Konten dari Pengguna

Meningkatkan Kesadaran dalam Memilah Sampah di Bank Sampah Japos Raya

Muhammad Ilham Fudholi

Muhammad Ilham Fudholi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bank Sampah Japos Raya menjadi salah satu bukti nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas bisa dilakukan secara efektif, meskipun dihadapkan pada sejumlah tantangan. Berdasarkan wawancara bersama Ibu Desi, masalah utama yang dihadapi adalah rendahnya partisipasi masyarakat serta kurangnya kesadaran dalam memilah sampah dari rumah. Walaupun sistem tabungan sampah yang memberikan keuntungan ekonomi telah tersedia, belum banyak warga yang tergerak untuk berkontribusi aktif.

Observasi Bank Sampah Japos Raya
zoom-in-whitePerbesar
Observasi Bank Sampah Japos Raya

Keterbatasan fasilitas juga menjadi kendala lain. Peralatan seperti timbangan yang digunakan masih tergolong sederhana, dan tempat penyimpanan sampah pun terbatas, sehingga sampah yang disetor harus segera dijual pada hari yang sama. Kondisi ini memperlihatkan pentingnya dukungan dari pemerintah atau pihak eksternal guna meningkatkan sarana dan prasarana bank sampah.

Dari sisi operasional, Bank Sampah Japos Raya terbilang cukup aktif, dengan kegiatan rutin setiap bulan. Sebanyak 11 orang pengurus menjalankan tugasnya secara sukarela tanpa memperoleh bayaran, mencerminkan tingginya semangat gotong royong dan kepedulian terhadap isu lingkungan. Pembagian peran yang jelas antara ibu-ibu dan bapak-bapak menunjukkan adanya sinergi yang baik dalam menjalankan operasional bank sampah.

Kegiatan pelatihan seperti pembuatan ecobrick dan kompos menjadi salah satu keunggulan dari program ini. Langkah ini bertujuan mengelola sampah non-ekonomis agar tetap memiliki manfaat. Namun demikian, pemanfaatan produk hasil daur ulang seperti ecobrick maupun kerajinan tangan masih belum optimal. Ini membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut agar seluruh jenis sampah dapat dikelola dengan maksimal.

Sistem insentif yang diterapkan dinilai adil, di mana nasabah mendapatkan simpanan berdasarkan jenis dan jumlah sampah yang mereka serahkan. Pengelolaan keuangan dilakukan dengan transparan; selisih keuntungan dari penjualan sampah digunakan untuk membeli perlengkapan, memperbaiki fasilitas, dan mendukung kegiatan sosial masyarakat. Tidak ada pengurus yang mengambil keuntungan pribadi, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keberlangsungan bank sampah ini.

Secara kelembagaan, Bank Sampah Japos Raya dikelola oleh organisasi PKK dan mengikuti masa jabatan pengurus selama lima tahun. Struktur ini memberi kepastian dan kesinambungan dalam pengelolaan. Selain itu, sistem pengangkutan sampah yang efisien dimana sampah ditimbang di pagi hari dan diambil pada sore hari membantu menjaga lingkungan tetap bersih dan terhindar dari penumpukan.

Para pengurus berharap masyarakat semakin peduli dan sadar akan pentingnya memilah sampah, karena tujuan utama dari keberadaan bank sampah adalah membentuk kesadaran lingkungan, bukan semata mencari keuntungan ekonomi. Kesadaran kolektif ini sangat penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Wawancara dengan Ibu Desi selaku pengurus Bank Sampah Japos Raya

Secara keseluruhan, Bank Sampah Japos Raya telah memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan di tengah masyarakat. Meski begitu, dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak termasuk pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat umum masih sangat diperlukan agar manfaat dan keberlanjutan program ini dapat terus ditingkatkan.