Langit yang Berwarna Rindu

mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seringkali langit menjadi saksi bisu sebuah perjalanan seseorang, baik itu pertemuan, perpisahan, maupun rindu yang membelenggu. Seperti sore ini, di sebuah taman kota di Jakarta Selatan, langit jingga yang perlahan memudar pertanda datangnya malam, warna ungu yang melintang di garis pandang persis seperti warna rindu yang seringkali singgah tanpa permisi. Seketika aku tersenyum tipis, kembali menyeruput es kopi yang kubeli di kafe dekat taman. Perlahan ingatanku melayang jauh, jauh kembali ke satu tahun yang lalu.
“Semangat pagi gaes!! waktunya bangun woiii, ayok kita prokeran pagi ini lesgoww mandi siap-siap jangan sampe telat!!!”
Suaraku menggelegar berusaha membangunkan semua orang yang tinggal di posko, satu demi satu teman-temanku mulai terbangun. Sukses. Aku, Hafiz, dikenal sebagai si tukang rusuh, tukang ngelawak, dan (katanya) mood maker kelompok KKN. Rambutku masih acak-acakan khas bangun tidur, tapi senyumku sudah selebar jalan tol. Aku sudah siap untuk masuk kamar mandi sambil menunggu teman-temanku yang lain bangun. Sebenarnya aku ada jadwal masak hari ini, namun karena proker kami pagi-pagi, alhasil kami masak setelah proker.
Salah satu korban yang terganggu suaraku pagi ini adalah Rina, cewe kalem dan kadang menunjukkan sisi keimutannya. Tapi entah kenapa dia seringkali jadi objek leluconku. Ia muncul dari kamar dengan wajah bantal bak bangun tidur dengan mata yang sayu. Melihatku berisik di tengah rumah, ia hanya menggelengkan kepala sambil tersenym tipis. Entah kenapa senyumannya selalu berhasil membuatku merasa menang, karena berhasil membuat “si manusia kulkas” itu menunjukkan raut wajah emosinya.
“Fiz, bisa gak si volume suaranya di kecilin dikit, gw baru jaga malem tadi kan gak nyenyak kan tidurnya” celetuk Rina dengan bibir manyun dan suara khas bangun tidurnya.
“Eh Rin, ini namanya semangat! Biar pada bangun dan pada gak telat nanti prokeran.” Ujarku sambil menenteng handuk dan masuk ke kamar mandi.
Kami memang seringkali berdebat kecil. Aku yang selalu heboh, dan dia yang tetap menunjukkan sikap kalem itu. Aku yang banyak bicara, dan dia yang banyak mendengar. Kontras memang, tapi entah mengapa, selalu klop.
Hari-hari KKN berjalan seperti air. Kami sibuk dengan program kerja kami di desa, mulai dari mengajar anak-anak, membantu posyandu, hingga kerja bakti di lingkungan warga yang kami tinggali. Aku seringkali dianggap yang selalu terdepan dalam mencairkan suasana, entah itu dengan lelucon gaing atau perilaku yang rada-rada diluar nalar. Rina, disisi lain, adalah pilar penopang. Dia selalu memastikan semua program berjalan sesuai dengan rencana kami, dia terkadang adalah orang yang sigap jika ada masalah, dan paling sabar menghadapi kegaduhanku.
Suatu sore, setelah kami membersihkan sampah di selokan sekitar warga, aku dan Rina duduk-duduk di depan posko. Entah mengapa saat itu langit sedang indah-indahnya, memancarkan spektrum warna jingga yang mulai tergradasi oleh warna ungu.
“Indah banget ya langitnya,” gumamku dengan mata yang tertuju pada cakrawala.
“Iya juga ya,” Jawab Arya, tapi aku tahu dalam dirinya, dia juga menikmati pemandangan itu.
“Mirip lukisan ya, penuh warna penuh makna. Kayak hidup gue banget iya gak si,” kataku sambil terkekeh.
Rina menoleh ke arahku, senyum tipisnya lagi-lagi muncul. “Iduplu memang penuh warna sih, kadang terlalu banyak warna sampe bikin pusing, hehe.”
“Idiihh, apa pula, tapi kamu suka kan, biar gak bosen iya gak? Jujur aja deh...”
Ia hanya tertawa kecil. Tawa yang jarang kudengar, tapi selalu hangat. Di momen hening itu, entah mengapa tiba-tiba berdesir aneh. Bukan desiran karena berhasil menggodanya, tapi desiran lain yang baru kusadari. Desiran yang membuatku merasa...nyaman. Nyaman karena berada di dekatnya, nyaman dengan sebuah ketenangan yang melengkapi kehebohanku.
