Konten dari Pengguna

Sekuntum Bunga yang Akan Mekar

Muhammad Ilhamsyah

Muhammad Ilhamsyah

mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah

·waktu baca 7 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ilhamsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sekuntum bunga. https://pixabay.com/photos/flowers-table-bouquet-window-vase-7233992
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sekuntum bunga. https://pixabay.com/photos/flowers-table-bouquet-window-vase-7233992

Kesibukan mahasiswa di semester akhir memang tiada duanya, termasuk yang dialami oleh Aldi. Aldi yang saat ini akan menginjakan kakiknya di semester tujuh harus melewati tantangan KKN terlebih dahulu. Yap, sebuah tantangan bagi mahasiswa yang kerjaannya Cuma kuliah pulang-kuliah pulang, dia memang orang yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain dan cenderung bersikap dingin. Begitupun saat dia menjalani KKN, ia datang ke desa tempat ia KKN dengan satu misi yakni menyelesaikan KKN ini dengan sempurna, tak ada drama apalagi soal hati. Pikirnya, mungkin banyak orang yang cinlok gara-gara KKN, namun ia tidak ingin seperti itu. Maka, ia seolah memasang tameng tak terlihat dan terkesan agak cuek. Baginya, semua anggota kelompok adalah rekan kerja, tidak lebih.

Namun, di tengah-tengah kesibukannya dalam menjalankan program, tameng yang menjadi image Aldi mulai terusik oleh Luna. Luna adalah sosok yang ramah dan selalu ceria, energi positifnya selalu terasa di mana-mana, kehadirannya seakan memberikan kehangatan bagi setiap orang di sekitarnya. Tapi, Aldi merasa ada yang berbeda dari cara Luna memperlakukannya. Saat Aldi sedang sibuk membersihkan area kantor desa, Luna tak segan untuk menawarkannya mengambil foto dirinya untuk dokumentasi. Setelah selesai membersihkan area kantor desa, Luna datang membawa es teh manis, bukan untuk semua orang, tapi khusus untuknya. “Di, lu cape kan, ini minum dulu,” katanya sambil tersenyum. Aldi hanya mengangguk singkat, padahal dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa harus dia.

Kejadian serupa terus berulang. Saat rapat evaluasi maupun membahas program esok hari, Luna selalu meminta pendapat Aldi meskipun masih banyak juga teman lainnya. “Gimana menurut lu Aldi?” tanyanya, hal itu membuat Aldi merasa suaranya adalah yang paling penting. Di hari lain, saat Aldi bercerita tentang kehidupannya di kampus yang menurutnya tidak begitu penting, beberapa hari kemudian Luna malah membuka obrolan tentang hal itu, menanyakan detail-detail kecil yang Aldi sendiri sudah hampir lupa.

“Aldi, lu betah gak di sini?” tanya salah satu teman KKN-nya di suatu sore.

“Ya betah-betahin aja si gue mah,” jawab Aldi cuek.

“Bukan itu, maksud gue,” timpalnya sambil melirik ke arah Luna yang sedang mengobrol di seberangnya, “Si Luna itu keknya seneng deh lo ada di sini.”

Aldi hanya diam, pura-pura tak mendengar ocehan temannya itu. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kebaikan biasa, selayaknya pertemanan biasa. Mungkin Luna memang pribadi yang sangat peratian. Mungkin dia juga melakukan hal yang sama pada orang lain. Tapi Aldi terlalu peka.

Di suatu malam, mereka mendapat jadwal piket malam yang sama. Aldi sedang scrolling tiktoknya di sela-sela kegabutannya. Tak lama berselang Luna datang dan langsung duduk di sampingnya. Tameng cuek yang dibentuknya perlahan mulai memudar. Dia tahu, dia tidak bisa lagi mengabaikan kebaikan yang begitu nya ini. Perlakuan dari Luna bukan sekedar angin lalu, bukan hanya kebaikan umum, melainkan sesuatu yang spesial. Di tengah ketidakpastian hatinya, sebuah perasaan kecil mulai tumbuh. Mungkin seperti perasaan sekuntum bunga saat dia akan mekar. Selama ini Aldi selalu membals kebaikan Luna dengan anggukan, ucapan terimakasih singkat, atau ekspresi datar. Malam itu, dibawah temaram cahaya lampu jalan, perasaannya terasa lebih hangat.

“lu capek gak sih Al?” tanya Luna, suaranya lembut, tidak ada nada menuntut.

Aldi hanya mengangguk pelan, tanpa mencoba alasan untuk pergi. Sikapnya yang biasanya defensif dan cuek malam itu terasa luruh.”Nggak sih, lu gak ngantuk emang?”

Luna tersenyum lagi.”ngantuk si, tapi nungguin lu aja deh hehe”

Kalimat itu sederhanaa, tapi berhasil membuat hati Aldi bergemuruh. Ia ingin bertanya, “kenapa? kenapa repot-repot?” tapi ia menahan diri, takut jawabannya akan mengancam image yang dia bangun. Aldi pun mengalihkan ke topik lain, “Gimana menurut lu program kita?”

“Menurut gue bagus kok” jawab Luna. “Tapi yang bikin aku semangat tu bukan Cuma programnya aja, tapi karena kita bisa bareng-bareng. Kamu, aku, teman-teman yang lain.” Luna diam sejenak, menatap Aldi. “Dan yang penting, karena kita bisa kenal.”

