Konten dari Pengguna

Mati Sebelum Waktunya

Muhammad Ilhamsyah

Muhammad Ilhamsyah

mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kematian. source, https://pixabay.com/photos/grave-cemetery-rip-tombstone-d-2036220
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kematian. source, https://pixabay.com/photos/grave-cemetery-rip-tombstone-d-2036220

Fuahhhh... akhirnya setelah dua jam menembus kemacetan ibu kota aku sampai di kos ku. Rasanya kakiku sudah terlalu lama berdiri, mungkin bisa dipakai untuk menopang jalur MRT di Setiabudi, tapi akupun tak sekuat nyonya Meneer yang berdiri sejak lebih dari 30 tahun lalu.

Aku membuka pagar, dari jauh sudah tercium aroma itu, udara di kamar kos nomor 5 itu terasa seperti tak berpenghuni, pengap, dan berbau stagnasi. Setiap langkah kakiku ketika memasuki kamar itu hanya membawa letih setelah bertarung dengan aspal Jakarta dan bisingnya kendaraan yang menderu. Aku merasa seperti masuk ke dalam peti mati yang belum dipaku. Di kota ini dunia bergerak dengan sangat gila, melibas apapun yang lambat dan tak mau bergerak, malas tertindas lambat tertambat berhenti mati. Di sana orang-orang bekerja mengejar target, mahasiswa tingkat akhir bertaruh nyawa dengan revisi, dan klakson kendaraan saling bersahut-sahutan dengan segala macam ambisi. Tapi di sini? Waktu berhenti berputar. Waktu mati di tangan seorang laki-laki yang masih terlentang badan di atas kasur yang tak pernah bangkit seolah itu adalah harta karun terakhirnya di muka bumi.

Dia masih di sana. Selalu di sana. Tak ada perubahan pasti. Posisi tubuhnya sudah seperti fosil yang menggerogoti setiap inci dari kasur busa yang kian menipis. Cahaya biru dari layar HP-nya terlihat memantul di bola matanya yang kosong, menciptakan pemandangan yang mengerikan seperti mayat yang tak pernah melihat hayat. Dia mahasiswa, namun dia tidak kuliah, tidak juga bekerja, tak ada aktivitas yang ia lakukan selain tidur, scroll, makan, mandi, dan kembali ke tidur.

Aku membanting tas ke atas meja. Suara gedebuk itu keras, sengaja kubuat berisik, berharap getarannya bisa mengguncang sarafnya yang sudah mati rasa. Tapi, seperti biasa, tak ada respons. Ia masih asyik dengan HP-nya yang masih terdekap di tanganya, seolah jiwanya memang sudah menyatu dengan barang itu. Jangankan menoleh, berkedip pun dia seolah enggan jika itu berarti harus melewatkan satu detik saja dari HP di tangannya. Aku sudah terlalu letih hari ini, dihajar macetnya Jakarta, berdesak desakan di transportasi umum, ditambah debu yang menusuk mata. Cukup melelahkan, tapi begitu sampai di kamar lelah itu berubah menjadi gelisah.

"Tumben pulang jam segini? Biasanya agak maleman lagi," ucapnya datar.

"ANJING, ANJING," Umpatku dalam hati tanpa kukeluarkan satu huruf pun.

Suara itu. Suara yang keluar dari tenggorokan yang jarang dipakai bicara kecuali untuk memesan makanan online atau menggumamkan kritik kosong. Suara yang keluar dari mulut yang tak pernah dipakai membaca buku, apalagi berzikir. Suara itu menusuk telingaku lebih tajam daripada suara sirine kawalan pejabat yang tak ada gunanya. Dia pikir dia siapa? Dia bahkan tak tahu kapan terakhir kali dia mandi atau kapan terakhir kali dia melihat matahari selain dari jendela yang selalu dia tutup rapat. Bertanya seolah sengaja mengusir secara halus karena dunianya terusik, nyatanya dia hanya menjadi statistik sampah yang hanya memenuhi kuota mahasiswa di kampus ini. Dulu aku sempat mengusahakan kuliahnya, tapi hal itu seakan percuma, karena dia sendiri tak mau diusahakan.

Jempolnya perlahan-lahan menggulirkan layar HP-nya, layar biru yang entah sudah berapa jam yang lalu masih bertatapan dengan matanya yang mulai kosong tanpa tujuan yang jelas. Sesekali diiringi sedikit ringkikan tawa kecil yang membuatku semakin muak melihatnya.

"Makanya jangan bayar pajak, dikorupsi kan" celetuknya lagi, mulai menjadi orang yang sok kritis dan paling tahu dunia.

"Lu ngomongin pajak bangsat?” teriakku dalam hati, karena jika aku keluarkan kosan ini mungkin akan luluh lantak tak berbentuk. "Lu sadar nggak, detik ini lu lagi makan duit orang tua lu bangke? Orangtua lu bayar UKT mahal-mahal cuma buat hidupin orang yang gak mau hidup? Lu pikir itu bukan penyalahgunaan? Lu koruptor paling rendah yang pernah gue temuin, karena lu nggak cuma nyuri duit, lu nyuri masa depan lu sendiri Bangsat!"

Aku merasa darahku mulai mendidih, merambat naik dari jantung ke ubun-ubun. Aku berdiri di tengah kamar, membiarkan laptopku terbuka begitu saja. menatap punggungnya yang melengkung. Di sana, di pojok ruangan, ada kipas angin besi tua yang berderit-derit, kreettt... kreeett. Baling-balingnya berputar lesu, seolah lelah harus meniupkan anginnya setiap waktu pada manusia yang tak punya fungsi. Jika Perunggu dalam liriknya mengatakan di antara pusaran nirfungsi, maka dialah titik pusat nirfungsi itu.

