Ketika Gawai Menjadi Pengasuh Kedua: Tantangan Orang Tua di Era Digital

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah prodi Hukum Keluarga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Haris Muntaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang tua merupakan pemeran utama dalam membangun pola asuh anak sekaligus kewajiban krusial dalam menentukan kualitas biologis dan karakter seorang anak dengan membesarkan dan mendidiknya. Artinya, dikatakan baik atau buruknya seorang anak dapat dilihat dari cara orang tua membearkan anaknya.
Disisi lain, perkembangan teknologi semakin meningkat seiring dengan peningkatan kecepatan teknologi dan pergantian pengetahuan, inilah yang disebut era digital.
Tanpa disadari, hingga saat ini perkembangan teknologi sangatlah mengikat dan tidak dapat jauh dengan gaya hidup manusia tanpa memandang kalangannya, terutama pada anak-anak sebagai kalangan muda.
Alat digital seperti Komputer, Laptop, Gawai atau Gadget memiliki fitur-fitur yang membantu akan pemenuhan kebutuhan manusia seperti akses informasi yang cepat, belanja online, hingga otak buatan atau yang dikenal dengan Artificle Intelegent (AI). Hal inilah yang menimbulkan keterikatan hingga ketergantungan yang sangat tinggi bagi penggunanya yang merasa terbantu bagi keberlangsungan kehidupan keseharian manusia.
Penggunaan perangkat digital semakin meningkat jumlahnya pada kalangan muda sejak lama. Contohnya data UNICEF (2014) menyatakan setengah detik seorang anak di dunia mengakses internet untuk pertama kalinya. Di indonesia, anak berusia di bawah 12 tahun diperkirakan jumlah pengguna internet mencapai 9,17% dari 221 juta atau 79,5% jumlah populasi. karenanya, tidak dapat dipungkiri peningkatan penggunaan perangkat digital terus meningkat hingga saat ini.
Sehingga di era digital seperti saat ini, dapat dikatakan sebagai tantangan besar bagi para orang tua dalam menjalankan perannya sebagai pengawas dan penuntun anak dalam mengkonsumsi segala hasil dari kemajuan dan perkembangan teknologi, guna membangun pola asuh anak yang baik dan bijak tanpa menghilangkan hubungan keterikatan anak dengan perkembangan teknologi dan tetap membawa dampak positif dari kehadiran teknologi.
Dampak Positif
Teknologi digital menawarkan beberapa manfaat bagi pertumbuhan anak. Menurut sebuah studi, penggunaan teknologi digital dapat membantu meningkatkan keterampilan kognitif dan sosial, seperti pemecahan masalah, mengembangkan kreatifitas, serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi.
Anak yang berpartisipasi dalam aktifitas digital yang terstruktur, seperti permainan edukatif dan platform pembelajaran daring yang dapat menunjukkan hasil akademik yang lebih baik, contohnya gawai yang berbentuk touch screen memberikan dampak positif pada perkembangan motorik dan kognitif pada anak terutama di usia balita, karena touch screen memberikan sesuatu apa yang mereka inginkan, suara yang menarik, gambar yang bisa berubah-ubah dan memberikan feedback yang dapat memberikan rasa kepuasan.
Dampak Negatif
Selain manfaat penggunaan teknologi di era digital, anak akan cenderung menunjukkan dampak negatif dalam menggunakan teknologi seperti paparan konten digital secara berlebihan yang dapat mengurangi fokus dan kesulitan mengontrol perhatian. Fenomena ini dikenal sebagai “countinuouspartial attention”, dimana anak-anak membagi perhatian dalam mengkonsumsi segala konten ataupun informasi secara terus-menerus sesuai algoritma.
Algoritma ialah rancangan sistem pada media sosial yang menyajikan segala konten yang disukai dan diminati oleh pengguna tanpa menyaring dan mengelola baik dan buruknya informasi atau konten tersebut, hal ini tentu menjadikan pengguna merasa nyaman karena disuguhkan hal-hal yang disukainya, namun kenyamanan ini justru berdampak buruk karena perlahan otak anak akan terbiasa menerima informasi yang sejalan dengan pandangannya yang berakibat menjadi jebakan yang perlahan membatasi cara berpikir anak.
Peran Orang tua sebagai Pendamping
Era digital seperti pisau yang bermata dua, apabila tidak dimanfaatkan dengan baik maka akan berdampak sangat buruk bagi penggunanya, alat-alat yang digunakan sebagai media belajar baru hingga pengakses segala informasi yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dari dunia digital menjadi tugas pengawasan orang tua.
Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan orang tua dalam mendamopingi anak ditengah kemajuan teknologi digital:
1. Mengedukasi pentingnya melek literasi informasi teknologi
Orang tua mendidik anak di era digital ini diperlukan untuk memperbaharui pengetahuan terkait teknologi atau literasi digital agar tidak ketinggalan informasi.
Orang tua juga harus mampu memahami ragam aplikasi untuk memandu anak memainkannya dengan baik serta mengawasi penggunaan media informasi tersebut agar tidak menyimpang.
2. Membatasi waktu pemakaian alat digital
Menjauhkan anak dari internet bukan cara yang terbaik, karena saat ini segala aktivitas dilakukan dari jarak jauh yang membutuhkan alat teknologi. Orang tua harus mempertimbangkan untuk memperhatikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi dengan mengajarkan anaknya untuk menjadikan sebuah direktori atau search engine (mesin pencari) khusus anak-anak, sebagai situs yang wajib dibuka saat pertama kali terhubung dengan internet.
3. Optimalisasi aktivitas positif
Penggunaan teknologi yang sehat adalah tentang keseimbangan. Upayakan keseimbangan yang sehat antara keterlibatan teknologi dengan anak dan untuk pengalaman orang tua-anak yang tidak memerlukan teknologi sama sekali. Gunakan teknologi untuk mendukung kegembiraan belajar sehingga dapat melibatkan, memberdayakan, dan menginspirasi anak.
4. Monitoring lingkungan baik di dunia maya atau sekitarnya
Orang tua dapat merencanakan kegiatan dengan anak terkait dengan penggunaan teknologi, orang tua bertanya mengenai kegiatan apa yang ingin anak lakukan dengan menggunakan smartphone atau laptop. Apabila tidak ada kegiatan, maka doronglah anak untuk bermain diluar tanpa menggunakan teknologi baik indoor maupun outdoor agar anak tidak kecanduan dengan gawainya.
Melakukan kegiatan di luar rumah seperti bermain permainan tradisional, cooking class, menanam bunga bersama, camping sederhana maupun outbond. Anak juga akan senang apabila diajak berolahraga seperti sepak bola, bersepeda, maupun berenang, sehingga anak akan bergerak aktif dan membantu untuk mengembangkan kemampuan motoriknya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah keberadaan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana keluarga menyikapinya. Gawai tidak seharusnya menjadi "pengasuh kedua" yang menggantikan peran orang tua. Sebaliknya, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat pendukung yang membantu proses tumbuh kembang anak.
Dengan pendampingan yang tepat, era digital dapat menjadi peluang untuk membentuk generasi yang cakap teknologi tanpa kehilangan kemampuan bersosialisasi, berempati, dan berpikir kritis.
