Ikatan Perasaan dalam Secarik Rajutan

mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Malam ini udara Bogor terasa sangat dingin, mesipun bogor memang biasanya dingin. Sofi mengambil syal ungu favoritnya. Malam ini ia berencana untuk keluar posko KKN dan membeli sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya. Tubuh yang biasanya merasakan panasnya hawa Jakarta, seakan harus beradaptasi dengan dinginnya bogor. Mau bagaimana lagi, tugas KKN adalah tugas wajib sebagai bentuk pengabdian.
“Nan, ayo lah cari minuman yang anget kek, dingin banget ya disini.” ujar Sofi sambil mengaitkan syal ungunya.
“Lah ayo gue mah, gas.”
Karena mereka berdua tidak membawa kendaraan ketika KKN, mereka akhirnya meminjam motor milik Rehan, seorang mahasiswa yang ramah dan memiliki kepedulian tinggi.
Angin yang berhembus di atas motor semakin menusuk ke dalam kulit. Dinginnya mulai tak dapat ditangkis oleh syal ungu favoritnya itu. Kemudian mereka berhenti di sebuah warung yang tak jauh dari posko mereka dan membeli segelas susu jahe, sambil berharap mampu menahan dinginnya malam. Karena ia mendapat jadwal untuk menjaga malam hari ini, ia berinisiatif untuk membeli satu gelas lagi sebagai teman jaga malamnya nanti.
Malam semakin larut, udara dingin semakin menusuk. “Buset dingin banget malem ini, mana gue jaga malem lagi.” Ungkapnya dalam hati sambil menuangkan susu jahe yang tadi ia beli ke dalam gelas dan membawanya ke depan posko yang nantinya akan dia tempati untuk jaga malam.
Dalam keheningan malam, tiba-tiba, sebuah syal tebal berwarna abu-abu dengan rajutan kasar disodorkan di hadapannya. Rehan berdiri di sana, tanpa senyum namun dengan tatapan penuh perhatian. “Ini” katanya singkat, suaranya tenang. Sofi terkejut, ia menunduk sambil menahan wajahnya yang mulai kemerahan. Namun, entah mengapa syal yang diberikan padanya itu terasa lebih hangat, bukan hanya hangat di kulit, namun meresap dalam hati. Ia menerima syal itu, lalu tanpa ragu, ia melepas syal ungunya dan memberikannya pada Rehan.
“Ambil aja Han, siapa tahu lu kedinginan juga.”
“Dih apaan si, udah gapapa lu kedinginan kan Fi, pakai aja punya gue.” Ujar Rehan sembari mengambil posisi duduk di samping Sofi.
“Yaudah si ambil aja Han, lagian ngapain juga si lu di sini.” Tanya Sofi
“Lah kan gue juga jaga malem hari ini Fi, tapi emang dingin banget si hari ini.”
Malam itu mereka berdua larut dalam obrolan, seakan melupakan kedinginan yang menusuk dalam diri mereka. Sejak saat itu, syal menjadi penanda dari setiap percakapan mereka. Mereka menemukan banyak kesamaan, selera musik dan humor yang sama, hingga pandangan skeptis mereka terhadap hubungan yang terlalu terburu-buru. Di lehernya, syal abu-abu Rehan terasa berat namun nyaman dan memberikan kehangatan. Sementara itu, Rehan merasa syal merah muda milik Sofi terasa begitu lembut dan ringan dengan aroma bunga yang tenang seakan ikut serta mewarnai hidupnya.
Jarak diantara mereka semakin menipis. Pertemuan-pertemuan itu mulai terasa menyenangkan dan Sofi mulai menyadari ada percikan di mata Rehan yang meluluhkan egonya. Rehan seakan benar-benar memberikan kehangatan dalam kehidupannya. Ia tak hanya melihat Rehan sebagai pemandangan Rutin yang biasa ia lihat ketika ia lewat di depan posko. Ia seakan dibuat penasaran dan menjadi orang yang ingin ia kenal leih dalam. Semakin banyak momen yang merekam mereka berdua, hingga mereka menjadi semakin dekat. Mereka juga terkadang pergi bersama untuk sekedar jajan membeli es ataupun kopi. Seringkali Rehan menjadi tempat keluh kesah Sofi ketika ia pusing dengan drama per KKN-nan nya. Malam hari yang biasanya dingin seakan berubah menjadi sebuah kehangatan.
“Gue pikir KKN gitu-gitu aja, kek ngabdi ke masyarakat gitu, soalnya gue juga ikutan volunteer gitu juga, ternyata seru juga ya.” Ujar Sofi memecah keheningan malam.
“Iya sih, tadinya gue juga nganggep KKN ini biasa aja, tapi kalo dipikir-pikir memang seru sih.”
“Iya kann....jadi pengen lebih lama lagi deh, tapi bukan lama karena prokeran, yapi pengen lamain momennya aja, apalagi pas kita bareng bareng hehe.”
“Ya semoga kedepannya kita tetap bareng bareng lagi deh ya, gak Cuma di sini aja.” Kata Rehan.
Entah mengapa kata-kata itu seakan membuat jantung Sofi berdegup kencang. Jantungnya berdegup kencang, namun hatinya terasa tenang. Kata-kata tersebut seakan memberikan sebuah harapan yang baru dan lebih baik.
Di malam perpisahan KKN, sebelum kembali ke rutinitas kota, mereka kembali menyinggahi kedai kopi yang biasanya mereka bertemu. Rehan menatap Sofi, matanya mulai terlihat serius.
“ Fi, syal ini baunya kek bunga, dan itu selalu memorable dalam pikiran gue. Gue... nggak bisa nahan diri buat nggak mikirin lu Fi setiap kali gue pakai syal ini, “ bisiknya. Ia menyerahkan syal merah muda itu kembali ke pangkuan Sofi. Sofi merasakan pipinya terasa hangat. Ia menunduk dan berusaha mencoba untuk menahan pipinya agar tak terlihat kemerahan. Ia lantas melepaskan syal abu-abu yang ia kenakan dan memeberikannya pada Rehan.
“Dan syal lu juga Han, udah buat gue mikirin lu terus, jujur aja gue mah.”
Mereka menukar syal kembali, kali ini bukan sebagai jaminan, melainkan sebagai pengingat. Seakan menjadi sebuah tanda dari ikatan perasaan dalam sebuah rajutan yang tak sengaja mengikat hati mereka, kini telah berubah menjadi ikatan yang disengaja. Syal itu bukan lagi pengingat kejadian lucu mereka selama KKN, melainkan sebuah rajutan asa di masa yang akan datang. Seakan menjadi sebuah janji tak terucap yang terajut dalam setiap rajutan yang mengikat antara benang dan benang lainnya, membawa sebuah kenangan manis dan tak terlupakan dalam kehidupan mereka.
