Konten dari Pengguna

Jatos: Oase di Tengah Hiruk-pikuk Akademis Jatinangor

Muhammad Hijriah

Muhammad Hijriah

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Hijriah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana malam di pelataran Jatinangor Town Square (Jatos). FOTO: Fariza Rizky Ananda
zoom-in-whitePerbesar
Suasana malam di pelataran Jatinangor Town Square (Jatos). FOTO: Fariza Rizky Ananda

Belanja bulanan? Beli keperluan untuk ospek? Menonton film layar lebar terbaru? Berkumpul untuk mengerjakan tugas atau sekadar makan? Ya Jatos jawabannya. Jatinangor Town Square atau yang lebih dikenal sebagai Jatos merupakan sebuah pusat perbelanjaan yang seakan menjadi jawaban dari apa yang kita butuhkan. Kehadirannya turut mengubah wajah Jatinangor yang dulunya merupakan desa nan penuh dengan hamparan pesawahan dan perkebunan menjadi lebih modern.

Sejak 13 tahun silam, Jatos ini hadir di tengah masyarakat Jatinangor. Sebagai satu-satunya pusat perbelanjaan yang ada di daerah tersebut, namanya seakan sudah melekat kuat dan tidak bisa dipisahkan dari kawasan pendidikan ini. Bahkan terdengar hingga ke daerah lain seperti Bandung, Sumedang, dan sekitarnya.

Letaknya pun sangat strategis yaitu di Jalan Raya Jatinangor yang merupakan jalur utama Provinsi Jawa Barat. Tidak lupa dengan empat kampus besar yang mengelilinginya, yaitu Universitas Padjadjaran (Unpad) Kampus Jatinangor, Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Jatinangor, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), dan Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN). Alhasil, Jatos ini memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi dan tak ayal selalu dipenuhi oleh pengunjung, terutama mahasiswa.

Mahasiswa-mahasiswa yang memadati Jatinangor dari berbagai kampus ini tidak punya pilihan pusat perbelanjaan lain selain Jatos. Walapupun begitu, Jatos tetap bisa diandalkan karena ia menjajakan berbagai komoditas yang diperlukan oleh mahasiswa, dengan pilihan harga yang bervariatif dari yang realtif murah hingga mahal. Diantaranya ada pangan yang beraneka ragam pilihannya, dan kebutuhan lain mulai dari kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier pun tersedia di sana.

Walaupun tidak sebesar pusat perbelanjaan di kota lain, Jatos sudah cukup lengkap. Keberadaannya dapat diumpamakan bagai oase di tengah hiruk pikuk akademis yang padat di Jatinangor. Hal ini disebutkan oleh mahasiswa Matematika Unpad, Mutik Alawiyah yang mengaku Jatos telah cukup menyediakan kebutuhannya.

“Aku biasa ke Jatos buat belanja bulanan, menurut Aku Jatos udah memenuhi segala kebutuhan Aku sih. Cuma memang apa yang disediakan di sana kurang variatif dan gak selengkap di Bandung. Harapan Aku buat Jatos atau di Jatinangor ini ada toko buku yang lengkap,” ujar mahasiswa Mutik saat ditanya mengenai Jatos pada (22/03).

Pernyataan Mutik senada dengan pengakuan Elga mengenai ketersediaan komoditas yang disediakan oleh Jatos. Menurut mahasiswa Jurnalistik Unpad tersebut keberadaan Jatos itu penting untuk memenuhi kebutuhan primernya. Ia berpandangan, Jatos belum sekomplet pusat perbelanjaan lain seperti di Bandung dan di Jakarta.

Namun, di atas itu semua ada satu hal dari Jatos yang menjadi tumpuan hidup mahasiswa Jatinangor: hiburan! Kebutuhan akan hiburan ini memang menjadi peran terpenting dari keberadaan Jatos yang ada di dekat beberapa penyelenggara pendidikan tinggi di Jatinangor ini. Adanya bioskop dan banyaknya tempat makan cepat saji khas pusat perbelanjaan seperti KFC, Pizza Hut, Richeese Factory, Yoshinoya dan lain-lain menjadikan Jatos adalah tempat melepas jenuh mahasiswa Jatinangor dari keseharian perkuliahannya.

Hecka Athaya, seorang mahasiswa Humas Unpad, setidaknya seminggu sekali mengunjungi Jatos untuk sekadar nonton bioskop atau makan enak. Seringnya ia makan di Pizza Hut atau Yoshinoya yang baru buka beberapa waktu yang lalu. “Jatos itu membantu aku untuk menghibur diri kadang-kadang, bisa dengan nonton di bioskop atau makan enak,” jelasnya.

Lalu ada Maisaroh, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad, berkata, “Jatos itu tempat yang sebenarnya tidak mau aku datangi, tapi malah jadi selalu ingin ke sana. Entah itu memang karena butuh atau memang sekadar mencari hiburan sama jajanan saja.” Maisaroh bisa mengunjungi Jatos satu atau dua kali seminggu. Ia mengakui bahwa Jatos sangat membantu dirinya, baik itu dalam hal memenuhi kebutuhan maupun sekadar mencari hiburan sejenak.

