Konten dari Pengguna

Keluarga Benteng Pertama dan Terakhir Pendidikan Karakter di Saat Pandemi

Foto : Keluarga
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Keluarga

Muhammad Iqbal, Ph.D

Pandemi COVID-19 telah merubah banyak hal dalam kehidupan manusia, mulai dari tatanan menjalankan ibadah agama, pola hidup, kesehatan, perekonomian, kehidupan sosial, dan keluarga hingga pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Semua terjadi begitu cepat, dan dialami hampir semua negara di berbagai penjuru dunia. Pola hidup dengan tananan baru khususnya sektor pendidikan, di mana telah terjadi perubahan pada sistem dan paradigma pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka sekarang harus dilakukan secara daring/online dengan jarak jauh.

Sebenarya pola pendidikan jarak jauh (pjj) sudah lama diterapkan melalui Universitas Terbuka, dan beberapa perguruan tinggi termasuk di luar negeri, namun paradigma masyarakat dan akademisi masing menganggap bahwa PJJ kurang berkesan dan dianggap kurang berkualitas, sehingga masih beranggapan pendidikan dengan tatap muka masih lebih baik. Gadget dan internet yang dahulu selalu diwasaspadai sebagai ancaman karena memiliki dampak negatif telah menjadi kebutuhan dasar manusia di saat pandemi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak memugkiri bahwa pendidikan daring bukanlah ideal yang diinginkan karena pendidikan bukan saja mentransfer pengetahuan, namun membentuk karakter manusia yang berakhlak mulai dan berbudi pekerti sebagai mana tercantum dalam tujuan pendidikan nasional. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kerja sama pemerintah, lembaga pendidikan, dengan orang tua sangat penting, karena keluarga adalah elemen yang cukup penting dan menjadi benteng pertahanan diri terakhir yang harus kokoh ketika serangan dari luar datang melalui berbagai macam bentuk melalui gadget/internet

Pendidikan karakter sangat sulit diterapkan jika sekolah dan perguruan tinggi hanya mengandalkan pendidikan daring/online, sehingga dikhawatirkan ke depan ketika pandemi COVID-19 berlalu, ada yang hilang dari nuansa pendidikan kita yaitu siswa dan mahasiswa yang berkarakter, yang memiliki mental yang kokoh, percaya diri, berani membela kebenaran, jujur, tahan banting, bertanggung jawab serta disiplin.

Pembentukan karakter tidak cukup dengan teori ataupun ceramah, namun harus ada program latihan yang terstrukur dan sistematis, di samping itu pendidikan karakter juga perlu contoh dan keteladanan dari pendidik (guru/dosen) dan orang tua, dan disaat pandemi orang tualah yang menjadi teladan bagi anak untuk membentuk karakter yang kuat. Sesungguhnya sejak awal keluarga adalah benteng pertama bagi pendidikan karakter, namun seiring berjalannya waktu, orang tua banyak mengandalkan sekolah dalam mendidik karena berbagai alasan kesibukan dan atau ketidakmampuan, namun di saat pandemi orang tua mau tidak mau harus mengambil alih peran membentuk karakter, keluarga menjadi pertama dan terakhir dalam mendidik dan membentuk karakter

Saat ini, di era digital secara tidak langsung benteng pertahanan kita sangat lemah, begitu banyaknya ancaman yang datang dan menerpa generasi kita, karena internet itu ibarat pisau bermata dua, di satu sisi kita mendapat banyak manfaat karena ada internet yang mampu memberikan banyak manfaat termasuk dalam pembelajaran, namun di satu sisi internet dan gadget sudah "membunuh" karakter anak bangsa, mulai dari game online di mana banyak kasus anak yang mengalami kecanduan, hingga rela putus sekolah/ kuliah, prestasi menurun karena game online hingga melakukan kejahatan dan kriminal karena terinpirasi dari game online tersebut. Banyak remaja saat ini malas bergerak,dan menghabiskan waktu di depan gadget/laptop bermain game dan itu membahayakan kesehatan fisik dan mental.