Sejak saat itu, ada yang berubah. Aku mulai sering mencuri pandang ke arah Rina. Memperhatikan bagaimana ia serius mengerjakan laporan atau sekedar membaca buku yang ia senangi, melihat bagaimana ia berbicara lembut pada anak-anak yang seringkali mengajaknya bermain, atau bahkan saat dia tersenyum simpul ketika melihat tingkah konyolku. Ada rasa hangat yang tumbuh diam-diam, seperti tunas yang muncul setelah hujan. Aku yang selama ini hanya menganggapnya teman KKN yang kalem, tiba-tiba melihatnya dalam cahaya yang berbeda. Cahaya yang sedikit...romantis.
Minngu-minggu KKN terasa begitu cepat. Semakin dekat perpisahan, semakin berat rasanya. Bukan hanya akan meninggalkan desa dan kehangat warganya saja, namun karena harus berpisah dari suasana ini, dari kelompok KKN yang selalu memberikan energi, dan termasuk dari orang yang paling memberikan ketenangan di waktu KKN.
Aku sadar, bukan hanya aku yang merasakan sesuatu. Kadang, matanya juga menangkap basah tatapanku. Pipinya akan sedikit merona, atau bahkan dia akan mengalihkan pandangan salah tingkah. Suatu malam, kami saat kami sedang menyiapkan materi untuk penutupan, hanya tinggal kami yang terjaga di ruang tengah.
“Fiz,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Lu...capek gak si seceria ini terus?” tanyanya, matanya menghadap ke depan mencoba untuk memasuki obrolan yang dalam.
Aku tertawa, “capek si kadang. Tapi kalau gue nggak ceria, nanti suasananya malah sepi. Ntar lu gak ceria lagi deh, hehe”
Dia tersenyum. “Tapi kadang lu juga boleh kok istirahat dari “Hafiz yang ceria” itu. Lu juga kalo mau ada hal yang perlu di ceritain mah, ceritain aja.”
Aku terdiam. Kata-katanya yang satu ini menyentuh sisi diriku yang jarang kutunjukan pada orang lain. sisi yang rapuh, yang kadang gak selalu kuat. Aku berusaha untuk menatap matanya, di sana aku meliaht sebuah perhatian yang tulus, bahkan mungkin...lebih dari sekedar teman.
Tanpa sadar, aku mengangguk pelan. “Makasih ya, Rin, gue selalu merasa lu berbeda dari kebanyakan cewe lainnya, lu keren.”
Saat malam perpisahan tiba. Kami mengadakan acara sedeerhana dengan warga desa. Aku berdiri di samping Rani, kami malam ini menonton video perjalanan kami ketika KKN bersama warga di depan posko kami. Ketika menonton, tak jarang aku melihat sekelibat mata yang tertuju dari Rina. Ada kilatan cahaya yang tak bisa kuartikan.
Setelah acara selesai, kami semua duduk berkumpul di teras posko, menatap langit malam yang dihiasi dengan taburan bintang. Rani yang biasanya irit bicara, kini banyak bercerita tentang pengalamnnya di KKN.
“Gue gak nyangka si, KKN bakal se berkesan ini, padahal awalnya gue juga males ikut KKN. Tapi, karena kelompoknya seru dan luar biasanya, gue malah seneng juga akhirnya, apalagi ada lu yang tiap hari ada aja tingkah lucunya hehe.” Ujarnya sambil menatapku, dan kali ini, senyumannya tak lagi tipis, tapi penuh makna. Aku merasakan pipiku memanas.
“hufft” aku menghela napas setelah semua kenangan tadi terlintas di pikiranku.
Langit Jakarta kini berubah menjadi gelap, cahaya matahari di siang hari mulai digantikan oleh cahanya lampu yang berkelip di setiap sudut kota. KKN memang berakhir, tapi rindu itu tidak. Rindu pada tawa lepas di posko, rindu dengan orang-orang yang memberikan kebahagiaan, dan rindu pada tatapan mata Rani di bawah langit yang berwarna warni.
Kami memang tak pernah secara vokal menyatakan perasaan saat itu. Terlalu takut merusak hubungan pertemanan, mungkin. Setelah KKN kami masih tetap saling berkomunikasi dan betemu. Dan begitulah, langit senja yang penuh warna itu menjadi pengingat abadi. Seakan membentuk sebuah warna baru, warna rindu.
