Konten dari Pengguna

Ketika Dosen Lupa Jadi Mahasiswa

Muhammad Ilham Fudholi

Muhammad Ilham Fudholi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

UIN Jakarta sebagai salah satu kampus Islam terkemuka di Indonesia seharusnya menjadi tempat ideal bagi tumbuhnya intelektual yang humanis dan beretika. Namun, di balik dinding-dinding akademik, tak sedikit mahasiswa yang menyimpan cerita getir tentang relasi yang tidak setara antara dosen dan mahasiswa. Salah satu sorotan utamanya adalah minimnya empati dosen terhadap perasaan, kondisi psikologis, dan tekanan hidup yang dialami mahasiswa.

Source: ww.chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Source: ww.chatgpt.com

Beberapa mahasiswa mengaku merasa tertekan, bukan karena mata kuliah yang sulit, tetapi karena sikap dosen yang tidak sensitif terhadap beban mental mereka. Ada dosen yang mudah marah hanya karena tugas dikumpulkan telat beberapa jam, tanpa mendengarkan alasan. Ada pula yang membalas pesan mahasiswa dengan nada dingin atau bahkan tak merespons sama sekali, padahal komunikasi itu penting untuk kelancaran studi.

“Pernah saya telat mengumpulkan tugas karena harus menjaga orang tua yang sakit. Tapi balasan yang saya terima hanya ‘itu bukan urusan saya, deadline tetap deadline’. Saya sedih karena tidak dianggap sebagai manusia yang sedang berjuang,” ujar salah satu mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial.

Beberapa dosen terlalu terpaku pada prosedur administratif dan lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal target dan nilai, tetapi juga soal relasi dan pemahaman. Padahal, nilai akademik tidak akan bermakna jika relasi dosen-mahasiswa hanya didasari oleh ketakutan dan kepatuhan kaku, bukan rasa hormat dan kepercayaan.

Fenomena ini makin terasa ketika mahasiswa mencoba menyuarakan keresahan mereka namun tidak ditanggapi dengan serius. Ada rasa bahwa suara mahasiswa tidak cukup penting dibanding ego dosen yang merasa lebih tahu segalanya.

Ironisnya, hal ini terjadi di lingkungan kampus yang mengusung nilai-nilai Islam, yang sejatinya menekankan rahmah (kasih sayang), adab, dan empati. Banyak mahasiswa mempertanyakan, “Apakah gelar akademik telah membuat sebagian dosen lupa bahwa mereka pernah menjadi mahasiswa yang juga punya rasa lelah, takut gagal, dan butuh dimengerti?”

Source: www.pixabay.com

Di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa dosen juga menghadapi tekanan dari sistem birokrasi kampus. Namun, apakah tekanan itu cukup untuk membenarkan sikap apatis terhadap mahasiswa?

UIN Jakarta dan seluruh kampus pada umumnya harus mulai mengevaluasi relasi akademik yang ada. Perlu ada pelatihan etika komunikasi, empati, dan psikologi dasar bagi para dosen. Dosen bukan hanya penyampai materi, tetapi juga fasilitator tumbuhnya karakter mahasiswa yang sehat secara mental dan emosional.

Sudah saatnya dunia akademik berhenti melihat mahasiswa hanya sebagai penerima nilai, tetapi sebagai manusia seutuhnya yang juga berhak mendapatkan empati dan dukungan.

Sumber :

Natsir, M. (2022). Etika Komunikasi Akademik. Jakarta: Prenadamedia Group. https://prenadamedia.com

Zarkasyi, H. (2021). Pendidikan Berbasis Nilai Islam dan Kemanusiaan. Bandung: Mizan.

Wawancara Mahasiswa Anonim (2025).