Perpustakaan, Budaya Baca, dan Tantangan Kepakaran di Era Digital

Advokat di JRP Law Firm, Pegiat di Sulbar Connection Forum: sebuah forum yang fokus melakukan kajian terkait isu-isu sosial, politik, hukum, lingkungan, dan pendidikan. Merupakan Alumni Universitas Islam Indonesia.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Ihsan Tahir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perpustakaan sejatinya adalah jantung kehidupan intelektual sebuah bangsa, penyimpan khazanah ilmu pengetahuan dan budaya yang menjadi sumber inspirasi maupun pengembangan diri bagi seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia, perpustakaan memiliki sejarah panjang sebagai lembaga yang mendukung belajar dan riset, namun sering kali masih terabaikan baik dari segi fasilitas maupun perhatian publik. Kondisi perpustakaan di berbagai wilayah masih terseok-seok akibat keterbatasan anggaran, pengelolaan yang kurang profesional, hingga rendahnya apresiasi masyarakat terhadap fungsi perpustakaan.
Budaya baca yang melekat pada masyarakat Indonesia pun tergolong rendah jika dibandingkan negara lain, hal ini tercermin dari survei tingkat minat baca yang menempatkan Indonesia pada peringkat yang tidak membanggakan. Perpustakaan seharusnya menjadi ruang publik strategis untuk membangun budaya baca yang kuat, menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini, serta menjadi pencetus lahirnya pengetahuan yang berkualitas. Namun realitas memperlihatkan bahwa perpustakaan belum berhasil bertransformasi menjadi ruang belajar yang menarik dan adaptif terhadap perubahan zaman, terutama di era digital ini.
Generasi Muda dan Abainya Membaca Buku
Generasi muda sebagai penerus peradaban dihadapkan pada paradoks yang mencemaskan: akses informasi semakin mudah melalui teknologi, tetapi minat membaca buku cetak secara mendalam justru menurun. Salah satu penyebab utama abainya generasi muda dalam membaca buku adalah kecanduan media sosial dan hiburan digital. Banyak anak muda lebih menghabiskan waktu menggunakan gawai untuk menonton video, bermain game, dan berselancar di media sosial daripada membaca buku dengan fokus dan ketekunan. Selain itu, variasi bahan bacaan yang tersedia di pasaran masih cenderung terbatas dan tidak selalu menarik minat baca anak muda, di mana dominasi buku pelajaran dan gaya penyajian yang monoton menjadi faktor penyebab kebosanan. Keterbatasan akses terhadap buku berkualitas dan harga buku yang relatif tinggi juga menghambat mereka untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
Fenomena rendahnya minat baca di kalangan generasi muda Indonesia selama kurun waktu 2024 hingga sekarang masih menjadi persoalan yang serius dan mendapatkan perhatian berbagai pihak. Data dan riset terkini menunjukkan adanya kontradiksi antara kemudahan akses informasi di era digital dengan kenyataan bahwa generasi muda kian abai terhadap kegiatan membaca buku secara mendalam dan rutin.
Menurut survei Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tahun 2024, hanya sekitar 37% anak muda di bawah usia 25 tahun yang memiliki kebiasaan membaca buku secara rutin. Angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan dengan data tahun 2015 yang mencapai 54%. Data tersebut menunjukkan kecenderungan menurunnya budaya membaca di kalangan muda khususnya generasi Z, yang saat ini mendominasi populasi muda Indonesia. Penyebab utama dari kondisi ini adalah dominasi penggunaan media digital dan hiburan online, di mana generasi muda lebih tertarik menghabiskan waktu bermain game, menonton video singkat, dan berselancar di media sosial daripada membaca buku secara mendalam.
Fenomena ini diperparah dengan munculnya budaya literasi yang belum sepenuhnya tumbuh di lingkungan keluarga dan sekolah, yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun minat baca. Banyak perpustakaan sekolah yang belum dioptimalkan fungsinya sehingga peranannya sebagai sumber belajar mendalam menjadi kurang maksimal. Sikap acuh terhadap buku fisik juga menimbulkan risiko terhadap hilangnya kemampuan kritis dan analitis akibat pengalaman membaca yang impulsif dan tidak fokus. Dalam konteks pendidikan formal, perpustakaan sekolah yang seharusnya menjadi pusat sumber belajar pun banyak yang tidak difungsikan secara maksimal, sehingga peluang generasi muda untuk meresapi karya-karya berbobot menjadi terbatas. Terlepas dari upaya digitalisasi perpustakaan, isyu kesadaran dan motivasi internal untuk mencintai buku perlu dipupuk sejak dini agar muncul generasi pembelajar yang bertanggung jawab dan menghargai ilmu secara utuh.
