Catatan Training Akhlak Bangsa: Teladan Rasulullah, Menaati Orang Tua

Wakil Sekretaris Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa MUI Pusat Direktur Jaringan Strategis dan Kerja Sama Institut Inisiatif Moderasi Indonesia Peneliti Center for Strategic Policy Studies (CSPS) SKSG UI Sekjen DPP Rumah Produktif Indonesia
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Muhammad Ibrahim Hamdani, S,I,P, M,Si tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam hampir 3 tahun terakhir, sejak 2022 hingga kini, Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyelenggarakan sebanyak 12 kali dalam kegiatan bertajuk: "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial".
Acara ini umumnya berlangsung di Aula Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), Gedung MUI Pusat, Lantai 4, di Jakarta. Kecuali pada "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial Angkatan VII" yang berlangsung di Kantor Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Pusat, Jakarta, pada Sabtu (28/09/24).

Adapun "Training Penguatan Akhlak Bangsa Angkatan I" telah berlangsung pada Sabtu (23/04/22), sedangkan "Training Penguatan Akhlak Bangsa Angkatan XII" berlangsung pada Sabtu (31/05/25). Kedua acara berlokasi di Gedung MUI Pusat.
Peserta Program, Menjadi Duta Akhlak Bangsa
Setiap kegiatan umumnya diikuti oleh sekitar 40 peserta. Artinya, hingga saat ini, alumni program Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial sudah mencapai 500 peserta. Mereka ada yang berasal dari organisasi masyarakat (Ormas) Kepemudaan Islam, pelajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs.N), dan santri di Pesantren. Ada pula siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta, SMA Negeri, maupun mahasiswa dari perguruan tinggi atau universitas yang menjadi peserta.
Sebagai program unggulan dari PD PAB, kegiatan pelatihan bersertifikat ini menjadi ikon dan ciri khas MUI dengan segmentasi peserta generasi muda Muslim, baik dari kelompok Generasi Milenial (Gen Y) maupun Generasi Zilenial (Gen Z).
Apalagi para alumninya mengemban amanat sebagai "Duta Akhlak Bangsa," yang kelak akan menyebarluaskan akhlak mulia (akhlaqul karimah) dan nilai-nilai kebaikan kepada lingkugan sosial terdekatnya. Misalnya di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja dan beraktivitas, serta di tengah masyarakat umum.
Kegiatan ini dipandu dan dipimpin langsung oleh Ketua PD PAB MUI, Buya H. Dr. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Al-Jam'iyatul Washliyah. Acara ini juga dibina langsung oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D., yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Adapun ketua pelaksana kegiatan ialah Sekretaris PD PAB MUI, KH. Drs. Nurul Badruttamam, M.Ag., yang juga Sekretaris Lembaga Dakwah (LD) PBNU.
Landasan Dasar Kegiatan, Empat Karakteristik Rasulullah Muhammad SAW
Adapun spirit dasar dari program "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial" ialah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT) dalam kitab suci Al-Qur'an, Surat Al Ahzab, Ayat 21, yakni:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
Artinya: "Sungguh pada (diri) Rasulllah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah".
Landasan dasar lainya dari program unggulan PD PAB MUI ini ialah hadis Rasulullah Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, yakni: إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق , yang artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".
Dengan demikian, kegiatan ini menjadi kontribusi aktif PD PAB MUI dalam ikhtiar menyebarluaskan syiar dan dakwah Islam ke segenap generasi muda Muslim Indonesia, khususnya dalam meneladani akhlak mulia Rasulullah Muhammad SAW.
Terdapat empat karakteristik utama Nabi Muhammad SAW yang mencerminkan akhlak mulia dan sepatutnya dicontoh oleh setiap generasi muda Muslim Indonesia. Keempat karakteristik itu ialah: shiddiq (jujur), amanah (jujur, dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan, syiar dan dakwah), dan fathanah (cerdas).
Jika generasi muda Muslim Indonesia dapat menerapkan empat karakteristik dasar ini, insya Allah, target mewujudkan Indonesia Emas 2045 dapat terwujud di negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia ini.
Aqidah Islam dan Akhlak Kepada Orang Tua
Selain itu, sebagaimana firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur'an, Surat Al-Isra Ayat 23 dan 24, tertulis secara rinci tentang akhlak mulia dan perbuatan terpuji yang menjadi kewajiban dari setiap anak kepada kedua orang tuanya, yakni:
۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا ؕ اِمَّا يَـبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوۡ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوۡلًا كَرِيۡمًا (٢٣)
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik".
وَاخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحۡمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِىۡ صَغِيۡرًا ؕ (٢٤)
Artinya: "Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil."