Tiba-tiba, imajinasiku menjadi liar.

Aku membayangkan diriku meledak. Aku tak lagi duduk di depan laptop untuk mengetik revisi skripsi yang memuakkan itu. Sebaliknya, aku membayangkan mengambil kipas angin itu, menariknya dari stopkontak dengan sekali sentakan kasar. Kuangkat besi itu tinggi-tinggi, dan menghantamkannya pada wajahnya yang pucat tak terkena sinar matahari.

BRAK!

Aku membayangkan dirinya terperanjat. Melihat dia berdarah, membasahi layar HP yang katanya sudah menyatu dengan tubuhnya. Bukan karena diriku psikopat, tapi karena aku ingin memastikan dia merasakan sesuatu! Aku ingin dia merasakan sakit fisik yang nyata, supaya dia sadar kalau dia masih punya saraf, dan aku tahu jika dia masih benar-benar hidup. Aku ingin dia BANGUN! ingin dia sadar kalau hidup itu sakit, hidup itu keras, hidup itu bukan sekadar nungguin charger penuh terus main lagi sampe mampus.

"Lu pengen rebahan, kan? Lu pengen gak ada aktivitas, kan? Lu pengen dilayanin terus? Sini gue bantuin lu ke rumah sakit bajingan!" suara di kepalaku berteriak, menggelegar memenuhi ruang sempit itu. "Masuk rumah sakit aja sekalian, ANJING! Di sana lu bisa rebahan 24 jam. Sekalian aja lu dipasangin infus biar nggak perlu repot-repot ngunyah. Lu bakal dipakein pampers biar nggak perlu repot ke kamar mandi. Lu bakal dilayanin suster, makan dikasih, tidur gampang. Bukannya itu yang lu cari selama ini?"

Aku menatap lemari kayu di sampingku. Rasanya tanganku gatal ingin mencengkeram pintunya dan merobeknya hingga hancur. Ingin kuhancurkan segala bentuk kenyamanan di kamar ini. Aku ingin menghancurkan kasur itu, membakar HP-nya, dan meruntuhkan tembok-tembok yang selama ini melindunginya dari kerasnya dunia luar.

Puncak kemarahanku adalah saat melihat HP-nya lowbat. Dia tak bangun. Dia cuma meraih kabel charger dengan gerakan malas yang sudah terlatih, mencolokkannya, lalu kembali tenggelam dalam layar. Cas, lepas, cas, lepas. Begitu terus sampai iblis tobat dan sedekah, kalau kata Hindia. Kabel charger itu seakan tali pusar yang tak bisa lepas dari janinnya. Tak ada bedanya sama sekali dengan kipas angin atau lemari yang ada di kamarku, cuma dia jauh lebih tidak berguna.

Aku muak melihat kemunafikannya. Dia bisa-bisanya mengkritik pemerintah, bicara soal penyalahgunaan pajak, dan berlagak seperti aktivis paling vokal di media sosial, padahal dia sendiri adalah seorang koruptor terbesar. Dia mengorupsi kepercayaan orang tuanya. Dia menyalahgunakan uang UKT yang dibayar dengan keringat orangtuanya untuk hidup dalam sampah digital yang sama sekali tak memiliki jiwa.

Aku memejamkan mata, mengepalkan tangan sampai kuku jari tanganku menancap di telapak tangan. Rasa sakit di tangan mulai menyadarkanku. Aku melihat dia, bukan sebagai teman kos, bukan sebagai manusia, tapi sebagai peringatan. Dia adalah cermin dari apa yang bakal terjadi jikalau aku menyerah satu detik aja. Dia adalah bentuk paling tragis dari orang yang mati sebelum waktunya. Dia tak butuh kipas angin yang aku lempar untuk terluka, karena dia sendiri udah jadi luka yang membusuk bagi orang tua dan dirinya sendiri.

Kenapa aku harus membuang energi sebesar ini untuk orang yang bahkan nggak punya energi untuk hidup? Kenapa aku harus mengotori tanganku dengan banting kipas angin ke arah sosok yang sudah menjadi abu sebelum dibakar?

Aku membuka laptop dan melihat naskah skripsiku di layar. Itu adalah golden ticket untuk keluar dari sini. Itu adalah rute takdir yang sedang dibangun olehku dengan darah dan air mata. Sementara dia? Dia sedang membangun kuburannya sendiri, inci demi inci, hari demi hari.

Aku menarik napas panjang, mengeluarkan udara dan pikiran busuk itu untuk terakhir kalinya. Aku tak akan melempar kipas. Aku tak akan banting lemari, karena itu adalah tindakan yang terlalu mahal yang harus aku lakukan untuk orang semurah dia.

Aku duduk kembali. Jari-jariku menyentuh keyboard. Menelan suara scrolling dan ringkikan yang menjijikan itu. Aku tak perlu keluar tenaga untuk memaki bangkai, karena dia tak punya telinga untuk mendengar, tak punya otak untuk berpikir, dan tak punya hati untuk merasa malu.

Saat itu, aku sadar akan satu kebenaran yang mutlak. Sebuah prinsip yang bakal kupegang teguh sepanjang sisa perjalanan takdirku.

"Aku berhenti untuk peduli pada orang yang tidak peduli dengan dirinya sendiri."