Konten dari Pengguna

Perspektif Realisme Dalam Kajian Strategi

Muhammad Ifan Edwino

Muhammad Ifan Edwino

Mahasiswa Universitas Sriwijaya

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ifan Edwino tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, tidak ada yang lebih relevan untuk memahami dinamika politik global selain kembali menengok pada realisme salah satu teori klasik dalam Hubungan Internasional yang menempatkan kekuasaan dan keamanan sebagai inti dari strategi negara. Perspektif realisme bukan hanya warisan pemikiran abad ke-20, tetapi terus menjadi kerangka yang hidup dalam membaca strategi pertahanan, diplomasi, dan kebijakan luar negeri berbagai negara hingga hari ini.

Realisme: Pandangan Dunia yang Abadi

Realisme berangkat dari pandangan pesimistis tentang sifat dasar manusia dan sistem internasional. Tokoh-tokoh seperti Thucydides, Machiavelli, hingga Hans Morgenthau menegaskan bahwa politik internasional pada dasarnya adalah arena tanpa otoritas tertinggi anarki. Dalam kondisi demikian, setiap negara harus mengandalkan kekuatannya sendiri (self-help) untuk bertahan.

Karena itu, realisme menekankan power politics politik kekuasaan di mana keamanan nasional menjadi tujuan utama. Dalam pandangan Morgenthau, moralitas dan idealisme sering kali harus tunduk pada kepentingan nasional. Strategi negara tidak ditentukan oleh niat baik, melainkan oleh kalkulasi rasional terhadap ancaman dan peluang di lingkungannya.

Pandangan ini mungkin terdengar keras, bahkan sinis. Namun sejarah modern menunjukkan betapa kuatnya daya jelajah realisme. Perang Dunia, Perang Dingin, hingga konflik kontemporer seperti invasi Rusia ke Ukraina, semuanya mencerminkan logika dasar realisme: negara bertindak bukan karena moralitas, tetapi karena kepentingan dan kekuasaan.

Strategi dalam Kacamata Realisme

Dalam kajian strategis, realisme berperan sebagai fondasi untuk memahami bagaimana negara merancang kebijakan pertahanan dan keamanan. Strategi, dalam arti sederhana, adalah seni menghubungkan sarana (means) dan tujuan (ends) melalui cara (ways) yang efektif. Dalam konteks realisme, strategi berfungsi untuk memaksimalkan kekuatan dan meminimalkan kerentanan.

Realisme menekankan bahwa kekuatan militer adalah instrumen utama strategi. Namun, ia juga mengakui pentingnya balance of power atau keseimbangan kekuatan. Konsep ini menjelaskan bagaimana negara-negara berkoalisi atau menyeimbangkan diri terhadap kekuatan dominan demi mencegah dominasi satu pihak.

Contoh konkret dapat dilihat dalam strategi keamanan Indo-Pasifik saat ini. Kebijakan Amerika Serikat untuk memperkuat aliansi dengan Jepang, Korea Selatan, Australia, dan India melalui kerangka seperti Quad atau AUKUS adalah bentuk nyata dari balancing strategy. Di sisi lain, kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan militer dan ekonomi regional menjadi ilustrasi klasik power transition theory di mana negara yang sedang naik daun berpotensi menantang hegemoni lama.

Realisme dan Kepentingan Nasional Indonesia

Dalam konteks Indonesia, realisme sering kali dianggap “terlalu keras” untuk dijadikan panduan kebijakan luar negeri. Padahal, prinsip dasar realisme dapat ditemukan dalam doktrin politik luar negeri bebas dan aktif.

“Bebas” berarti tidak terikat secara ideologis atau militer pada kekuatan mana pun, sementara “aktif” berarti ikut berperan dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Keduanya mencerminkan kesadaran realistis bahwa Indonesia harus mengelola kepentingannya di tengah rivalitas global, dengan mengutamakan kemandirian dan keamanan nasional.

Pendekatan realistis juga tampak dalam strategi pertahanan Indonesia yang berorientasi pada minimum essential force. Kebijakan ini menunjukkan pemahaman bahwa keamanan bukan hanya soal idealisme perdamaian, tetapi juga kemampuan riil untuk mempertahankan kedaulatan. Dalam konteks Laut Cina Selatan misalnya, diplomasi Indonesia yang tegas terhadap pelanggaran wilayah oleh kapal asing memperlihatkan penerapan prinsip realisme: mempertahankan kepentingan nasional di atas segalanya.

Realisme di Era Globalisasi: Masih Relevan?

Kritikus sering menuduh bahwa realisme sudah usang di tengah dunia yang semakin saling terhubung. Globalisasi, interdependensi ekonomi, dan aktor non-negara dianggap telah melemahkan peran kekuasaan tradisional. Namun kenyataannya, konflik dan rivalitas geopolitik justru menunjukkan kebalikannya.

Perang dagang AS–Tiongkok, perlombaan teknologi militer, dan persaingan energi di Timur Tengah membuktikan bahwa kekuasaan dan keamanan masih menjadi mata uang utama dalam hubungan antarnegara. Bahkan kerja sama multilateral seperti ASEAN atau PBB tidak bisa sepenuhnya menghapus logika anarki internasional.

Realisme, dengan segala kesederhanaannya, tetap menjadi kompas untuk membaca strategi global. Ia mungkin tidak menawarkan solusi ideal, tetapi memberikan kerangka berpikir yang jernih: dunia tidak diatur oleh niat baik, melainkan oleh kekuatan dan kepentingan.

Belajar Bersikap Realistis

Bagi mahasiswa dan praktisi kajian strategis, memahami realisme bukan berarti menjadi pesimis terhadap perdamaian, melainkan menyadari bahwa keamanan tidak datang dengan sendirinya. Ia harus diusahakan, dijaga, dan dipertahankan.

Realisme mengajarkan bahwa strategi yang baik lahir dari kesadaran akan keterbatasan—bahwa setiap negara, sekecil apa pun, memiliki kepentingan untuk bertahan. Dalam dunia yang terus berubah, bersikap realistis bukan berarti menolak idealisme, tetapi menyeimbangkannya dengan rasionalitas dan kepentingan nasional.

Dalam bahasa Machiavelli: “Lebih baik ditakuti daripada dicintai, jika keduanya tidak bisa dimiliki.” Mungkin itulah pelajaran paling abadi dari realisme bahwa strategi tanpa kekuatan hanyalah harapan kosong, sementara kekuatan tanpa strategi hanyalah potensi yang terbuang.