Dari ayat suci Al-Qur'an di atas, tertulis jelas perihal bagaimana seorang anak wajib bersikap baik dengan akhlak mulia dan perbuatan terpuji kepada kedua orang tuanya. Berkata 'ah' saja kepada kedua orang tua sudah tidak boleh, apalagi bersikap durhaka, membentak dan melawan kedua orang tua? Terlebih lagi menyakiti hati dan fisik kedua orang tua, hal-hal tersebut sangat dilarang dan bersifat haram serta tercela di sisi Allah SWT. Bahkan setiap anak harus merendahkan diri dan berkata hal-hal yang baik kepada kedua orang tuanya, sebagaimana perintah Allah SWT dalam ayat di atas.
Setiap anak juga harus mendoakan kedua orang tuanya kepada Allah SWT, agar senantiasa keduanya mendapat limpahan rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT. Alasannya jelas, karena kedua orang tua telah mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, sejak mereka masih kecil hingga dewasa. Bahkan Alah SWT memerintahkan agar seorang anak tetap berbakti dan berakhlak mulia kepada orang tuanya, meskipun beliau berdua tidak beragama Islam, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surat Luqman, Ayat 15, yakni:
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ١٥
Artinya: "Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan".
Dengan demikian, akhlak mulia, perilaku baik dan terpuji serta perasaan kasih sayang seorang anak kepada kedua orang tuanya selama hidup di dunia bersifat mutlak, bahkan terhadap orang tua yang mengajak dan memaksa anaknya untuk mempersekutukan Allah SWT. Seorang anak wajib patuh dan taat kepada kedua orang tuanya selama perintah itu tidak melanggar syariat atau mengerjakan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
Hadits: Taat kepada Orang Tua
Selain ayat-ayat Al-Qur'an tentang kewajiaban bagi seorang anak untuk taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, terdapat pula sejumlah hadis Rasulullah Muhammad SAW tentang ketaatan seorang anak kepada kedua orang tuanya, khususnya ibu, lalu ayah.
Hadistini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RadhiyAllahu Anhum (RA), seperti berikut ini:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ
Artinya: "Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi shalallaahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?' Beliau menjawab, 'Ibumu.' Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi,' Nabi shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, 'Kemudian ayahmu.'" (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadist di atas semakin menegaskan wajibnya seorang anak untuk berbakti, patuh dan taat kepada kedua orang tuanya, terlebih lagi terhadap seorang ibu yang telah mengandung, menyusui, dan melahirkan anak kandungnya. Bahkan dalam hadis itu, terlihat jelas bahwa tingkat ketaatan seorang anak terhadap ibu lebih tinggi daripada tingkat ketaatan anak terhadap seorang ayah.
Kondisi di atas terjadi akibat keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT khusus kepada seorang ibu, karena perjuangan dan tekad besar ibunda dalam mengandung, melahirkan dan menyusui seorang anak, lalu membesarkannya hingga dewasa. Sedangkan kehadiran seorang ayah berfungsi untuk menyempurnakan kasih sayang orang tua terhadap anak, sekaligus pembawa gen keturunan terhadap anaknya.
Materi Training Penguatan Akhlak Bangsa
Kemudian, terdapat sejumlah materi pokok yang dipaparkan dan dijelaskan secara rinci oleh para narasumber dalam setiap Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial, dari angkatan pertama hingga angkatan ke-12. Materi-materi tersebut, antara lain: “Pemahaman Akhlak Bangsa: Masalah, Tantangan dan Solusi”. Biasaya, materi ini disampaikan langsung oleh Ketua PD PAB MUI, KH. Dr. Masyhuril Khamis, S.H., M.M.
Lalu ada materi bertema: "Ke-MUI-an dan Penguatan Karakter Akhlak Bangsa Bagi Milenial," yang biasanya disampaikan langsunbg oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan MUI Pusat Bidang Dakwah dan Ukhuwwah, KH. Dr. Arif Fachruddin, M.Ag., dan Bendahara MUI Pusat, Dr. Hj, Erni Juliana Al Hasanah Nasution, S.E., M.Ak.
Materi lainnya bertema: "Akhlak Bagi Milenial," yang biasanya dipaparkan oleh Sekretaris PD PAB MUI, KH. Nurul Badruttamam, M.Ag., dan motivator akhlak, Akhirudin, DC., S.Sos.I., M.A., yang juga pengurus PD PAB MUI.
Sejumlah pengurus PD PAB MUI lainnya juga aktif memberikan berbagai materi menarik kepada para peserta Training Akhlak Bangsa. Misalnya, KH. Dr. Muhammad Rahman Lc., M.A., memaparkan materi berjudul: "Penguatan Akhlak Bangsa" pada Sabtu, 15 April 2023, dalam Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial Angkatan II.
Lalu KH. Dr. Muhammad Suaidi, M.Ag., Pengurus PD PAB MUI, juga memaparkan materi berjudul: "Menjadi Pribadi yang Bertumbuh (Growth Mindset)" pada Sabtu, 23 April 2022, dalam Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial Angkatan I.
