Duduk di Kursi Indomaret: Sisifus yang Bahagia di Pinggir Jalan

Mahasiswa S1 Teknik dan Manajemen Lingkungan IPB
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ihsan Ali Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di seberang jalan kota, di bawah cahaya lampu neon yang tak pernah padam, ada satu pemandangan yang telah menjadi bagian dari lanskap urban Indonesia: sekelompok laki-laki duduk di kursi plastik depan Indomaret. Tak banyak yang mereka lakukan—mengobrol, merokok, bermain gawai, atau menyeruput kopi botolan. Sekilas, itu tampak seperti momen iseng, rutinitas kecil yang tak penting. Tetapi, benarkah sesederhana itu?
Jika kita meminjam kacamata Albert Camus, filsuf Prancis yang menulis tentang absurditas dan perlawanan terhadapnya, pemandangan itu bukan sekadar nongkrong biasa. Di balik diam, tawa kecil, dan asap rokok itu, bisa jadi mereka sedang menjalani pemberontakan paling sunyi, bentuk kebebasan paling jujur: memilih untuk melawan absurditas dunia.
Camus mengatakan bahwa hidup ini absurd: manusia haus makna, tetapi dunia tak memberikan jawaban. Kita hidup, bekerja, mengejar tujuan, hanya untuk menyadari bahwa tak ada satu pun yang benar-benar menjelaskan mengapa semua ini terjadi. Dalam bukunya The Myth of Sisyphus (1942), Camus bertanya: “Jika hidup tak bermakna, apakah bunuh diri adalah solusi?” Jawabannya: tidak. Justru, kita harus terus hidup—dan sadar—akan absurditas itu.
Lalu, apa hubungannya dengan para pria yang duduk di kursi Indomaret? Mungkin, mereka adalah Sisifus zaman sekarang, yang tidak mendorong batu ke puncak gunung, tetapi mengulang hari dengan duduk di tempat yang sama, memandangi lalu lintas, berbagi cerita receh, atau diam bersama.
Di dunia yang memuja produktivitas dan pencapaian, tindakan “tidak melakukan apa-apa” menjadi subversif. Duduk diam menjadi bentuk perlawanan terhadap dunia yang terus berlari. Mereka tidak sibuk mengejar startup, tidak berswafoto di kafe mahal, tidak memaksakan pencapaian. Mereka sekadar ada—dan itu sudah cukup. Camus menyebut ini sebagai pemberontakan melawan absurditas dengan kesadaran dan kebebasan.
Lebih jauh, mereka mungkin tahu—atau tidak tahu—bahwa dunia tak akan menjawab pertanyaan mereka. Namun, dengan duduk di sana—menolak tergesa—mereka seperti berkata, “Aku tahu ini semua kosong, tetapi aku tetap di sini.” Itulah bentuk keberanian ala Camus: tidak melarikan diri ke ilusi, tidak menyerah, hanya hidup dan sadar.
Menariknya, para “filsuf trotoar” ini tidak sendirian. Mereka punya komunitas kecil, sekelompok teman sepergaulan yang bisa tertawa tanpa topeng sosial. Di dunia absurd, persahabatan menjadi obat—sesuatu yang juga digambarkan Camus dalam novelnya The Plague, di mana solidaritas manusia menjadi makna itu sendiri.
Dan jika kita perhatikan lebih saksama, mungkin mereka tidak benar-benar mencari makna, tetapi hanya menikmati kebebasan kecil: memilih untuk duduk di mana mereka mau, dengan siapa mereka mau. Mereka tidak tunduk pada keharusan dunia, melainkan hidup dalam ruang bebas yang mereka bentuk sendiri.
Duduk di kursi depan Indomaret adalah bentuk seni yang sederhana. Di tengah kota yang bising dan penuh ambisi, mereka menciptakan jeda—sebuah “pause” yang langka. Mereka tidak mengejar waktu, tetapi memperlambatnya. Mereka tidak takut disebut tidak produktif, karena ukuran keberhasilan bukanlah gelar atau saldo bank, melainkan ketenangan dalam menjalani hari.
Mungkin kita yang terlalu sibuk justru iri pada mereka yang bisa duduk dengan tenang, tertawa ringan, dan tidak terburu-buru. Di balik penampilan biasa, mereka sedang menjalani filsafat yang dalam. Mereka tahu dunia ini absurd, tetapi tetap hidup. Mereka tidak mengutuk hidup, melainkan menikmatinya dalam bentuk paling sederhana.
Jadi, lain kali kamu melihat pria duduk di kursi depan Indomaret—dengan kaus oblong dan kopi seharga empat ribuan—jangan langsung menilainya sebagai orang iseng. Mungkin, mereka adalah Camus kecil yang sedang memberontak, sedang berdamai dengan absurditas, dan sedang hidup dalam kebebasan.
