Menelisik Hubungan Tugas Akademik dengan Kesehatan Mental Mahasiswa

Mahasiswa Aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Ibnu Zaki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendahuluan
Di tengah hiruk-pikuk dunia perkuliahan, tugas kuliah bisa jadi teman sekaligus lawan. Menurut data PDDikti (2024), jumlah mahasiswa aktif di Indonesia telah mencapai 9.967.487 jiwa. Angka ini begitu besar, tapi di baliknya ada jutaan cerita perjuangan termasuk soal tekanan akademik yang makin terasa, dari tugas yang datang bertubi-tubi hingga target performa yang makin tinggi.
Tugas kuliah memang dibuat untuk membantu mahasiswa memahami materi dan mengasah tanggung jawab. Tapi kalau porsinya berlebihan, yang muncul bukan lagi motivasi, tapi stres dan kecemasan. Penelitian oleh Novita Sari (2024) menunjukkan bahwa tekanan akademik bisa berdampak pada kualitas tidur, kondisi emosional, bahkan relasi sosial mahasiswa. Temuan ini sejalan dengan hasil riset Herawati et al. (2023) yang mengidentifikasi tingginya stres di kalangan mahasiswa farmasi. Sementara survei kecil yang penulis lakukan terhadap mahasiswa kelas A Farmasi UIN Jakarta angkatan 2024 menunjukkan bahwa 75% responden merasa tertekan karena tugas kuliah. Ini bukan angka kecil ini tanda bahwa ada hal penting yang perlu dikaji ulang dalam sistem pembelajaran.
Studi Lapangan: Suara Mahasiswa di Tengah Padatnya Tugas
Masuk ke semester genap, ritme kuliah mulai terasa berbeda. Tugas praktikum makin sering, laporan harus dikumpulkan tepat waktu, dan belum lagi persiapan UAS dan remedial yang terus mendekat. Untuk melihat bagaimana situasi ini dirasakan mahasiswa secara nyata, penulis mengadakan survei kecil di kalangan teman-teman dari kelas A Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2024 melalui kuesioner online.
Hasilnya, 75% responden mengaku merasa tertekan karena tugas kuliah. Bentuk tekanan itu beragam dari rasa capek karena harus begadang, sampai pernah kehilangan motivasi karena tugas terasa menumpuk tanpa henti. Ada pula yang merasa sulit menjaga konsentrasi karena jadwal antar mata kuliah saling tumpang tindih.
Salah satu responden menyatakan “Minggu-minggu semester genap ini tugas semakin banyak, belum lagi ada UAS dan remedial yang harus saya lalui. Jadi, perasaan saya sangat campur aduk antara takut menghadapi remedial, overthinking nilai akhir nanti.” (Survei pribadi, 2025).
Temuan ini sejalan dengan penelitian Rohmah dan Mahrus (2023) yang menunjukkan bahwa tekanan akademik sering kali diperparah oleh faktor internal seperti ekspektasi pribadi dan manajemen waktu yang buruk, serta faktor eksternal seperti tuntutan dosen dan lingkungan belajar yang kompetitif. Ahmad dan Abdul Latif (2023) juga menemukan bahwa tekanan akademik dapat memicu kecemasan, terlebih ketika mahasiswa merasa ragu terhadap kemampuan dirinya dan dihadapkan pada tuntutan akademik yang tinggi
Dari sini terlihat bahwa tugas bukan hanya soal akademik, tapi sudah menyentuh hal-hal pribadi seperti rasa cemas, bingung, dan lelah mental. Penulis tidak ingin menyepelekan masalah ini, melainkan ingin menyampaikan bahwa tekanan akademik adalah hal yang nyata dan sering kali tidak terdengar padahal dampaknya bisa cukup besar terhadap kehidupan mahasiswa.
Tugas Kuliah: Dari Alat Belajar Jadi Pemicu Tekanan
Tugas kuliah memang dibuat untuk memperdalam pemahaman, melatih tanggung jawab, dan membiasakan mahasiswa berpikir ilmiah. Tapi pada kenyataannya, tugas sering kali datang bersamaan dari berbagai mata kuliah. Deadline saling bertumpukan, praktikum belum selesai sudah ditambah lagi, presentasi sudah harus dipersiapkan dengan deadline yang singkat semuanya berjalan nyaris tanpa jeda.
Mahasiswa jadi terdorong untuk menyelesaikan tugas secepat mungkin, bukan karena ingin memahami, tapi karena takut tidak selesai. Fokus berpindah dari belajar ke bertahan. Penulis menemukan bahwa banyak tugas diberikan tanpa jeda waktu. Rasa capek fisik dan mental pun tak bisa dihindari.
Tugas seperti laporan praktikum yang sangat teknis, makalah dengan tuntutan referensi ilmiah, dan kerja kelompok yang susah dikoordinasikan, semuanya punya potensi jadi sumber stres apalagi bila jadwalnya tidak tertata dengan adil.
Penelitian oleh Putri dan Prasetyoaji (2022) dari Universitas Teknologi Yogyakarta memperkuat temuan ini. Mereka menjelaskan bahwa tuntutan akademik yang berlebihan berhubungan dengan tingginya tingkat stres, kecemasan, dan bahkan gejala depresi pada mahasiswa.
