Konten dari Pengguna

Minyak Atsiri Wewangian yang Punya Manfaat Penyembuh

Muhammad Hilmy Irhamsyah

Muhammad Hilmy Irhamsyah

Mahasiswa FARMASI UIN JAKARTA

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Hilmy Irhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi minyak atsiri (https://unsplash.com/photos/brown-glass-bottle-on-brown-textile-jbjmimlaC-U)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi minyak atsiri (https://unsplash.com/photos/brown-glass-bottle-on-brown-textile-jbjmimlaC-U)

Aromaterapi dan Khasiat Tersembunyi dari Tanaman Minyak Atsiri Indonesia

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama di bagian keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Banyaknya tanaman di Indonesia ini berpotensi dalam pengembangan obat herbal. Di dalam beberapa tumbuhan sendiri ada yang mempunyai kandungan minyak. Dalam bahasan kali ini minyak yang dibahas adalah minyak atsiri. Minyak atsiri terkenal dengan aroma khasnya dan sifat volatile yang membuat minyak tersebut mudah menguap (Aryani,2020). Walaupun terkenal dengan aroma khasnya, minyak atsiri mempunyai manfaat untuk kesehatan.

Minyak Atsiri Bukan Sekadar Wewangian: Bukti Ilmiah Khasiatnya

Pada penelitian ditemukan bahwa minyak atsiri sendiri dapat digunakan sebagai aromaterapi (Caroline,2022). Aromaterapi sendiri adalah pengobatan dengan menggunakan wewangian yang berasal dari minyak alami yang dalam pembahasan ini adalah minyak atsiri. Menurut penelitian tersebut minyak atsiri mengandung aromaterapi, pengobatan aromaterapi ini sendiri sudah digunakan dari selama berabad abad dari peradaban Cina Kuno (Pratiwi,2020). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengobatan aromaterapi sudah digunakan bahkan selama berabad-abad. Hal ini menunjukkan bahwa minyak atsiri sendiri memiliki manfaat yang bahkan pada zaman tersebut belum diteliti secara ilmiah, kemungkinan besar manfaat dari minyak atsiri pada zaman itu ditemukan dari pengalaman atau secara empiris.

Minyak atsiri sendiri dalam penelitian ini memiliki berbagai khasiat seperti mengurangi stress relaksasi tubuh pengaturan tubuh, pengaturan emosional, insomnia, kecemasan dan juga meningkatkan kekebalan tubuh (Pratiwi, 2020). penelitian ini menunjukkan minyak atsiri bukan sekedar minyak wewangian biasa, tetapi mempunyai manfaat untuk Kesehatan tubuh. Adapun beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan aromaterapi diantaranya lavender ( Lavandala angustifolia ), valerian ( Valeriana offcinalis ), peppermint (Mentha piperita L.), mawar (Rosa damascene), serai (Cymbopogon citratus), chamomile (Maricaria recutita), Melati (Jasminum grandiflorum) dan rosemary (Rosamarinus offcinalis) (Pratiwi, 2020).

Penelitian yang lain juga menunjukkan bahwa tikus Wistar yang diberi minum minyak atsiri tumbuhan temu putih, menunjukkan perubahan seperti meningkatnya respon imun tubuh (Handajani, 2013). Penelitian ini menunjukkan bahwa tumbuhan temu putih kandungan minyak atsirinya tidak hanya dari segi aromaterapi, tetapi bisa juga untuk diminum yang manfaatnya dapat meningkatkan respon imun tubuh. Walaupun penelitian ini menggunakan objek tikus Wistar bukan manusia, tetapi dari penelitian tersebut menjadi langkah untuk ditemukannya obat dari tumbuhan minyak atsiri yang dapat diminum manusia.

Selain dari penelitian yang menunjukkan tikus Wistar yang meningkat respon tubuhnya setelah diberi minum minyak atsiri tumbuhan temu putih. Dalam review jurnal lain, pada tumbuhan minyak atsiri yaitu cengkeh. Cengkeh juga mempunyai manfaat dalam bidang kefarmasian. Beberapa manfaatnya dalam bidang kesehatan mulai dari sifat anti-inflamasi, sifat anti-bakteri, penyembuhan luka, mengatasi gangguan pernapasan, dan penggunaannya dalam perawatan kulit (Risnawati, 2024). Dengan adanya review dari jurnal ini pengobatan dengan bahan tumbuhan penghasil minyak atsiri dapat menjadi bahan yang bisa menjadi alternatif dalam pembuatan obat. Ditambah bahan tersebut sangat mudah untuk ditemukan dan juga dibudidayakan terutama di Indonesia.

Pengetahuan Lokal dan Etnobotani: Warisan Pengobatan Tradisional

Dalam studi etnobotani di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang mempelajari bagaimana tanaman Famili Zingiberaceae dalam kehidupan dimasyarakat Riau (Hartanto et al, 2024). Studi tersebut mendapatkan hasil bahwa masyarakat Riau sendiri sudah memanfaatkan tanaman famili Zingiberaceae untuk kehidupan sehari-hari. Tanaman tersebut diantaranya ada jahe (Zingiber officinale), rimpang kunik bonar (Curcuma domestica), rimpang sipode (Zingiber officinale) dan masih banyak lagi. Dalam kajian etnomedisin yaitu kajian penggunaan tumbuhan obat masyarakat lokal. Tumbuhan tersebut dimanfaatkan mulai dari untuk ingin punya keturunan, sebagai penambah stamina saat kehamilan, mengobati muntah pada anak, dan lain-lain (Hartanto et al, 2024).

