Konten dari Pengguna

Mahasiswa Berlomba-lomba dalam Mengerjakan Skripsi

Muhammad Ilham Fudholi

Muhammad Ilham Fudholi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa banyak mahasiswa merasa harus berlomba-lomba menyelesaikan skripsi? Secara kasat mata, dorongan itu terlihat wajar: ada tuntutan kampus, ekspektasi orang tua, dan keinginan untuk cepat lulus. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kebutuhan untuk “berlari” sering kali dipicu oleh perbandingan dengan teman sendiri. Melihat teman sudah seminar proposal atau bahkan sidang membuat sebagian mahasiswa merasa tertinggal, lalu muncul rasa iri, cemas, bahkan terburu-buru menyelesaikan skripsi hanya agar tidak dianggap paling lambat. Penelitian tentang perbandingan sosial menunjukkan bahwa melihat orang lain lebih maju bisa memotivasi, tetapi juga bisa merusak rasa percaya diri dan meningkatkan tekanan psikologis.

Source : Chatgpt.com
zoom-in-whitePerbesar
Source : Chatgpt.com

Mahasiswa Program Pengembangan Masyarakat Islam angkatan 2022, ada anggapan yang sering tidak disadari: bahwa mahasiswa yang cepat menyelesaikan skripsi pasti lebih pintar atau lebih rajin. Asumsi seperti ini dapat menyesatkan. Mahasiswa yang prosesnya lebih lambat kerap menganggap dirinya bermasalah, padahal bisa jadi hambatannya berasal dari faktor lain, seperti dosen pembimbing yang sulit ditemui, fasilitas referensi yang kurang memadai, banyaknya tanggungan organisasi atau pekerjaan, atau kondisi mental yang sedang tidak stabil. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan skripsi hampir selalu disebabkan oleh gabungan faktor pribadi dan faktor lingkungan, bukan semata kemampuan akademik.

Dampak psikologis berlomba-lomba dalam skripsi pun tidak sederhana. Persaingan bisa menumbuhkan “iri yang sehat”, yaitu dorongan untuk memperbaiki diri. Tapi di sisi lain, jika persaingan itu dipicu oleh media sosial atau rasa takut dianggap tidak kompeten, iri tersebut bisa berubah menjadi tekanan berlebihan, kegelisahan, bahkan rasa senang secara diam-diam ketika orang lain kesulitan. Karena itu penting untuk membedakan apakah perasaan iri tersebut membuat mahasiswa menetapkan strategi yang lebih baik, atau justru membuat mereka makin terjebak dalam penundaan dan ketakutan. Penelitian mengenai perbandingan diri di media sosial juga menunjukkan bahwa dampaknya sangat dipengaruhi oleh konteks budaya, cara seseorang memandang dirinya, serta bagaimana ia menafsirkan pencapaian orang lain.

Anggapan bahwa “yang lebih cepat menyelesaikan skripsi pasti yang terbaik” juga perlu dikritisi. Menyelesaikan skripsi dengan tergesa-gesa berpotensi menghasilkan banyak revisi, kebingungan dalam memahami teori, atau stres berkepanjangan setelah lulus. Lebih realistis bila kita melihat adanya dua jenis solusi: pertama, perbaikan sistem kampus seperti jadwal bimbingan yang pasti, program pelatihan menulis, kemudahan akses literatur, dan layanan konseling; kedua, penguatan kemampuan pribadi mahasiswa untuk menafsirkan perbandingan sosial secara positif, meningkatkan keyakinan diri, serta mengatur harapan secara rasional. Kajian terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan penyelesaian skripsi lebih optimal bila dukungan institusi dan kemampuan mengelola diri berjalan seimbang.

Pada akhirnya, mahasiswa angkatan 2022 perlu mempertimbangkan cara pandang alternatif: bukan saling berlomba, tetapi saling menguatkan. Kultur kolaboratif seperti berbagi pengalaman, membuat kelompok belajar, atau mendampingi teman yang kesulitan justru dapat mengurangi rasa iri sekaligus meningkatkan kemampuan semua pihak. Mengkritik budaya kompetisi bukan berarti menolak ambisi, melainkan mengarahkannya agar lebih sehat dan berorientasi pada kualitas. Bagi dosen dan pengelola program studi, langkah pentingnya adalah menciptakan sistem yang lebih jelas, tidak membingungkan, dan menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk membicarakan rasa cemas atau iri yang muncul selama proses pengerjaan skripsi.