Konten dari Pengguna

Ketika Satu Orang Harus Menjadi Sistem

Muhammad Ikmal

Muhammad Ikmal

Pemerhati isu sosial, perpajakan dan ekonomi publik. Aktif menulis artikel opini dan analisis populer tentang kebijakan Publik, pajak, APBN/APBD, ekonomi digital, serta reformasi tata kelola fiskal.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ikmal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Keuangan Indonesia yang baru dilantik Purbaya Yudhi Sadewa melambai kepada wartawan usai pelantikannya di Istana Kepresidenan di Jakarta (8/9/2025). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Keuangan Indonesia yang baru dilantik Purbaya Yudhi Sadewa melambai kepada wartawan usai pelantikannya di Istana Kepresidenan di Jakarta (8/9/2025). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Tentang Purbaya, Survival Mode, dan Rapuhnya Akal Sehat Fiskal Kita

Pada Jumat 24 April 2026, dalam sebuah taklimat media di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengucapkan dua hal sekaligus. Pertama, soal negara:

"Survival mode artinya kita enggak boleh main-main lagi. Tidak ada ruang untuk kesalahan."

Kedua, tanpa diminta, soal dirinya sendiri:

“Sampai sekarang sakit juga. Ini sakit pinggang. Ini disuntik kemarin delapan titik. Kalau enggak, nggak bisa saya berdiri begini.”

Seusai acara, ia kesulitan bangkit dari kursinya dan harus dibantu ajudan. Akhir pekan berikutnya, media sosial heboh: Purbaya disebut ambruk, masuk ICU, gula darah 600. Kemenkeu membantah. Purbaya menjawab dengan video berenang di TikTok. Soal hoaksnya tidak penting. Yang penting adalah ini: saat kabar seorang menteri keuangan sakit sudah cukup mengguncang pasar dan opini publik, kita sedang menyaksikan bukan soal kekuatan seseorang, melainkan ketergantungan sebuah sistem.

Delapan suntikan di punggung seorang menteri adalah metafora yang terlalu jujur untuk diabaikan.

Ruang yang Menyempit

Dua hari sebelumnya—dalam Simposium PT SMI di Ayana Midplaza (22 April)—Purbaya sudah menegaskan konteksnya: survival mode bukan sinyal krisis, melainkan penegasan disiplin. Namun, konteks fiskalnya memang menuntut keseriusan itu.

Ilustrasi penggunaan belanja dari APBN. Foto: Dok Kemenkeu

Per 31 Maret 2026, defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB, melonjak 140,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilai tukar melampaui asumsi APBN, harga minyak melonjak di atas proyeksi, dan target penerimaan pajak tumbuh 21,5% dinilai terlalu optimistis oleh banyak ekonom. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia 4,7% tahun ini jauh di bawah target resmi APBN 5,4%, dan lebih jauh lagi dari visi jangka menengah 8%.

Responsnya konkret: Keppres Nomor 4 Tahun 2026 membentuk satgas percepatan ekonomi. Efisiensi belanja dijalankan lintas kementerian. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipangkas dari enam menjadi lima hari per pekan, hemat Rp20 triliun. Kementerian PU terkena pemangkasan Rp12,71 triliun. Tidak ada lagi kawasan yang benar-benar kebal.

Tubuh sebagai Cermin Institusi

Dalam psikologi stres, ada konsep allostatic load, yaitu beban kumulatif yang ditanggung tubuh akibat tekanan berkepanjangan. Tubuh manusia bisa menahan lama, tetapi ia selalu mencatat—dan pada titik tertentu, ia menagih.

Sakit pinggang adalah tagihan yang paling jinak. Yang lebih mengkhawatirkan adalah apa yang tidak tampak: kualitas keputusan yang melemah di bawah tekanan berkelanjutan, dan institusi yang perlahan terbiasa bergantung pada satu orang untuk tetap berfungsi normal. Kepanikan publik atas kabar sakit Purbaya, meski berupa hoaks, adalah sinyal valid: kita sudah terbiasa membaca stabilitas fiskal negara melalui lensa kesehatan satu individu.

Itu bukan tanda kekuatan. Itu tanda ketergantungan.

Romantisme yang Berbahaya

Ada godaan untuk membingkai Purbaya sebagai pahlawan fiskal, sang penjaga gawang yang tetap berdiri meski punggungnya terbakar. Narasi itu dramatis dan memuaskan. Namun, ia menyembunyikan asumsi yang tidak pernah kita pertanyakan:

Bahwa sistem kita memang dirancang bergantung pada individu, bukan pada institusi.

Ilustrasi Gedung Kementerian Keuangan RI. Foto: Wulandari Wulandari/Shutterstock

Jika Kemenkeu berfungsi sebagai benteng rasionalitas hanya karena ada Purbaya di dalamnya—bukan karena mekanisme dan budaya kelembagaan yang memaksa siapa pun di posisi itu berpikir jangka panjang—kita tidak sedang menyaksikan kekuatan seorang menteri. Kita sedang menyaksikan kelemahan struktural yang disamarkan oleh kehadiran satu orang yang kebetulan kompeten.

Indonesia punya tradisi panjang menggantungkan harapan institusional pada figur personal. Sri Mulyani pernah menjadi simbol itu. Sebelumnya, ada nama-nama lain. Setiap kali figur itu pergi, masa transisi ketidakpastian tiba dan biayanya selalu ditanggung publik.

Purbaya adalah mata rantai terbaru dalam rantai yang sama. Dan selama kita merayakan individunya tanpa mempertanyakan rantainya, kita akan terus mengulang siklus ini, bahkan ketika mata rantai itu harus disuntik delapan kali agar tidak putus.

Mewarisi Lebih dari Sekadar Kursi

Survival mode pada institusi dan pada individunya bekerja dengan logika yang sama: memangkas yang tidak mendesak demi mempertahankan yang paling vital. Masalahnya, survival mode yang berkepanjangan bukan lagi strategi. Ia menjadi kondisi permanen. Dan kondisi permanen yang awalnya darurat adalah definisi lain dari kemunduran yang tidak disadari.

Tidak ada menteri keuangan yang seharusnya perlu disuntik delapan titik agar bisa berdiri di podium dan menerangkan kondisi negara. Bukan karena itu bukti kelemahan, melainkan karena beban itu sudah seharusnya ditanggung oleh sebuah sistem, bukan oleh satu tubuh manusia.

Reaksi Menteri Keuangan Indonesia yang baru dilantik Purbaya Yudhi Sadewa usai serah terima jabatan di Kementerian Keuangan di Jakarta (9/9/2025). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Warisan terberharga yang bisa Purbaya tinggalkan bukan angka defisit yang terjaga atau kepercayaan pasar yang dipertahankan, melainkan hal ini:

Sebuah Kemenkeu tidak membutuhkan Purbaya untuk tetap berfungsi sebagai Kemenkeu.

Institusi yang benar-benar kuat adalah institusi yang karakternya tidak ikut pergi ketika orangnya berganti atau ketika punggungnya tidak lagi bisa menopang bebannya sendiri.

Survival mode boleh jadi respons yang tepat untuk hari ini. Namun, yang kita butuhkan adalah arsitektur fiskal yang tidak membutuhkan siapa pun untuk survive sendirian dengan atau tanpa delapan suntikan di punggungnya.

Karena benteng yang bergantung pada satu penjaga bukan benteng. Ia adalah risiko yang sedang kita tunda untuk dihadapi.