Bonus Demografi Indonesia
Secara umum, setiap tema materi di atas dikaitkan dengan situasi dan kondisi terkini umat manusia, baik di level nasional, regional maupun global. Misalnya, situasi nasional Indonesia yang sedang mengalami bonus demografi antara tahun 2020 hingga 2045, saat jumlah penduduk Gen Y dan Gen Z yang masuk kategori usia produktif jauh lebih besar daripada jumlah Gen X dan Gen Baby Boomer.
Hal ini menjadi salah satu pertimbangan bagi PD PAB MUI untuk menjadikan Gen Y dan Gen Z sebagai sasaran utama dakwah dan syiar Islam terkait penguatan akhlak bangsa. Khususnya, dalam skema Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial. Apalagi pemerintah memiliki target besar untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang kelak akan ditentukan berhasil atau tidaknya oleh para pemuda muslim, Gen Y dan Gen Z saat ini.
Lebih lanjut, Ketua PD PAB MUI, KH. Dr. Masyhuril Khamis, S.H., M.M., juga menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia sedang mengalami bonus demografi hingga tahun 2045, ketika jumlah penduduk usia muda dan produktif jauh lebih besar daripada jumlah penduduk usia lanjut dan tidak produktif.
"Indonesia sedang mengalami bonus demografi. 60 persen penduduk Indonesia ialah mereka yang kini berusia rata-rata 6-39 tahun, dari mulai jenjang Sekolah Dasar sampai Strata 3 (S3)," tuturnya pada Selasa (11/7/23) malam. Tepatnya, dalam kegiatan Silaturahmi dan Seminar Virtual Akhlak Bangsa yang mengangkat tema: "Menyambut Milad MUI Ke-48 Tahun".
Generasi Emas Indonesia 2045
KH. Masyhuril Khamis pun menilai tepat kebijakan yang telah ditempuh PD PAB MUI untuk fokus membina generasi muda Muslim Indonesia di era bonus demografi ini.
"Artinya apa? Memang kebijakan yang kita ambil hari ini adalah berdakwah di kalangan generasi milenial, karena adik-adik inilah nanti yang akan menjadi generasi emas di 2045 yang akan datang,” ungkap KH.Masyhuril Khamis yang juga Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) Masa Khidmat 2024-2027 itu.
Menurutnya, menjadi Duta Akhlak Bangsa adalah bagian dari kebutuhan kita, umat Islam Indonesia, hari ini. Dengan seminar virtual malam hari ini, tentu PD PAB merasa bahagia lahir dan batin.
“Berarti, kami (PD PAB MUI) sudah punya partner yang banyak, teman yang banyak. Kita setuju dan sepakat bahwa dakwah di tingkat milenial atau di generasi alpha ini harus menjadi concern (perhatian penuh) kita,” ucap Buya Dr. H. Masyhuril Khamis, S.H., M.M.
Kesimpulan
PD PAB MUI berkomitmen kuat untuk berkontribusi aktif dalam mempersiapkan generasi muda Muslim Indonesia yang berakhlaq mulia (akhlaqul karimah) dan berperilaku terpuji. Tentunya, ikhtiar maksimal ini dilaksanakan sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar syariat Islam, berdasarkan pedoman kitab suci al-Qur'an serta petunjuk hadits dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW.
Generasi Milenial (Gen Y) dan Generasi Zilenial (Gen Z) Muslim Indonesia menjadi fokus utama sasaran dakwah PD PAB MUI. Alasannya, karena di era bonus demografi ini, merekalah yang kelak akan memegang tampuk kekuasaan dan posisi-posisi strategis lainnya di Indonesia pada tahun 2045, dalam berbagai peran dan fungsinya masing-masing. Apalagi pemerintah menetapkan target untuk mewujudkan visi 'Indonesia Emas' pada tahun 2045 nanti. Visi ini tentu akan sulit diwujudkan jika generasi mudanya tidak memiliki akhlaqul karimah dan perilaku terpuji.
Salah satu penerapan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari yang wajib dilaksanakan ialah ketaatan dan kepatuhan seorang anak terhadap kedua orang tuanya, sebagaimana ketentuan dari Allah SWT dan petunjuk dari Rasululah Muhammad SAW. Itu sebabnya, penekanan terhadap akhlaqul karimah kepada kedua orang tua selalu disampikan dalam setiap "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial" yang diselenggarakna oleh PD PAB MUI.
Sebagai Wakil Sekretaris PD PAB MUI, penulis merasa sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena berkesempatan untuk menjadi moderator tetap dalam setiap penyelenggaraan program "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial". Penulis hanya satu kali berhalangan hadir pada "Training Penguatan Akhlak Bangsa Bagi Milenial Angkatan Ke-9" karena sedang menjalankan ibadah umrah di tanah suci Mekah dan Madinah.
"Alhamdulillahi Rabbil A'lamin, kesempatan untuk berkontribusi aktif ini sungguh menjadi pengalaman yang sangat berharga dan berkesan bagi penulis, karena mengalami langsung proses penyelenggaraan rangkaian kegiatan ini selama tiga tahun terakhir," ucapnya.
Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.
Wakil Sekretaris PD PAB MUI
