Konten dari Pengguna

Pemuda yang Menyepelekan Kewajiban Sholat

Muhammad Ilham Fudholi

Muhammad Ilham Fudholi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilham Fudholi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian shalat menurut para ahli dapat dibahas berdasarkan sumber-sumber utama agama Islam, yaitu Al-Quran dan Hadis.

Para ahli tafsir Al-Quran, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa shalat merupakan perintah Allah yang diwahyukan melalui Al-Quran sebagai cara untuk menghambakan diri kepada-Nya dan mendapatkan ridha-Nya. Ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan shalat, seperti Surah Al-Baqarah ayat 83 dan Surah Al-Mu'minun ayat 2-3, memberikan petunjuk tentang pentingnya melaksanakan shalat.

Selain itu, para ahli Hadis, seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim, merujuk kepada hadis-hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan rincian tata cara dan hukum-hukum dalam melaksanakan shalat. Hadis-hadis tersebut, yang menjadi sumber utama ajaran agama Islam selain Al-Quran, memberikan panduan praktis bagi umat Muslim dalam menjalankan shalat.

Dalam pandangan para ahli, shalat adalah suatu bentuk peribadatan yang memiliki makna dan tujuan spiritual yang mendalam. Melalui shalat, seorang Muslim berkomunikasi langsung dengan Allah SWT, memohon ampunan-Nya, mengungkapkan rasa syukur, memohon petunjuk, serta memperkuat ikatan dengan-Nya. Shalat juga memiliki manfaat fisik dan sosial, seperti menjaga kesehatan, memperkuat disiplin diri, dan mempererat hubungan antar sesama Muslim.

Sumber : Pixabay.com

Lingkungan sosial memiliki peran yang signifikan dalam membentuk kesadaran remaja terhadap ibadah shalat. Pengaruh dari lingkungan sosial dapat mempengaruhi pemahaman mereka tentang pentingnya shalat, motivasi untuk melaksanakannya, dan kesadaran akan manfaat spiritual yang diperoleh darinya.

"Persoalan problem yang terjadi pada remaja itu sebenarnya bersangku paut dan kait terkait dengan usia yang mereka lalui, dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dimana mereka tinggal. Dalam hal ini yang memegang peranan penting yang menentukan dalam kehidupan remaja adalah agama" (Zakiah Drajat, 1970).

Jika lingkungan sosial yang mereka hadapi tidak mendorong praktik sholat, anak muda dapat kehilangan kesadaran dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting. Misalnya, jika keluarga mereka tidak memberikan contoh yang baik dalam melaksanakan sholat atau tidak memberikan pengertian yang cukup tentang pentingnya ibadah tersebut, anak muda mungkin tidak memiliki kesadaran yang kuat untuk melaksanakannya.

Salahnya pergaulan dalam kesadaran remaja dalam menjalani ibadah shalat merujuk pada dampak negatif interaksi sosial terhadap kesadaran generasi muda dalam menjalankan kewajiban agamanya, khususnya shalat dalam Islam. Ini bisa terjadi ketika anak muda dipengaruhi oleh teman sebaya atau media untuk memprioritaskan kegiatan sosial daripada praktik keagamaan.

Sumber : Pixabay.com

Untuk mengatasi masalah ini, penting untuk mendidik kaum muda tentang pentingnya praktik keagamaan dan bagaimana mereka dapat menyeimbangkan kehidupan sosial mereka dengan kebutuhan spiritual mereka. Orang tua, guru, dan tokoh agama dapat berperan dalam membimbing kaum muda menuju gaya hidup yang lebih seimbang yang mencakup shalat rutin dan praktik keagamaan lainnya.

Berikut adalah beberapa tips yang mungkin berguna untuk mengatasi masalah ini:

- Dorong kaum muda untuk memprioritaskan praktik keagamaan mereka dan meluangkan waktu untuk itu dalam rutinitas sehari-hari.

- Memberikan pendidikan dan sumber daya tentang pentingnya doa dan praktik keagamaan lainnya.

- Mendorong generasi muda untuk mencari interaksi sosial yang positif yang mendukung nilai-nilai agama mereka.

- Memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk terlibat dalam kegiatan keagamaan dengan teman sebaya dan mentor.

- Menumbuhkan komunitas yang suportif dan inklusif yang menghargai praktik keagamaan dan mendorong kaum muda untuk memprioritaskannya.

Malas adalah sikap enggan atau kurangnya motivasi untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks kurangnya kesadaran anak muda dalam menjalani ibadah sholat, malas dapat diartikan sebagai ketidakberanian atau ketidakmampuan untuk melaksanakan shalat secara konsisten dan dengan penuh kesadaran.

"Malas adalah suatu perasaan dimana seorang akan enggan melakukan sesuatu karena dalam pikirannya sudah memiliki penilaian negatif atau tidak ada keinginan untuk melakukan hal tersebut" (Senja, 27 : 2019).

