetap perlu melihat apakah audiens tersebut sesuai dengan strategi stasiun, slot tayangan, serta nilai ekonomi yang diharapkan.
Innovation & Freshness Pada Program yang Berumur Panjang
Program yang telah berumur panjang seperti Doraemon akan terus menghadapi tuntutan evaluasi. Tim Programming akan mengukur bagaimana relevansi serial ini dengan kebutuhan penonton dan strategi stasiun penyiaran, unsur inovasi dan freshness (penyegaran) akan menjadi penting terutama di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.
Doraemon sendiri sebenarnya punya karakter yang memungkinkan terjadinya penyegaran. Ceritanya terus dikembangkan, episode baru diproduksi, teknologi produksi berubah, dan distribusi konten sudah diperluas ke platform lain.
Maka fokus persoalannya pada bagaimana pembaruan tersebut ditempatkan dalam strategi distribusi yang sesuai dengan perilaku konsumsi audiens hari ini.
Di sinilah televisi linear menghadapi tantangan, sebuah program dapat tetap memiliki nilai sebagai konten, tetapi belum tentu harus selalu dikonsumsi melalui media televisi saja.
Bahkan, dalam laporan Media Indonesia, pengisi suara Suneo, Santosa Amin, menyebut bahwa proses dubbing untuk episode baru masih berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa Doraemon masih berlanjut sebagai konten, meskipun tidak lagi tayang di RCTI.
Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan Doraemon di RCTI lebih tepat dibaca sebagai persoalan distribusi dan programming, bukan sebagai tanda bahwa program ini telah kehilangan eksistensinya.
Rating, Popularitas, dan Logika Programming
Kembali ke rating, persoalan ini menjadi lebih menarik pada titik ini.
Rating memang penting. Dalam industri televisi komersial, rating adalah salah satu bahan evaluasi program. Namun, keputusan programming pada dasarnya tidak dibangun dari satu indikator saja (seperti yang kita bahas sebelumnya).
Ada banyak hal yang dipertimbangkan stasiun TV, mulai dari siapa audiensnya, kapan dan bagaimana mereka menonton, bagaimana posisi kompetitor, apakah program sesuai dengan strategi stasiun, bagaimana nilai slotnya, berapa biaya atau hak lisensinya, serta program apa yang tersedia sebagai alternatif.
Karena itu, anggapan bahwa “Doraemon berhenti karena rating turun” belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan faktual.
Sampai saat ini, RCTI belum mengonfirmasi secara resmi alasan penghentian Doraemon dari jadwal siarannya di televisi.
Justru, terdapat informasi lain yang perlu diperhatikan. Media Indonesia melaporkan bahwa dapat dipastikan bahwa kemitraan eksklusif antara RCTI dan pemegang lisensi Doraemon (Animation International/ADK Indonesia) untuk slot tayang Minggu pagi telah berakhir per 31 Desember 2025. Namun, informasi tersebut berasal dari pihak pemegang hak siar dan bukan merupakan penjelasan resmi RCTI.
Kaori Nusantara juga melaporkan bahwa Doraemon sudah kembali tersedia di Indonesia melalui layanan streaming Vidio sejak 15 Februari 2026, dengan episode baru diperbarui setiap Minggu dan pilihan audio bahasa Indonesia maupun Jepang.
Dengan demikian, kesimpulan yang lebih hati-hati adalah bahwa penghentian Doraemon dapat melibatkan persoalan yang lebih luas daripada rating.
Apalagi, setelah Doraemon tidak lagi tercantum, slot tersebut tetap harus diisi. Jadwal awal Januari 2026 menunjukkan bahwa program animasi lain, seperti Kiko dan Captain Tsubasa, hadir di slot yang sebelumnya ditempati Doraemon.
Perlu dipahami bahwa penggantian satu program TV dengan program lain tidak serta-merta menunjukkan bahwa program pengganti lebih populer atau lebih baik. Hal tersebut justru memperlihatkan adanya proses alokasi slot siaran, yaitu keputusan mengenai program yang akan mengisi waktu tayang tertentu berdasarkan pertimbangan programming.
Doraemon dan Dinamika Programming Televisi
Membaca dan menganalisa kasus penghentian jam tayang Doraemon di saluran TV RCTI berarti kita sedang melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ini mengajarkan kita, bagaimana perbedaan antara melihat televisi dari perspektif penonton dan melihat televisi dari perspektif programming.
Kita sebagai penonton, mungkin menilai Doraemon dari kenangan, popularitas, dan kedekatan emosional. Berbeda dengan programmer TV, mereka perlu mempertimbangkan kebutuhan slot dan strategi stasiun secara keseluruhan. Maka, meskipun sampai saat ini belum ada konfirmasi resmi dari RCTI, kita sendiri bisa menilai dan menganalisa kasus tersebut berdasarkan elemen kunci yang kita bahas sebelumnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar “mengapa Doraemon dihentikan?”, melainkan “nilai dan pertimbangan apa yang digunakan stasiun televisi ketika menentukan program mana yang layak mengisi sebuah slot waktu?”
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa di balik sebuah jadwal televisi yang terlihat sederhana, terdapat pertimbangan programming yang kompleks, berkaitan dengan penonton, konten, strategi, dan kepentingan industri itu sendiri.