Buku Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi karya Sarbiah dan Tenri Ummu (2023) juga menyentuh hal serupa. Mereka menulis:
“Perguruan tinggi dapat memainkan peran yang signifikan dalam memastikan kesejahteraan mental mahasiswa dengan menyediakan akses mudah ke layanan dukungan kesehatan mental, meningkatkan kesadaran dan menghilangkan stigma terkait masalah kesehatan mental, serta menciptakan lingkungan akademik yang inklusif dan suportif.”
Dari sini terlihat bahwa tugas akademik bukan hanya soal isi atau format, tapi juga soal cara institusi mengelola beban belajar secara menyeluruh. Penulis percaya, tugas tetap dibutuhkan dalam sistem pendidikan. Namun jika ritmenya terlalu padat tanpa mempertimbangkan kapasitas mahasiswa, maka yang lahir bukan prestasi, tapi tekanan.
Belajar atau Bertahan?
Dari semua cerita, data, dan suara mahasiswa yang penulis kumpulkan, dapat disimpulkan bahwasanya tugas kuliah itu penting, tapi kalau porsinya berlebihan, dampaknya bisa ke mana-mana. Bukannya merasa berkembang, banyak mahasiswa justru merasa tenggelam.
Survei kecil yang penulis lakukan menunjukkan bahwa 75% teman-teman dari kelas A Farmasi UIN Jakarta angkatan 2024 merasa tertekan karena tugas kuliah. Itu bukan sekadar angka itu gambaran nyata dari rutinitas kuliah yang kadang terlalu padat. Tugas bisa datang bersamaan, tanpa jeda, dan harus selesai dalam waktu singkat.
Penelitian dari Novita Sari (2024) dan Putri & Prasetyoaji (2022) mendukung temuan ini. Mereka menjelaskan bahwa tekanan akademik bisa memicu gangguan tidur, kecemasan, bahkan perasaan depresi. Lalu ada studi dari Nafishafara et al. (2025) yang menemukan bahwa beban tugas menyumbang lebih dari separuh penyebab stres mahasiswa (52,7%) sisanya dipengaruhi oleh manajemen waktu dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Dan memang, faktor pemicu stres itu nggak cuma dari luar. Kadang mahasiswa sendiri punya ekspektasi tinggi dan perfeksionisme. Itu juga dijelaskan dalam riset oleh Rohmah & Mahrus (2023) dan Ladapase & Sona (2022). Ditambah lagi tekanan dari dosen, deadline yang padat, dan lingkungan yang serba kompetitif bikin ruang berfikir jadi sempit. Penelitian oleh Mulya, Putri, dan Ramadhanti (2021) juga menunjukkan bahwa apabila tugas yang diberikan kepada mahasiswa sesuai dengan porsinya, mahasiswa akan lebih dapat menjaga kesehatannya.
Penulis melihat bahwa ini bukan tentang menyalahkan tugas, dosen, atau kampus. Tapi ini soal bagaimana sistem pembelajaran bisa lebih berpihak pada proses yang sehat. Karena pada akhirnya, mahasiswa bukan cuma butuh nilai mereka juga butuh ruang untuk tumbuh, tanpa kehilangan arah atau kewarasannya.
Daftar Pustaka
Ahmad, S., & Abdul Latif, N. F. (2023). Pengaruh tekanan akademik, keyakinan tingkah laku akademik dan kebimbangan dalam kalangan pelajar universiti. EDUCATUM Journal of Social Sciences, 9(2), 13–22.
Herawati, M., Karinaningrum, A., & Febrianti, Y. (2023). The profile of anxiety, stress, and depression among pharmacy students in Universitas Islam Indonesia. Jurnal Ilmu Farmasi, 20(2), 101–110. https://journal.uii.ac.id/JIF/article/view/22496/12131
Ladapase, R., & Sona, S. (2022). Stres akademik dan faktor pemicunya pada mahasiswa farmasi. Jurnal Psikologi dan Kesehatan Kampus, 4(3), 41–50.
Mulya, F. D., Putri, K. M., & Ramadhanti, S. (2021). Pengaruh banyaknya tugas terhadap kesehatan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera. Institut Teknologi Sumatera.
Nafishafara, R., Zulaeha, M., & Ismawati, F. (2025). Pengaruh beban tugas akademik terhadap tingkat stres mahasiswa FDIKOM UIN Jakarta. Jurnal Ilmu Sosial dan Dakwah, 5(1), 55–63. https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/view/1900
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. (2024). Statistik perguruan tinggi di Indonesia tahun 2024. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://pddikti.kemdiktisaintek.go.id/statistik
Putri, A. K., & Prasetyoaji, A. (2022). Pengaruh tuntutan akademik dan beban kerja terhadap kesehatan mental mahasiswa. Jurnal BK An-Nur, 3(2), 80–90. https://ojs.uniska-bjm.ac.id/index.php/AN-NUR/article/view/15058
Rohmah, N. R., & Mahrus, M. (2023). Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab stres akademik pada mahasiswa dan strategi pengelolaannya. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Manajemen, 5(2), 638–651. https://ejournal.staidapondokkrempyang.ac.id/index.php/jiem/article/download/638/571/2718
Sari, N. (2024). Dampak stres akademik terhadap kesehatan mental mahasiswa. Jurnal Vaksin, 5(1), 23–30. https://ejournal.almusthofa.org/index.php/vaksin/article/download/101/54/478
Sarbiah, A., & Tenri Ummu, A. (2023). Kesehatan mental di perguruan tinggi: Mengoptimalkan kesejahteraan mahasiswa dan lingkungan akademik. Jakarta: Eureka Media Aksara.
