Konten dari Pengguna

Bunga Layu yang Tak Pernah Mati

Muhammad Ilhamsyah
mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah
13 September 2025 0:06 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bunga Layu yang Tak Pernah Mati
Dalam kegiatan KKN Ria Dion. Namun Dion telah memiliki pasangan. Namun takdir berkata lain, Dion justru menjadi mentari yang membangunkan bunga layu itu dan membuatnya tak pernah mati.
Muhammad Ilhamsyah
Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bunga layu yang tak benar-benar mati. https://pixabay.com/photos/spring-snowdrop-flower-1166564/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bunga layu yang tak benar-benar mati. https://pixabay.com/photos/spring-snowdrop-flower-1166564/
ADVERTISEMENT
Siang itu aku membuka ponselku, terlihat banyak sekali pesan yang masuk terutama dari grup kelasku. Awalnya kupikir itu hanya pesan chat dari teman-temanku yang membahas UAS. Setelah kubuka, ternyata mereka sedang membahas KKN. Ya, KKN, Kuliah Kerja Nyata seakan menjadi keharusan bagi mahasiswa akhir sepertiku. Aku Alveria, tapi teman-temanku lebih suka memanggilku Ria. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku adalah seorang mahasiswi yang akan menginjak semester akhir.
ADVERTISEMENT
Disaat orang-orang begitu antusias dengan pengumuman kelompok KKN yang telah dibagikan, aku hanya diam dan menggerutu “kenapa si harus ada KKN, toh KKN juga gitu-gitu aja programnya, selagi masyarakatnya gak mau improve diri mereka mah ya sama aja hasilnya boong.” Gerutu ku dalam hati.
Aku melihat pengumuman dan taraa...sama sekali aku tak mengenal orang-orang yang ada di kelompokku, jurusan yang berbeda, fakultas yang berbeda, dan latar belakang yang berbeda. Padahal aku cukup aktif, tapi dari sekian banyak manusia yang hidup di sini tak satupun yang kukenal di kelompokku. Akhirnya aku mencoba menjadi orang yang pendiam dan hanya menjadi silent reader di grup kelompok KKN.
Beberapa hari kemudian kami megadakan rapat, sekedar untuk mengenal satu sama lain. Namun, aku tetap menjadi diriku yang pendiam. Kami diberi waktu kurang lebih satu bulan untuk mempersiapkan apa saja yang kami lakukan ketika KKN. Pada awalnya rapat berjalan biasa saja, Sampai aku melihat Dion, rekan KKN ku di kelompok ini. Sejak awal, entah mengapa ia adalah orang pertama yang menarik perhatianku dan kami saling bertukar akun sosial media. Karena aku sangat penasaran dengan rekan-rekanku, akhirnya aku berusaha untuk mencari tahu dan menjadi stalker teman-temanku yang lain dengan akun Tik Tok ku yang ke-3. Di sanalah aku menemukan fakta yang mematahkan semua harapan, Dion sudah memiliki pasangan. Rasanya seperti salju yang tiba-tiba turun di musim panas dan mengubur tunas yang bahkan belum sempat mekar.
ADVERTISEMENT
Tunas tersebut terkubur bersama semangatku yang lain, dan menyisakan kemalasan dalam diriku. Jujur saja aku sangat malas dengan kegiatan KKN ini, itu sebabnya aku hanya memperhatikan dan tak banyak omong. “Lagian kalo tujuannya pengabdian masyarakat bisa kali ikut volunteeran doang juga, gak perlu lah KKN sampe berminggu-minggu.” Pikirku dalam hati.
Beberapa minggu pun berlalu, dan aku masih teguh dengan pemikiran KKN yang tak berguna itu. Bahkan sampai KKN dimulai pun aku masih teguh dengan pendirian itu. Semua rasa malas seakan terus mendukungku untuk berpikir bahwa KKN ini tidak penting. Aku tetap menjadi pribadi yang pendiam dan tak banyak omong. Namun, takdir selalu memiliki cara unik untuk menertawakan rencanaku.
Hari ini hujan cukup lama, bukan hujan deras memang, namun sangat lama. Aku kembali ke dalam posko dan membuat semangkuk mie. Suasana setelah hujan ini membuatku lapar. “Keknya abis ujan gini enak makan mie deh”. Pikirku.
ADVERTISEMENT
Ketika aku sedang sibuk memasak mie, tiba-tiba Dion datang untuk mengambil sebuah gelas. Sebenarnya aku ingin menyapanya, namun aku masih terlalu canggung dan tak bisa berkata-kata. Akhirnya kami berada dalam keheningan yang sama.
“Lo lagi ngapain Ri?” tanyanya memecah keheningan di dapur kala itu.
Aku mengangkat bahu. “Emm..lagi bikin mie ini.”
“Tumben banget Ri, jarang-jarang gue liat lu masak mie hehe. Btw bisa sekalian masakin air juga ya soalnya gue mau minum kopi nih hehe.”
“Oiya ntar gue masakin deh Yon.” Ujarku.
