Luka yang Ditertawakan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah tekanan hidup yang kian menyesakkan tagihan, konflik, beban sosial muncul perilaku yang tak biasa tapi mencuri perhatian: orang-orang yang justru menertawakan masalahnya sendiri. Bukan senyum tipis penuh optimisme, melainkan tawa keras seakan sedang menonton lawakan di tengah badai kehidupan. Bagi sebagian orang, ini tampak seperti kehilangan arah. Tapi bagi yang menjalaninya, tawa bisa jadi senjata paling ampuh untuk bertahan.

Tak semua orang menangis saat hidupnya runtuh. Ada yang justru tertawa, bukan karena situasinya lucu, tapi karena tubuh punya cara sendiri untuk bertahan. Tawa memicu pelepasan hormon endorfin penghilang stres alami dalam tubuh. Dalam dunia psikologi, ini disebut incongruent emotional response, yaitu ketika respons emosional tampak “tidak pas” dengan keadaan, namun tetap sah dan bermakna.
Tertawa saat menghadapi masalah bukan berarti kabur dari kenyataan. Justru, banyak orang menemukan kekuatan ketika mereka bisa melihat masalah dari sudut yang lebih ringan. Hidup yang terlalu serius kadang membuat kita kehabisan napas. Maka sedikit kegilaan tertawa, mengejek nasib, membuat lelucon dari luka bisa menjadi bentuk keberanian untuk tetap berdiri.
Fenomena ini tak berhenti di dunia nyata. Di media sosial, banyak orang membagikan cerita hidup yang pahit dengan gaya menghibur. Mulai dari kisah patah hati, pemutusan hubungan kerja, sampai tragedi rumah tangga dibawakan dengan tawa, sarkasme, bahkan parodi. Ada yang menyebutnya toxic positivity, tapi banyak juga yang merasa terwakili dan justru terhibur. Tertawa jadi cara berbagi luka yang lebih ringan.
Meski tawa bisa meredakan tekanan, ia bukan pelarian permanen. Masalah tetap perlu diselesaikan, bukan disapu di bawah karpet. Humor bisa jadi ruang istirahat, tapi bukan tempat tinggal. Digunakan dengan bijak, tawa bisa memberi jarak yang aman dari kecemasan, membuka ruang untuk berpikir lebih jernih dan rasional.
Menertawakan masalah bukan berarti lemah atau cuek. Justru itu bisa menjadi simbol bahwa seseorang sudah cukup kuat untuk tidak larut dalam kepedihan. Hidup sering kali penuh ironi, dan kadang, yang bisa kita lakukan hanyalah menertawakan absurditasnya. Selama tawa itu jujur, bukan pura-pura, maka ia layak dirayakan sebagai bagian dari perjalanan menyembuhkan diri.
Sumber :
Samson, A. C., & Gross, J. J. (2012). Humour as emotion regulation: The differential consequences of negative versus positive humour. Cognition & Emotion, 26(2), 375–384. https://doi.org/10.1080/02699931.2011.585069
Mayo Clinic. (2021). Stress relief from laughter? It’s no joke. Retrieved from https://www.mayoclinic.org
Psychology Today. (2020). Why Do We Laugh When We’re Uncomfortable or Upset? Retrieved from https://www.psychologytoday.com
American Psychological Association (APA). (2019). Emotion regulation strategies and psychological well-being. www.apa.org
