Di Balik Sikap Dingin Anak, Ternyata Ada Luka yang Tak Terlihat

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringkali kita salah menilai. Melihat anak yang pendiam, tampak acuh, atau sengaja menjaga jarak, kita buru-buru memberi cap: “Anak ini sombong,” atau “Dia pasti tidak suka berteman,” bahkan ada yang mengira, “Mungkin dia memang nyaman sendirian.” Padahal, di balik wajah datar yang tampak dingin itu, tersimpan kisah yang tak pernah mereka ceritakan. Ada luka lama yang diam-diam mereka bawa, ada ketakutan dalam hati yang sulit mereka ungkapkan.
Anak-anak yang terkesan dingin sesungguhnya sedang berjuang melawan ketakutan dalam diri mereka sendiri. Bukan takut pada orang lain, tapi takut pada rasa ditolak, takut dianggap tidak cukup baik, takut jika mereka mulai dekat, justru mereka akan tersakiti.
Bukan berarti mereka tidak ingin punya teman. Bukan berarti mereka tidak ingin dicintai. Mereka ingin mereka sangat ingin. Namun, pengalaman pahit seperti pernah diabaikan, dimarahi, atau dihianati membuat mereka mundur. Menjaga jarak terasa lebih aman daripada harus merasakan luka yang sama untuk kedua kalinya. Itulah tembok pelindung yang mereka ciptakan.
Sayangnya, banyak orang dewasa tidak melihat sisi ini. Kita justru memaksa mereka berubah secepatnya, mendesak mereka agar lebih terbuka, bahkan menyebut mereka ‘aneh’ atau ‘bermasalah’. Tapi, semakin kita dorong, semakin mereka menutup diri.
Yang mereka butuhkan bukan desakan, tapi penerimaan. Mereka butuh rasa aman. Mereka butuh keyakinan bahwa tidak semua orang akan pergi. Mereka butuh diyakinkan, bukan dengan kata-kata indah, tapi dengan kehadiran yang sederhana.
Terkadang, cukup duduk diam bersama mereka. Terkadang, cukup tersenyum tulus saat mereka mulai berbagi, meski hanya sedikit. Perlahan, mereka akan percaya, bahwa membuka diri tidak selalu berakhir dengan rasa sakit.
Anak-anak yang tampak dingin itu, sebenarnya sedang menunggu untuk dipahami. Mereka tidak mencari sosok yang sempurna. Mereka hanya butuh seseorang yang sabar. Seseorang yang mau memberi ruang yang hangat tanpa menghakimi. Mereka butuh tahu bahwa mereka berharga, bahkan dengan semua ketakutan yang mereka bawa.
Di balik sikap dingin mereka, ada hati yang ingin disayangi. Dan mungkin, tanpa kita sadari, mereka sedang menunggu kita bukan untuk memaksa masuk, tapi untuk dengan sabar mengetuk pintu hatinya dan tetap setia hadir di sisi mereka.
Referensi:
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Routledge.
Karen, R. (1998). Becoming Attached: First Relationships and How They Shape Our Capacity to Love. Oxford University Press.
Psychology Today. (n.d.). Avoidant Personality Disorder.
