Konten dari Pengguna

Agama yang Dipermainkan

Muhammad Ilham Fudholi

Muhammad Ilham Fudholi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source : Chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Source : Chatgpt.com

Islam sebagai agama yang mengajarkan kedamaian, keadilan, dan cinta kasih, kini semakin sering menjadi bahan permainan dan sasaran diskriminasi di berbagai penjuru dunia. Gejala Islamofobia tidak lagi tersembunyi, melainkan mulai terlihat secara terang-terangan, baik dalam tindakan personal, kebijakan negara, maupun dalam pernyataan politik yang kerap memanfaatkan isu agama untuk kepentingan pribadi. Ruang yang seharusnya menjadi tempat suci bagi umat justru sering disalahgunakan sebagai alat untuk menekan dan memojokkan umat Islam.

Beberapa kejadian akhir-akhir ini memperlihatkan bagaimana agama Islam sering dijadikan sasaran dalam ruang publik. Di Inggris, dua puluh tahun setelah peristiwa bom 7/7, masyarakat Muslim masih terus menghadapi prasangka dan beban stereotip yang tidak adil. Sepanjang tahun 2024, angka Islamofobia melonjak drastis hingga 73%. Umat Muslim di sana merasa hidup di bawah pengawasan yang berlebihan, seakan mereka harus terus membuktikan bahwa mereka tidak berbahaya. Kebijakan seperti "Prevent" yang awalnya ditujukan untuk mengatasi ancaman terorisme, dalam praktiknya seringkali justru memperluas stigma negatif terhadap umat Islam. Berbagai diskusi tentang Islam di ruang publik pun cenderung bias dan penuh dengan asumsi yang tidak adil.

Situasi serupa juga terjadi di Amerika Serikat. Zohran Mamdani, seorang politisi Muslim, baru-baru ini mendapat serangan verbal dari Rudy Giuliani, tokoh politik yang menyebutnya sebagai ekstremis Muslim dan musuh Amerika. Padahal, Mamdani dengan tegas menolak kekerasan dan menolak dikaitkan dengan kelompok radikal. Tuduhan semacam ini tidak hanya mencerminkan ketidakadilan yang menimpa individu, tetapi juga menunjukkan bagaimana Islam sering dijadikan alat politik untuk membentuk opini negatif di masyarakat.

Di belahan dunia lain, seperti Australia dan Jerman, Islamofobia juga terus meningkat. Di Australia, laporan terbaru menunjukkan ratusan kasus kebencian terhadap umat Muslim, mulai dari kekerasan fisik, pelecehan verbal, hingga serangan di dunia maya. Ironisnya, perempuan Muslim menjadi kelompok yang paling banyak menjadi korban. Sementara di Jerman, tindakan diskriminasi terhadap umat Islam seperti perusakan masjid, penghinaan di tempat umum, dan perlakuan tidak adil dalam kehidupan sehari-hari semakin sering terjadi. Kondisi ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya dipermainkan dalam wacana politik, tetapi juga menjadi sasaran langsung dalam berbagai tindakan nyata yang mengancam rasa aman umat Muslim.

Belum lama ini, di Inggris muncul pula usulan undang-undang kebebasan berekspresi yang secara terselubung dapat membuka peluang bagi orang-orang untuk mengkritik agama tanpa batasan hukum yang jelas. Meskipun kebebasan berpendapat penting untuk dijaga, namun aturan seperti ini dikhawatirkan dapat membuka celah bagi penghinaan dan ujaran kebencian terhadap agama, termasuk Islam. Di sisi lain, peristiwa pembakaran Al-Qur’an yang terjadi di beberapa negara Eropa semakin menunjukkan bahwa agama Islam sering menjadi objek yang diserang atas nama kebebasan berekspresi.

Konflik antara Gaza dan Israel yang meletus pada Oktober 2023 turut memperburuk situasi. Sejak peristiwa itu, gelombang Islamofobia semakin menyebar secara global, termasuk di Inggris, Amerika Serikat, dan Australia. Umat Islam di berbagai negara mengalami peningkatan signifikan dalam hal pelecehan, ancaman, bahkan kekerasan fisik. Konflik yang terjadi di Timur Tengah seringkali digeneralisasi dan dikaitkan dengan Muslim di negara Barat, meskipun mereka sama sekali tidak terlibat. Hal ini semakin menegaskan bahwa agama Islam kerap dijadikan permainan dalam narasi media dan politik sebagai simbol ancaman, padahal kenyataannya mayoritas umat Muslim justru mengusung perdamaian.

Source : pexels.com

Agama seharusnya menjadi tempat yang dijaga kesuciannya, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan politik atau menjadi sasaran kebencian. Meningkatnya Islamofobia dan penggunaan isu Islam dalam politik menunjukkan bahwa penghargaan terhadap keyakinan umat Islam masih perlu terus diperjuangkan. Setiap Muslim berhak untuk hidup dengan rasa aman, bebas dari diskriminasi, dan dapat menjalankan ibadah dengan tenang tanpa rasa takut.

Tanggung jawab untuk melawan ketidakadilan ini menjadi tugas bersama. Pendidikan yang menyeluruh, kebijakan yang berpihak pada keadilan, serta dialog antaragama yang terbuka menjadi langkah penting untuk menghentikan permainan atas nama agama. Kesadaran bersama harus dibangun agar tidak ada lagi agama yang dijadikan bahan ejekan atau alat untuk meraih kekuasaan. Sebaliknya, agama harus ditempatkan sebagai sumber kedamaian dan manfaat bagi semua manusia.