Matinya Kepakaran dan Merebaknya Hoax
Salah satu dampak serius dari rendahnya budaya baca adalah menurunnya tingkat kepakaran dalam berbagai bidang keilmuan dan profesional. Model pembelajaran yang dangkal dan konsumsi informasi yang tidak kritis memicu matinya kepakaran, karena proses penguasaan suatu ilmu membutuhkan waktu, penghayatan, dan pendalaman yang konsisten.
Fenomena matinya kepakaran menjadi salah satu tantangan terbesar dalam masyarakat modern, termasuk di Indonesia saat ini. Generasi sekarang hidup dalam era banjir informasi yang didominasi oleh media sosial, di mana segala bentuk informasi dapat tersebar dengan cepat tanpa filter ketat atau verifikasi ilmiah. Ironisnya, dalam situasi ini, kepercayaan terhadap kepakaran yang sejati justru semakin menurun, sementara hoax, informasi palsu, dan narasi dangkal yang instan justru lebih mudah dipercaya dan menyebar luas.
Salah satu akar permasalahan adalah munculnya sikap skeptis kepada para ahli atau pakar yang dianggap 'elit' dan jauh dari kehidupan sehari-hari, sehingga masyarakat digital lebih gampang menerima klaim dari sumber yang sifatnya populer, viral, atau mengonfirmasi bias mereka. Dalam konteks ini, hoax mendapatkan ruang yang besar karena informasi yang pendek, sederhana, dan emosional lebih cepat menarik perhatian dan dipercaya dibanding penjelasan ilmiah yang komprehensif dan memerlukan pemahaman mendalam.
Hoax tidak hanya mendistorsi pengetahuan, tetapi juga mengikis kepercayaan publik terhadap narasi keilmuan dan fakta objektif. Kondisi ini memunculkan krisis epistemologis dan intelektual yang dapat melemahkan fondasi masyarakat yang sehat dan demokratis. Kepakaran sejati menuntut integritas, kerja keras, dan ketajaman berpikir yang diperoleh lewat kebiasaan baca dan riset mendalam, sementara hoax mengandalkan viralitas yang sederhana tanpa mempertimbangkan keabsahan. Dengan kata lain, kemudahan mengakses informasi belum tentu berbanding lurus dengan kualitas pengetahuan. Fenomena di mana individu dengan pengetahuan terbatas dalam suatu bidang cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang berlebihan sehingga merasa tahu lebih banyak daripada pakar. Di media sosial, kondisi ini diperparah oleh algoritma yang memfasilitasi penyebaran konten tanpa memandang kualitas, sehingga hoax seolah mendapatkan 'legitimasi' melalui viralitasnya.
Dampak dari matinya kepakaran sangat serius, yaitu menurunnya kualitas pengambilan keputusan individual maupun kolektif, makin eratnya polarisasi opini, serta makin mudahnya manipulasi publik oleh informasi yang salah. Krisis kepercayaan terhadap narasi keilmuan membuka celah bagi tindakan populisme dan penerapan kebijakan yang tidak berdasarkan bukti, yang berpotensi merugikan kemajuan bangsa. Maka dari itu, diperlukan upaya serius untuk mengembalikan martabat kepakaran melalui pendidikan literasi digital, penguatan etika keilmuan, dan membangun kembali kepercayaan publik dengan transparansi dan keterbukaan.
Generasi muda harus dididik untuk menjadi pembaca kritis yang mampu menilai kredibilitas informasi dan menghargai proses pemikiran ilmiah sebagai sumber utama pengetahuan.
Generasi yang Memuliakan Ilmu
Membangun masa depan generasi yang memuliakan ilmu pengetahuan dan membudayakan membaca buku merupakan tugas bersama yang membutuhkan komitmen serius dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pemerintah, institusi pendidikan, keluarga, dan komunitas literasi. Perpustakaan harus direvitalisasi menjadi ruang belajar yang inspiratif dan inklusif, sedangkan budaya membaca perlu dijadikan gaya hidup yang dihargai dan diinternalisasi sejak dini.
Generasi muda harus diarahkan untuk menjadi pembaca kritis yang mampu menyaring informasi dengan bijak, menghargai proses mendalam dalam penguasaan ilmu, dan menolak tawaran hoax demi kepentingan sesaat. Penguatan kepakaran akan membuka jalan bagi kemajuan bangsa yang berlandaskan pengetahuan autentik dan kematangan intelektual. Dengan demikian, membaca dan perpustakaan menjadi benteng utama dalam membentuk masyarakat beradab yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan harapan membawa perubahan positif bagi generasi bangsa Indonesia.
Tabik.
