Ruang Berdebu Menjadi Ruang Imajinasi: Mahasiswa UAD Hidupkan Kembali Literasi

Seorang mahasiswa di universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ilham tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah gempuran gawai dan konten instan yang menggerus minat baca anak, sebuah ikhtiar literasi lahir dari SD Muhammadiyah Karangploso, Kabupaten Bantul. Mahasiswa PLP-KKN Unit III.A.1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta tidak sekadar melakukan pengabdian, mereka merevitalisasi jantung sekolah yang sempat mati suri: perpustakaan.
Fenomena menurunnya minat baca pada anak usia sekolah dasar adalah pekerjaan rumah bersama. Data dan potret di lapangan menunjukkan perpustakaan di banyak SD masih identik dengan ruangan pengap, koleksi buku yang tidak tertata rapi, sistem peminjaman yang manual, dan minimnya kunjungan siswa. Kondisi serupa sebelumnya juga menjadi potret di SD Muhammadiyah Karangploso.

Berangkat dari keprihatinan itu, tim PLP-KKN UAD Unit III.A.1 merancang program revitalisasi perpustakaan sebagai program kerja unggulan. Tujuannya satu, mengembalikan perpustakaan pada fungsi hakikinya sebagai pusat sumber belajar dan pusat tumbuhnya imajinasi siswa.
Pembenahan dilakukan secara menyeluruh dan partisipatif. Tahap pertama adalah inventarisasi dan kurasi koleksi. Ratusan buku dipilah, dibersihkan, dan dikatalogkan ulang berdasarkan jenjang dan kategori agar mudah dicari oleh siswa. Tahap kedua, penataan ulang tata letak ruang. Rak buku ditata lebih ergonomis, area baca lesehan yang ramah anak dihadirkan, serta pencahayaan ruangan diperbaiki agar lebih terang dan nyaman.
Tidak berhenti di situ, sentuhan visual juga diberikan. Dinding perpustakaan yang semula polos kini dihiasi dekorasi edukatif, pojok baca yang penuh warna, serta kutipan-kutipan inspiratif yang memancing rasa ingin tahu anak. Hasilnya, perpustakaan yang semula sepi dan kurang terawat kini bertransformasi menjadi ruang yang hidup, rapi, dan menyenangkan.
"Kami tidak ingin perpustakaan hanya menjadi gudang penyimpanan buku. Kami ingin ia menjadi rumah kedua bagi imajinasi anak-anak. Ketika ruangnya nyaman, bukunya mudah ditemukan, dan suasananya ceria, maka anak-anak akan datang dengan sendirinya tanpa harus disuruh," ujar perwakilan tim PLP-KKN Unit III.A.1 UAD.
Inisiatif ini pun mendapat sambutan hangat dan apresiasi dari pihak sekolah. Pihak guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah Karangploso menilai program ini memberikan dampak nyata. Antusiasme siswa untuk berkunjung ke perpustakaan meningkat drastis. Mereka lebih betah berlama-lama membaca, berdiskusi, dan mengerjakan tugas di perpustakaan. Secara tidak langsung, program ini turut memperkuat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dicanangkan pemerintah.
Lebih dari sekadar program pengecatan dan penataan, apa yang dilakukan mahasiswa UAD ini adalah investasi jangka panjang. Literasi adalah fondasi utama dalam membangun generasi yang kritis, kreatif, dan berakhlak. Di era digital, kemampuan untuk memilah informasi, memahami bacaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu adalah kunci.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar ini menjadi bukti bahwa pengabdian mahasiswa bukan hanya formalitas akademik. Ia adalah jembatan untuk menghadirkan solusi konkret bagi permasalahan pendidikan di tingkat akar rumput. Harapannya, gerakan revitalisasi ini tidak berhenti ketika masa KKN usai, melainkan dirawat dan dilanjutkan sebagai budaya sekolah.
Sebab pada akhirnya, memajukan pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan hal yang besar dan mahal. Terkadang, ia cukup dimulai dengan menata kembali sebuah rak buku, membersihkan debu di sebuah meja baca, dan mengembalikan senyuman anak-anak di dalam perpustakaan.
