Rumah bagi Hati yang Lelah

mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Raka tidak pernah benar-benar suka dengan ide KKN. Baginya, itu hanya program kampus yang menghabiskan waktu, tenaga, biaya, dan pikiran.
“Ngapain juga tinggal di desa berminggu-minggu? Kan bisa belajar lewat teori aja, lagian kalo pengabdian masyarakat kan bisa volunteer-an aja biar gak terlalu lama dan nguras biaya. Lagian programnya juga gitu-gitu aja template dari tahun ke tahun,” gumamnya berkali-kali.
Setiap kali dosen mengingatkan tentang kewajiban KKN, ia selalu mencari cara untuk menghindar. Namun pada akhirnya, ia tak punya pilihan. Surat keputusan turun, namanya tercantum dalam daftar, dan ia harus berangkat bersama kelompoknya ke sebuah desa kecil di pinggiran kota.
Sejak pertama kali ditentukan kelompok, hawa malas semakin menguasai dirinya. Apalagi ia adalah orang introvert, bertemu dengan orang baru yang sama sekali belum pernah ia kenal seakan menjadi siksaan. Hari pertama di sana, wajah Raka penuh dengan keterpaksaan. Ia tiba di desa itu dengan setengah hati. Ia membawa ransel seadanya, duduk di sudut posko dengan earphone menempel di telinga.
Sementara teman-temannya sibuk berkenalan satu sama lain, ia hanya mengangguk singkat. Warga menyapanya, ia hanya membalas dengan senyum tipis. Bahkan dalam kegiatan awal, Raka lebih banyak duduk diam, mencatat hal-hal formalitas, lalu kembali ke kamar untuk tidur. Dalam hati ia hanya berharap, “Semoga cepat selesai. sebulan itu terasa lama sekali.”
Namun, perlahan-lahan sesuatu mulai berubah.
Di tengah rasa bosannya, selalu ada anak-anak yang datang melewati posko untuk sekadar menyapa dengan berulang kali. “Ka ka en” ujar mereka. Entah, mereka tak pernah menyebutkan siapa orang orang yang di dalamnya, dalam pikiran mereka KKN mungkin sebutan untuk kakak-kakak yang tinggal di posko tersebut.
Terkadang suara mereka mengganggu waktu istirahat, namun suara mereka juga yang membangunkan Raka dan teman-temannya dari kesunyian di posko.
Perubahan terbesar datang ketika ia memperhatikan Nadia, salah satu teman kelompok KKN. Sejak awal, Nadia memang terlihat berbeda, ia ramah, ringan tangan, dan penuh perhatian. Saat semua orang sibuk, Nadia selalu hadir menenangkan. Ketika warga bingung mengatur jadwal kerja bakti, Nadia yang menjelaskan dengan sabar.
Awalnya, Raka hanya mengamati dari jauh. Ia tetap cuek, namun tak bisa menutup mata bahwa perhatian Nadia tulus. Pada suatu malam, ketika mereka duduk di tangga posko setelah kegiatan, Nadia menawarinya teh hangat. “Kamu jarang ngomong, ya? Padahal aku yakin kamu punya banyak pikiran,” katanya pelan. Raka terdiam.
Itu pertama kalinya ada yang benar-benar peduli dengan keadaannya. Ia merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah ia rasakan, sesuatu yang hangat, bahkan lebih hangat dari teh yang ia minum. Ia merasa aneh, ia tidak terbiasa dengan perasaan semacam ini.
Raka mulai memperhatikan, ia melihat bagaimana Nadia memperlakukan setiap orang dengan perhatian yang sama, termasuk dirinya. Ia sadar, Nadia tidak hanya peduli pada program KKN, tapi juga pada setiap orang yang ada di dalamnya. Raka yang tadinya cuek dan pasif, kini mulai ikut aktif.
Hari-hari berikutnya, Raka mulai berubah. Ia yang biasanya malas berinteraksi, kini justru berinisiatif ikut membantu. Ia belajar bercengkerama dengan warga, ikut bermain dengan anak-anak, bahkan membantu persiapan acara desa. Semua itu ia lakukan bukan semata karena kewajiban, tapi karena hatinya mulai menemukan alasan.
Alasan itu adalah sebuah rumah. Rumah bagi hatinya yang lelah.
Lambat laun ia mulai memiliki perasaan terhadap Nadia, bukan sekadar rasa suka, melainkan rasa kagum. Sebuah hal yang jarang sekali ia lakukan pada orang lain. Kagum pada ketulusan seseorang yang mampu memberi cahaya pada sekitarnya. Dari Nadia, Raka belajar bahwa perhatian kecil bisa membawa perubahan besar. Ia juga belajar bahwa keterlibatan dan kepedulian ternyata bisa memberi makna, bahkan pada seseorang yang tadinya memilih diam dan menjauh.
Suatu sore, ketika kegiatan hampir selesai, Raka duduk di bawah pohon besar desa. Ia menatap anak-anak yang tertawa lepas, teman-teman kelompok yang ikut serta bermain bersama mereka, dan Nadia yang tersenyum tulus. Dalam hatinya, ia merasa bersalah atas sikap cuek dan apatis di awal.
“Aku dulu salah. Kupikir KKN hanya beban, padahal di sini aku menemukan rumah,” gumamnya dalam hati.
Saat jadwal kepulangan semakin dekat, Raka justru merasa berat. Ia ingin waktu berjalan lebih lambat. Ia ingin lebih lama lagi duduk di beranda desa, mendengar canda tawa warga, merasakan semangat sederhana yang membahagiakan. Yang dulu ia anggap siksaan, kini justru ia harapkan berlanjut. Ia tak ingin lepas dari kehangatan yang telah memberinya kepercayaan.
Raka akhirnya sadar, terkadang kita mencari jawaban terlalu jauh. Kita menoleh ke kota, ke pencapaian, ke ambisi, padahal sering kali jawaban ada di dekat kita dalam perhatian kecil, dalam kepedulian sesama, dalam kebersamaan yang sederhana.
Malam terakhir di desa, ia merenung. Ayat Al Quran terngiang di kepalanya, seolah menjawab perjalanan hatinya:
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Ia tertawa ketika mengingat di masa awal KKN yang ia sangat benci dan tidak mau ia lakukan itu. Namun, di akhir ternyata ia malah menginginkan sedikit lebih lama lagi untuk menikmati momen ketika KKN.
Ia tidak hanya menemukan rumah bagi hatinya yang lelah, tetapi juga menemukan arti sesungguhnya dari pengabdian dan ketulusan, di tempat yang paling tidak ia duga.