Tidak Memenuhi Ekspektasi

Namun Jatos tetaplah Jatos, pusat perbelanjaan tersebut pada dasarnya tidak sanggup memenuhi ekspektasi semua orang karena terbatasnya fasilitas yang dimilikinya. Kesederhanaan yang ada padanya hanya menarik minat segelintir orang yang dapat dibilang, memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah. Sedangkan mahasiswa yang mempunyai keadaan ekonomi menengah ke atas lebih memilih nongkrong ke Bandung, kota serba ada yang menyediakan beberapa pusat perbelanjaan jauh lebih mewah dibanding Jatos.

Hal ini diungkapkan oleh mahasiswa Teknologi Pangan Unpad, Suriati. Ia berpendapat bahwa Jatos itu terlalu kecil, sehingga jika sedang penuh-penuhnya membuat ia merasa tidak nyaman. Selain dari itu dari itu Suriati mengaku tidak menemukan kebutuhannya di Jatos seperti salon dan kebutuhan fesyen.

Mahasiswa Pendidikan Dokter Unpad, Annisa Nugrahani menambahkan seharusnya di Jatos itu disediakan barang-barang branded atau barang-barang berkelas dari model terkenal. “Hmm kalau dibandingkan dengan fasilitas mall-mall yang ada di Bandung sih menurutku yang kurang itu Jatos belum ada toko ATK di dalamnya. Terus belum ada fasilitas barang-barang merk Apple, bedanya sama mall-mall Bandung juga Jatos engga terlalu banyak ngejual barang-barang branded,” ujar mahasiswa Pendidikan Dokter yang sering dipanggil Nisdew ini pada Minggu (24/03).

Pengamat Sosial, Herlina Agustin menjelaskan adanya realitas sosial seperti ini. Tanpa disadari, hal tersebut menunjukan sebuah komunikasi ruang yang menyekat struktur sosial di Jatinangor. Para mahasiswa yang mayoritasnya merupakan pendatang dari kota lain tidak bisa memenuhi kebutuhan emosionalnya di Jatos.

Meskipun Jatos dapat menghadirkan kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Namun tetap ada hal lain yang akhirnya tidak bisa didapatkan. Terutama bagi mahasiswa pendatang dari kota-kota besar, Jatos bukan seleranya untuk menghabiskan uang dan waktu luang.

“Mahasiswa yang secara ekonominya mapan, karena status ekonomi orangtuanya tinggi dia cenderung tidak mau ke Jatos. Kenapa seperti itu, karena walaupun semua kebutuhannya ada di Jatos tapi secara emosional dan karakter tidak bisa terpenuhi oleh Jatos,” terang Herlina saat ditemui di kediamannya di kawasan Kawaluyaan, Bandung pada Minggu (24/03).

Herlina menjelaskan bahwa gengsi yang muncul di diri segelintir orang disebabkan oleh aura atau circumstances Jatos tidak semewah pusat perbelanjaan lain di kota besar. Jatos hanya dibantu dengan adanya restoran cepat saji untuk menarik minat mahasiswa menengah ke atas. Maka dengan adanya restoran cepat saji tersebut mahasiswa dengan ekonomi mapan berkunjung ke Jatos untuk sekadar makan, tidak untuk belanja

Meskipun kini pujasera atau yang lebih dikenal sebagai foodcourt di Jatos telah direnovasi, menurut mahasiswa Psikologi, Sarah Aurelia restoran yang ada masih kurang. “Yang gak ada di Jatos tuh kafe kaya Sbux, yang ada cuma J.Co doang. Terus pilihan makanannya menurut gue kurang, beda kaya mall di Bandung tempat makan tersedia lengkap,” ujar Sarah pada Minggu (24/03), melalui percakapan via aplikasi Line saat ditanya mengenai kekurangan Jatos.

Suasana foodcourt Jatinangor Town Square (Jatos) yang telah direvitalisasi. FOTO: Fariza Rizky Ananda

Lanjut pemaparan Herlina Agustin, ia memaparkan bahwa keadaan gengsi mahasiswa kelas atas tersebut merupakan hambatan psikologis yang ada di Jatinangor. Hal ini dikarenakan segmentasi Jatos yang berada dalam posisi galau. Jatos tidak diperuntukan untuk segmentasi dengan ekonomi kelas menengah ke bawah dan tidak bisa pula menjangkau kelas ekonomi menengah ke atas.

“Kita bisa melihat ada hambatan di Jatos, hambatan psikologis. Ketika tadi para mahasiswa kelas atas datang ke Jatos, mereka akan merasa gengsi. Kita bisa melihat beberapa kondisi yang secara komunikasi adalah gangguan pula. Lalu ada realitas bahwa yang nongkrong di Jatos banyak dari kalangan warga lokal yang keberadaannya tersingkir oleh para pendatang terutama mahasiswa,” ujar Herlina.

Dengan segala kekurangan dan kelebihannya tersebut, Jatos tetap merupakan titik tumpu perekonomian di Jatinangor. Ia setia menemani keseharian mahasiswa beraktivitas di Jatinangor, menghadirkan kebutuhan-kebutuhannya walaupun kurang memuaskan, dan menghibur di kala mereka penat. Jatos, dengan segala hambatan ruang dan psikologisnya, masih dan akan selalu dipadati oleh pengunjung dari berbagai kalangan, selama ia masih menjadi satu-satunya pusat perbelanjaan di Jatinangor.

Oleh Moch Rizqi Hijriah dan Fariza Rizky Ananda – Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Padjadjaran.