“Tapi, tumben lu diem aja Ri, kan biasanya lu sering banget ngobrol sama teman-teman cewe yang lain.”
Jantungku berdebar, Ia memperhatikanku. Dia melihat perubahan sikapku, padahal aku pikir aku berhasil menyembunyikannya. Entah mengapa percakapan itu seakan membuka pintu yang sudah berusaha kututup. Di beberapa kesempatan berikutnya ia sering datang padaku. Menawarkan bantuan, atau sekedar meminta pendapat, bahkan untuk hal-hal sepele yang bisa saja ditanyakan pada ketua ataupun koordinator kami.
ADVERTISEMENT
Lambat laun aku mulai memperhatikan Dion. Dan aku sadar bahwa dia sangatlah care, terutama pada diriku, bahkan dibandingkan dengan teman-temanku yang lain dia lebih care padaku. Aku mulai tersadar jika Dion berusaha ingin mengenalku. Akhirnya aku juga mulai membuka diri dan berusaha untuk sering berkomunikasi dengannya dan menjadi teman ceritanya selama kegiatan volunteer berlangsung. Aku mengaguminya. Ia berhasil membuka topeng kalem dan cuek dari dalam diriku. Ia bukan hanya sekedar bunga yang indah, tapi juga pohon yang teduh. Namun, aku tahu ada batasan yang tak bisa kutembus. Ia punya orang lain, dan aku tidak punya hak untuk berharap lebih.
Terkadang, di tengah malam sunyi yang dingin, kami duduk di teras posko kadang hanya sekedar berjaga, atau membahas impian, kehidupan, dan masa depan.
ADVERTISEMENT
“Gue sadar, kita semua di sini Cuma sebentar, Cuma sebulan doang,” ucapku di tiga malam terakhir sebelum kami pulang. “Dan nggak semua orang bisa jadi bagian dari hidup kita selamanya.”
Ia menoleh, menatapku tajam dengan tatapan yang dalam. “Tapi setiap orang yang datang punya perannya, kan? Ada yang datang buat ngasih pelajaran, ada yang datang buat bikin kenangan, ada juga yang datang Cuma buat ngasi tahu kalo lo nggak sendirian.”
Kata-katanya menenangkan. Aku tahu, ia adalah salah satu dari bagian skenario itu. Dia datang dan dikenalkan oleh Tuhan kepadaku bukan sebagai orang akan kumiliki, melainkan untuk mampu membuatku bersyukur. Aku bersyukur karena kehadirannya membuatku mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu tentang memiliki, tapi bisa saja tentang menikmati setiap momen dan setiap proses, yang diberikan.
ADVERTISEMENT
Malam itu udara dingin sudah menjadi teman akrab kami. Keheningan yang tak lagi canggung, tapi penuh makna.
“Makasi ya Yon,” Ujarku.
“Buat apa?” Timpalnya.
“Buat semuanya, lo udah buat gue sadar banyak hal yang sebelumnya gue nggak liat, lo udah buat gue banyak bersyukur tentang kehidupan, lo keren Yon, next tetap jadi Dion yang gue kenal ya.” Tatapanku menghadap ke depan, tak berani menatapnya secara langsung.
Dion tersenyum tulus. “Gue juga Lus, makasi banyak banget, lo udah ngajarin gue banyak hal, lo juga keren Ri.” Ujarnya dengan sebuah anggukan.
Kami tak perlu berkata apa-apa lagi. Kami saling bertukar senyum, sebuah isyarat tanpa kata yang lebih berharga dari seribu ucapan.
"Ah, ternyata padahal dulu gue gak nyangka bisa bakal se-seru itu dan gue takut banget kalo ketemu orang baru, tapi ternyata kalo dijalanin seru juga ya." Pikirku dalam hati sambil menatap keluar jendela mobil yang membawa kami pulang.
ADVERTISEMENT
Seketika aku ingat kata-kata di awal ketika aku sangat malas sekali mengikuti KKN ini. “ Gw rasa KKN nggak buruk-buruk amat.” Ujarku dalam hati sambil menutup mata dengan senyuman tipis ke arah jendela.
Aku sadar dia dikenalkan oleh Tuhan padaku bukan sebagai orang yang akan kumiliki, namun ia diberikan agar menjadi orang yang mampu untuk kusyukuri. Entah syukur atas kehidupan selama ini, atau hal lain yang tak ternilai harganya. Memang tak semuanya bisa dimiliki, namun semuanya bisa disyukuri. Terkadang, untuk mengetahui seberapa baiknya Tuhan atas kehidupan kita, kita hanya perlu menikmati setiap prosesnya.
Pada akhirnya mentari di musim semi mencairkan salju dan membangunkan kembali bunga yang tertutup salju. Aku tahu bunga layu yang tertimbun salju itu tak pernah benar-benar mati. Ia hanya tertidur, menunggu mentari di musim semi yang akan datang menyapa bumi. Bunga itu tak pernah benar-benar mati, ia hanya tertidur lelap lalu terbangun kembali menjadi bunga persahabatan yang mekar abadi.
ADVERTISEMENT