Faktor-faktor yang menyebabkan kurangnya kesadaran remaja dalam menjalani ibadah shalat dan menyebabkan sikap malas antara lain:

1. Kurangnya pemahaman: Anak remaja mungkin tidak sepenuhnya memahami keutamaan dan manfaat ibadah shalat, sehingga kurang termotivasi untuk melaksanakannya dengan konsisten.

2. Pengaruh lingkungan: Lingkungan sosial dan teman sebaya dapat berpengaruh pada kesadaran remaja dalam menjalani ibadah shalat. Jika lingkungan sekitarnya kurang mendukung praktik keagamaan, anak muda mungkin terpengaruh dan menjadi kurang termotivasi untuk melaksanakan shalat.

3. Kurangnya pendidikan agama: Pendidikan agama yang tidak memadai atau kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama dapat menyebabkan kurangnya kesadaran dalam menjalani ibadah sholat. Tanpa pemahaman yang baik tentang pentingnya shalat, para remaja mungkin merasa kurang termotivasi untuk melaksanakannya.

“Shalat merupakan ibadah yang paling utama untuk mengukur keislaman seseorang, untuk mengukur keimanan seseorang dapat dilihat kerajinan dan keikhlasan dalam mengerjakan shalat. Islam memandang shalat sebagai tiang agama dan intisari Islam terletak pada shalat, sebab dalam sholat tersimpul seluruh rukun agama. Dalam shalat terdapat ucapan “hadatin”, kesucian hati terhadap Allah, agama dan manusia.” (Moh, 1998: 186).

Teknologi memiliki pengaruh yang signifikan dalam kurangnya kesadaran dalam menjalani ibadah shalat di kalangan remaja. Perkembangan teknologi, khususnya dalam bentuk gadget seperti smartphone, tablet, atau komputer, telah mengubah cara anak remaja berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka. Hal ini dapat mempengaruhi kesadaran mereka terhadap pentingnya menjalani ibadah sholat. Berikut ini adalah beberapa pengaruh teknologi yang dapat menyebabkan kurangnya kesadaran dalam menjalani ibadah shalat.

Sumber : Pixabay.com

Aksesibilitas yang mudah terhadap teknologi memungkinkan anak muda untuk terus terhubung dengan media sosial, hiburan, dan konten online. Mereka cenderung menghabiskan banyak waktu di depan layar, yang dapat mengalihkan perhatian mereka dari ibadah shalat. Mereka mungkin tergoda untuk bermain game, menonton video, atau terlibat dalam kegiatan online lainnya, sehingga mengabaikan waktu dan kesempatan untuk menjalankan shalat dengan konsentrasi yang baik.

Gangguan konsentrasi merupakan dampak lain dari penggunaan teknologi yang berlebihan. Para remaja sering kali terlalu terpaku pada gadget mereka, sehingga sulit bagi mereka untuk fokus dan konsentrasi dalam menjalani ibadah shalat. Mereka mungkin merasa tergoda untuk memeriksa ponsel mereka, memeriksa media sosial, atau terlibat dalam kegiatan online lainnya, sehingga memecah perhatian mereka dari ibadah yang sedang dilakukan.

Teknologi juga mempengaruhi pengaturan waktu anak remaja. Mereka cenderung menghabiskan waktu yang lebih lama untuk menggunakan gadget, menonton film atau acara TV, atau berkomunikasi di media sosial, daripada mengalokasikan waktu untuk ibadah shalat. Akibatnya, mereka mungkin tidak memiliki waktu yang cukup untuk menjalankan shalat secara teratur. juga dapat menyebabkan kurangnya kesadaran akan waktu sholat yang ditentukan. Anak remaja yang terlalu terpaku pada gadget mungkin tidak memperhatikan waktu dan jadwal sholat yang telah ditetapkan. Mereka mungkin lupa atau mengabaikan pentingnya menjalankan sholat tepat waktu, karena terlalu terfokus pada kegiatan online yang sedang mereka lakukan.

Pengaruh negatif dari konten yang tidak mendukung agama di media sosial dan internet juga dapat mempengaruhi persepsi dan kesadaran anak muda terhadap ibadah sholat. Mereka mungkin terpapar pada pandangan yang salah atau dihadapkan pada konten yang meremehkan pentingnya shalat, sehingga mengurangi kesadaran mereka dalam menjalani ibadah tersebut dengan sungguh-sungguh.

Daftar Pustaka

(Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengamalan Ibadah Sholat pada Remaja (Studi Kasus Remaja Desa Batu Bandung), n.d.)

(Syafitri et al., n.d.)

Zakiyah Darajat. 1990. Ilmu Jiwa. Jakarta: PT. Bulan Bintang.