Di samping itu bahaya gadget/internet adalah adiksi/kecanduan pornografi yang begitu mudahnya diakses dan ditonton oleh generasi muda termasuk mahasiswa anak di bawah umur, beberapa kasus saya dapati mereka yang mengkonsumi pernografi mengalami kerusakan otak hingga mereka tega melakukan perkosaan, pencabulan, penyimpangan seksual dan pelecehan seksual termasuk menjadi penyuka sejenis karena terinspirasi dari tontonan pornografi. Bahkan Kementerian Informasi dan Komunikasi pada tahun 2019 menangani 201.315 konten bermasalah di Indonesia dan 118.817 diantaranya adalah masalah konten pornografi, yang ini tentu saja bagian dari ancaman bagi Negara yang perlu diwaspadai.

Demikian juga media sosial, yang telah banyak membuka akses informasi bahkan lintas ruang dan waktu, setiap orang bisa berkomunikasi dengan dunia luar dan informasi tersebar begitu cepat, namun tidak diimbangi dengan kemampuan menyeleksi informasi, mudahnya menerima dan menyebarkan berita bohong "hoaks" hingga pertemanan "palsu" di media sosial. Media sosial telah membuat generasi muda kita antisosial dan enggan berinteraksi dengan lingkungan sehingga mereka rapuh, tidak terbiasa dengan masalah sehingga rapuh dan hidupnya kurang bermakna, sehingga ketika menghadapi masalah dalam hidupnya mereka memiliki keinginan bunu diri yang mereka banyak dapat inspirasi dan tontonan film dan media sosial ataupun akibat "Cyber Bulying" di media sosial. Beberapa kasus di dapati banyak remaja yang menjadi korban "child Grooming" bahkan perkosaan, pencabulan akibat berkenalan dengan orang yang jahat di media sosial.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap kecanduan gadget ditemukan bahwa gadget/internet berdampak pada kemunculan gejala kecanduan/adiksi seperti keinginan dan penasaran yang berlebihan untuk menggunakan gadget, penarikan diri dari lingkungan sosial, frekuensi penggunaan yang tidak dapat terkontrol, dan preferensi terhadap menjalin hubungan dalam dunia maya. Di samping itu kecanduan gadget berdampak pada perilaku kesepian, depresi, dan rendahnya harga diri (self-esteem) bahkan adiksi gadget pada anak berdampak pada gangguan perkembangan seperti speech delay, ADHD, kesulitan belajar, kemasan, depresi dimasa anak–anak, dan berkembangnya karakter yang rapuh, mudah putus asa, tidak mandiri, dan mudah menyerah.

Menurut WHO (2014) kecanduan gadget dapat menyebabkan Gangguan fisik dan gaya hidup yang buruk, pengunaan gadget yang berlebihan diasosiasikan dengan pola makan yang buruk, banyak mengkosumsi makanan ringan rendah gizi, kurangnya waktu tidur, yang berhubungan erat dengan kecenderungan obesitas. Di samping itu, kecanduan gadget/internet juga berhubungan dengan gangguan penglihatan, gangguan otot, gangguan pendengaran bahkan bisa menyebabkan kecelakaan saat melakukan aktivitas lain misalnya berjalan, mengendarai kendaraan.

Selain ganggun fisik, penggunaan gadget/internet berlebihan bisa menyebabkan gangguan psikososial, seperti perilaku Cyber-bullying, kemampuan sosial yang rendah, perilaku seksual berisiko, perilaku agresif. Kemudian gadget yang berlebihan juga bisa menyebabkan gangguan psikologis lain seperti rendahnya kesejahteraan psikologi, kepercayaan diri yang rendah, masalah keluarga, perceraian, dan menurunnya performa akademik atau kinerja.

