Couplepreneur: Solusi Memperkuat Ketahanan Ekonomi Keluarga saat Pandemi

Seorang Psikolog Bekerja sebagai seorang konselor pernikahan dan Owner Rumah Konseling, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Periode 2016-2021.Saat Dosen Tetap Psikologi Universitas Paramadina. Ketua STIE Swadaya Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal PhD Psikolog tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak buruk bagi ekonomi keluarga, angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat, demikian juga banyak terjadi pemutusan hubungan kerja serta pengurangan pendapatan.
Beberapa keluarga yang terdampak langsung secara ekonomi menghadapi ujian berat, mereka kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pendidikan, kesehatan, serta membayar kontrakan.
Fenomena ini tentu saja adalah ujian dari sebuah keutuhan keluarga, karena di saat pandemi dengan berbagai alasan khususnya ekonomi angka perceraian semakin tinggi, untuk itu perlu sebuah upaya dan terobosan, salah satunya adalah membangun usaha bersama pasangan atau yang dikenal dengan istilah "couplepreneur"
Kalau kita berbicara tentang ketahanan keluarga, maka dasarnya adalah ekonomi, karena daya tahan atau resiliensi sebuah keluarga itu dimulai dari bagaimana sebuah keluarga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya (sandang, papan, pangan)
Apa itu couplepreneur?
Couplepreneur adalah bisnis bersama yang dijalankan oleh pasangan suami-istri untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Dalam kehidupan keluarga suami-istri itu ibarat pilot dan co-pilot, mereka saling melengkapi, suami sebagai pilot adalah pemimpin utama dan istri adalah co-pilot yang bertugas mendampingi pilot dalam menjalankan tugasnya, namun dua-duanya adalah tetap sebagai pemimpin yaitu pemimpin utama dan pemimpin pendamping dalam fungsi yang berbeda. Untuk itu para suami dan istri harus terus bisa mengasah kemampuannya dalam memimpin.
Dalam perjalanan rumah tangga adakalanya kepala rumah tangga 'pilot' menghadapi masalah psikologi (kehilangan semangat hidup, tidak percaya diri sulit berkomunikasi, tidak tegas mengambil keputusan) apalagi di saat pandemi, banyak orang yang menghadapi gangguan psikologi sehingga peran co-pilot sangat diperlukan. Bila seorang pilot "sakit" dan menghadapi masalah (Stres, Cemas, PHK, Hutang) maka co-pilot jangan pula meninggalkan pesawat (keluarga) bila itu terjadi maka penumpang "anak" akan menjadi korban. Co-pilot harus bisa mengambil alih kemudi, menyelamatkan penumpang agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat. Kekompakan pasangan dalam menghadapi "badai" ekonomi saat pandemi saat ini sangat diperlukan.
Dalam pandangan Islam memang benar bahwa mencari nafkah adalah tugas para suami (pilot) namun ketika dia menghadapi kesulitan, hambatan para pemimpin memerlukan dukungan dan bantuan dari pendamping hidupnya, bila dua kekuatan "pemimpin" ini bersatu, akan menghasilkan sebuah kekuatan dan energi yang besar. Banyak kasus didapati ketika pemimpin utama menghadapi kesulitan mencari nafkah, justru pendampingnya (istri) meninggalkannya "ada uang abang sayang, gak ada uang abang melayang".
Ketika pasangan suami-istri sudah berikrar untuk berkomitmen menjalani pernikahan, maka susah-senang harus dihadapi bersama, ada banyak kisah wirausaha usaha sukses ketika pasangan "couple" menjalankan usaha, bahkan mereka dijuluki "Crazy Rich" bisa memperkerjakan banyak orang, bersedekah hingga menjadi motivator
Sebagai pasangan suami-istri yang hidup bersama peluang untuk bersinergi itu sangat besar, ke mana-mana mereka bisa bersama, setiap saat bisa berdiskusi mencari ide dan gagasan, bahkan bisnis yang dibangun dengan penuh cinta dan kasih sayang akan tumbuh dengan cepat karena sentuhannya adalah sentuhan cinta.
Lalu bagaimana memulainya?
Untuk memulai usaha bersama pasangan, bisa dimulai dari apa yang kita punya, baik itu bisnis jasa ataupun perdagangan. Pengalaman saya dan istri merintis usaha " Rumah Konseling" dimulai dari mencari permasalahan di masyarakat, apa yang dibutuhkan, lalu kami tawarkan solusi, kami menemukan banyak masyarakat yang memiliki masalah rumah tangga, masalah pengasuhan anak, pendidikan, konflik pernikahan, jodoh, perceraian, lalu akhirnya kami membuka bisnis jasa konsultan pernikahan dan keluarga yang diberi nama "Rumah Konseling" dan alhamdulillah setelah kami jalani kami bisa meningkatkan kesejahteraan dan mempekerjakan orang lain (membuka lapangan kerja)
Demikian juga dengan usaha perdagangan, cari tahu apa yang masyarakat butuhkan, kalau kita belum memiliki modal/produk kita awali dengan menjadi "Reseller" menjualkan produk orang lain hingga akhirnya kita memiliki produk sendiri, kemampuan menjual harus ditingkatkan khususnya marketing digital
Coba gali potensi masing-masing pasangan, terus belajar dari berbagai media, ikuti berbagai pelatihan dan seminar, tanya dan belajar kepada orang yang sukses, jadikan mereka mentor, kuncinya adalah kalau punya ide segera jalankan, jangan malu dan gengsi, terus berdoa dibukakan pintu rezeki yakinlah “Hasil Tidak Akan Mengkhianati Usaha”.
Wallahu"alam
**Oleh : Muhammad Iqbal, Ph.D Psikolog (CEO Rumah Konseling)
@muhammadiqbalpsy