Untuk tambahan mengenai manfaat tumbuhan penghasil minyak atsiri untuk kehidupan di masyarakat desa. Masyarakat di Desa Pelangsian, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dalam penelitian jurnal sudah memanfaatkan tumbuhan obat sebagai obat tradisional untuk kesehatan (Qamariah et al, 2018). Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa masyarakat Desa Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang masih menggunakan tanaman obat tradisional sebagai pengobatan, total tumbuhan digunakan sebanyak 52 tumbuhan yang diantaranya penghasil minyak atsiri dimanfaatkan bagian-bagian seperti daun, batang, rimpang dan lain-lain (Qamariah et al, 2018). Hal ini menujukkan bahwa potensi penggunan tanaman obat terutama yang menghasilkan minyak atsiri sudah sering digunakan bahkan di desa sekalipun.

Sediaan, Dosis, dan Keamanan: Bukti Formulasi Minyak Atsiri yang Layak Guna

Walaupun dari beberapa penelitian dan review jurnal menunjukkan bahwa tumbuhan penghasil minyak atsiri mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan. Namun dalam penggunaannya tetap mempunyai dosisnya masing-masing. Dalam jurnal formulasi sediaan roll on aromaterapi minyak cengkeh, ditemukan bahwa sediaan tersebut aman dan efektif sediaan memiliki pH sebesar 5, yang masih berada dalam rentang aman pH kulit yaitu 4,5–6,5. Secara fisik, sediaan tampak homogen tanpa adanya butiran kasar. Bobot jenisnya berkisar antara 0,859–0,912, dan nilai viskositasnya berada pada rentang 4,115–4,745 cP, yang masih memenuhi syarat viskositas minyak gosok yaitu 2,3–6,0 cP, sehingga sediaan tetap mudah dioleskan ke kulit. Penggunaan sediaan ini juga tidak menimbulkan iritasi seperti kemerahan, gatal-gatal, atau pembengkakan, sehingga dinyatakan aman untuk digunakan. Dalam konsentrasi sendiri 15% merupakan sediaan yang paling disukai oleh responden (Ticoalu et al, 2024). Selain dari itu sediaan juga harus memenuhi standar BPOM yang menurut PerBPOM No. 29/2023, Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka wajib memenuhi persyaratan mutu dan keamanan yang ditetapkan, serta dilakukan pengujian terhadap cemaran mikroba, logam berat, residu pelarut, dan parameter lainnya sesuai bentuk sediaan (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2023), Klaim khasiat obat tradisional, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka harus didasarkan pada bukti ilmiah yang memadai dan tidak boleh menyesatkan masyarakat (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2023).

Kesimpulan

Maka dapat disimpulkan bahwa tumbuhan penghasil minyak atsiri tidak hanya sekedar untuk wewangian saja tetapi juga mempunyai khasiat dalam pengobatan. tumbuhan penghasil minyak atsiri sendiri sudah digunakan sejak lama bahkan masih digunakan di desa-desa. Penelitian mengenai minyak atsiri juga sudah banyak ditemukan yang membahas kegunaannya dalam pengobatan. Namun perlu diperhatikan bahwa penggunaany tetap memerlukan dosis yang tepat untuk keamanan dan keefektifan untuk tubuh dan mengikuti aturan BPOM.

DAFTAR PUSTAKA

Aryani, F. (2020). Penyulingan minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi) dengan suhu yang berbeda. Buletin Loupe, 16(2), 51–57.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2023). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2023 tentang Persyaratan Keamanan dan Mutu Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2023). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2023 tentang Pedoman Klaim Khasiat Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka.

Caroline, I. (2023). Kajian pustaka: Tinjauan efektivitas penggunaan minyak atsiri sebagai aromaterapi. MEDFARM: Jurnal Farmasi dan Kesehatan, 11(2), 263–275.

Handajani, J. (2013). Minyak atsiri temu putih (Curcuma zedoaria Rosc., Zingiberaceae) menurunkan ekspresi CD4+ pada gingiva terpapar A. actinomycetemcomitans. Majalah Kedokteran Gigi Indonesia, 20(1).

Hartanto, S., F., & Sofiyanti, N. (2014). Studi etnobotani famili Zingiberaceae dalam kehidupan masyarakat lokal di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education, 6(2), 98–108.

Pratiwi, F., & Subarnas, A. (2020). Aromaterapi sebagai media relaksasi: Review artikel. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 18(3), 260–266.

Qamariah, N., Mulyani, E., & Dewi, N. (2018). Inventarisasi tumbuhan obat di Desa Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Kabupaten Kotawaringin Timur. Borneo Journal of Pharmacy, 1(1), 1–10.

Risnawati, F. (2025). Review minyak atsiri tanaman cengkeh. Metallion: Journal of Chemistry, 1(2), 65–70.

Ticoalu, P. K., Siampa, J. P., & Jayanti, M. (2024). Formulasi dan evaluasi sediaan roll on aromaterapi minyak cengkeh (Syzygium aromaticum) khas Sulawesi Utara. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5(3), 9126.

embed from external kumparan

embed from external kumparan