Untuk itu, melihat penjelasan di atas perlu adanya sebuah edukasi dan program dari pemerintah, kampus, sekolah, keluarga untuk mencegah terjadinya adiksi/kecanduan gadget dan internet pada anak. Pola pendidikan dan pengajaran harus bisa melatih dan membimbing anak memiliki karakter yang kuat. Penggunaan internet sehat, bahaya, dan adiksi gadget/internet harus menjadi bahan edukasi utama sebelum mereka mengalami kecanduan yang dampaknya sangat besar dan merusak karakter bangsa. Kerja sama dengan orang tua sangat penting, karena keluarga adalah elemen yang cukup penting dan menjadi benteng pertahanan diri terakhir yang harus kokoh ketika serang dari luar dari melalui berbagai macam bentuk melalui gadget/internet. Pemerintah harus membuat modul edukasi yang agresif tentang penggunaan intenet sehat dan bijak menggunakan medi sosial bagi siswa.

ilustrasi pixabay.com

Keluarga adalah benteng terakhir dari sebuah negara, bila keluarga lemah, rapuh, tak berdaya maka akan lemahnya ketahanan nasional kita, namun sebaliknya bila keluarga kuat, harmonis, kokoh, maka akan berdampak kepada ketahanan nasional kita. Oleh karena itu benteng keluarga kita harus diperkuat agar serangan yang datang melalui gadget/internet dapat diatasi dan diantisipasi.

Untuk itu keluarga yang merupakan struktur sosial terkecil dalam sebuah Negara harus mendapat perhatian, orang tua harus mendapatkan dukungan kompetensi dalam membangun sebuah keluarga, sehingga pendidikan keluarga harus diberikan kepada generasi muda, agar menyiapkan mereka menjadi seorang pemimpin dalam keluarga yang tangguh. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus memberikan edukasi kepada orang tua, orang tua wali murid harus dibangun kepeduliannya, serta memiliki karakter yang tangguh agar kelak bisa menjadi teladan bagi anak. Pendidikan pra nikah dan pasca-nikah harus diperkuat sehingga mereka bisa menjaga benteng terakhir dari sebuah Negara. Bila perlu " Sekolah Orang Tua" menjadi wajib agar orang tua siap menjadi seorang orang tua yang tangguh berkarakter dan memiliki pengetahuan tentang pendidikan dan pengasuhan

Keharmonisan keluarga adalah kunci dari pertahanan keluarga, bila keluarga harmonis, komunikasi terbuka, masalah dapat diselesaikan dengan baik, pendidikan dalam keluarga dapat terprogram dengan baik, anak-anak hormat dan mudah mendidiknya. Namun bila dalam keluarga tidak harmonis, selingkuh, berkelahi, konflik berkepanjangan, komunikasi tidak lancar membuat anak menjadi tidak respek, sedih, marah dan melakukan perlawanan dan menjadi jiwa yang bergejolak karena tidak adanya keteladanan, yang akhirnya mereka lebih suka berkumpul dengan reka sebaya seperti tawuran, gang motor , penyalahgunaan narkoba ataupun perilaku seks bebas.

Untuk itu Negara harus hadir dalam mencegah terjadi kerapuhan dan kerapuhan dalam rumah tangga, di saat pandemi, perlu kerja sama dari orang tua agar bisa membentuk anak yang berkarakter, karena orang tua yang setiap hari bersama anak di rumah, buatkan program-program latihan membangun karakter, seperti latihan keberanian, disiplin, tanggung jawab, daya juang, rela berkoban, kepemimpinan dll. B erikan contoh dan keteladan pada anak, misalnya jujur, disiplin, tanggung jawab, berani, semua bisa diawali dengan contoh. Orang tua yang berkasih sayang, saling menghormati, menghargai, disiplin, tanggung jawab, mencari nafkah yang halal pada keluarga adalah contoh yang bisa menginspirasi anak untuk kelak bisa menjadi orang yang berkarakter, karena pendidikan tanpa keteladanan adalah kesiaa-siaan.

Wallahuala'alam

@muhammadiqbalphd

*Muhammad Iqbal, Ph.D

Dekan Fak Psikologi Universitas Mercu Buana

Direktur Eksekutif Institut Indonesia/ Alumni PPRA-54 Lemhannas RI