Lagi-lagi, Aldi diam. Ia mencoba cuek meskipun dari sudut matanya terlihat jika Luna memandangnya. Tanpa sadar, Aldi mulai memikirkan kembali semua perlakukan Luna. Bukan Cuma soal es teh atau pendapat yang diminta, tapi juga obrolan-obrolan malam di posko, tawa lepas saat Aldi membuat lelucon garing, dan cara luna selalu ada di sekitarnya. Pada akhirnya, Aldi melepaskan napas berat. Ia tak bisa lagi bersikap cuek. Ia ingin tahu, ia ingin mengerti.

“Kenapa...”Aldi memulai kalimatnya, suaranya pelan.”...lu baik banget ke gue”

Pertanyaan itu memecah keheningan malam. Mata Luna yang semua berbinar, kini sedikit terkejut. Namun, senyum di bibirnya tidak pudar. Ia memandang Aldi dengan tatapan yang dalam, seolah mengundang Aldi untuk membuka diri lebih jauh.

Luna tak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, tersenyum, lalu menatap Aldi lagi. Mata Aldi tak berkedip, menunggu.

“Kenapa?” ulang Luna, Suaranya kini terdengar sperti bisikan di tengah heningnya malam. “Karena...kamu beda.”

Aldi mengerutkan kening. Beda? Sejak kapan dia jadi beda? Ia merasa dirinya sama saja dengan yang lain, bahkan mungkin lebih membosankan.”Beda gimana?”, tanyanya penasaran.

“Kebanyakan orang di sini langsung ramah. Tapi kamu...” Luna berhenti sejenak.”kamu kayak...punya dinding. Awalnya aku pikir kamu sombong, tapi lama-lama aku lihat, kamu itu Cuma hati-hati, dan itu yang bikin aku penasaran.”

Aldi terdiam. Luna melihat sisi dirinya yang paling ia sembunyikan, sisi yang rapuh, yang tidak ingin terluka. Tnpa sadar Aldi merasa ketakutannya lurug. Ia tak perlu lagi berpura-pura. Kata-kata yang keluar dari mulut Luna bagaikan kunci yang membuka pintu hati Aldi. Selama ini ia sibuk membangun benteng, takut ada yang masuk dan menyakitinya. Tapi Luna tidak mencoba mendobraknya, ia hanya menunggu dengan sabar dan perlahan. Dan Aldi, entah kenapa kini ia ingin membukakan pintu untuknya.

“Makasih ya,” kata Aldi, suaranya kini terasa lebih tulus dari sebelumnya. “Makasih ya, udah selalu baik sama aku, lu memang keren Lun.”

Luna tertawa pelan. Tawanya terdengar merdu di telingan Aldi, seperti simfoni yang menenangkan hati.”hahaha, ternyata lu bisa se deep itu ya hehe. Soalnya gue juga nyaman ngobrol sama lu karena gak ada yang perlu disembunyiin.”

Meskipun Luna bilang begitu, Aldi tahu ada arti lebih di balik tatapannya. Sekuntum bunga yang akan mekar mulai merekah secara perlahan, dan Aldi tak lagi khawatir. Ia merasa sebuah kehangatan baru, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan, bahkan baru ia rasakan pertama kali. Ia tak peduli lagi apakah itu sekedar pertemanan atau hal lain, yang ia tahu sekarang adalah ia ingin terus merasakan kehangatan ini.

“Mau dibikin kopi gak biar gak ngantuk?” Aldi bertanya dengan suara sedikit canggung.”Biar aku yang bikinin deh sekalian.”

Luna tersenyum cerah, senyum yang mampu membuat hati Aldi lega. “Mau!” jawabnya.

Malam itu, mereka berdua duduk berdampingan, berbagi cerita dan tawa, bukan lagi hanya soal pekerjaan KKN, melainkan tentang impian, ketakutan, dan semua hal yang membuat mereka menjadi diri mereka sendiri. Hati Aldi yang bergemurub perlahan merasa tenang. Jawabannya seolah membenarkan semua spekulasi yang ia pendam sebelumnya. Meskipun ia juga tak terlalu berharap lebih daripada sekedar pertemanan.

Beberapa hari terakhir KKN, mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama. Mereka berbagi cerita dan tawa. Tak ada lagi kecanggungan dalam diri Aldi. Di balik senyum Luna, Aldi tak lagi mencari arti romantis, yang ia lihat hanyalah ketulusan.

Di hari terakhir, saat semua anggota berpamitan, Luna menghampiri Aldi. “Makasih ya,” katanya. “KKN ini jadi berkesan banget buat gue gara-gara ada lu.”

“Sama-sama,” jawab Aldi tulus. “Makasih juga, udah jadi teman yang baik banget, di masa KKN ini, semoga kita bisa ketemu lagi di lain waktu nanti.”

Saat itulah Aldi sadar, ia memang tidak memiliki Luna. Tapi ia memiliki persahabatan yang tulus, yang jauh lebih berharga daripada yang ia bayangkan. Sekuntum bunga yang akan mekar di antara mereka bukanlah bunga asmara, namun bunga persahabatan yang indah. Ardi tahu, bunga itu tak akan layu, tak akan jatuh, karena ia telah memutuskan untuk merawatnya dengan ketulusan.