Konten dari Pengguna

Kenapa Anak Sering Berantem?

Muhammad Iqbal PhD Psikolog

Muhammad Iqbal PhD Psikolog

Seorang Psikolog Bekerja sebagai seorang konselor pernikahan dan Owner Rumah Konseling, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Periode 2016-2021.Saat Dosen Tetap Psikologi Universitas Paramadina. Ketua STIE Swadaya Jakarta

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Iqbal PhD Psikolog tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi marah pada anak Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi marah pada anak Foto: Shutter Stock

Pengasuhan anak (parenting) saat ini menjadi pembahasan yang sering sekali diminati banyak orang tua, kesadaran tentang pentingnya pengasuhan membuat banyak diadakan berbagai pelatihan dan seminar parenting di berbagai tempat, mulai dari majelis taklim, sekolah, hingga di media sosial.

Krisis COVID-19 ini memaksa kita untuk berdiam diri di rumah dan mempraktikkan ilmu tentang pengasuhan yang merupakan sesuatu yang sangat diperlukan, karena dari berbagai curahan hati para ibu dalam situasi krisis seperti ini mereka kewalahan saat mengatasi anak-anak di rumah, mulai dari banyaknya tugas hingga anak-anak yang berantem sepanjang waktu dengan saudara kandungnya.

Di saat 'Stay at Home" untuk mencegah penularan COVID-19 diterapkan, orang tua dan anak menghabiskan waktu bersama di rumah. Hal ini akan mudah menimbulkan kejenuhan dan kebosanan, dan ini membuat keluarga stres dan mulai muncul konflik dan keributan kecil di rumah. Salah satu hal yang sering dikeluhkan adalah anak yang berantem. Tentu saja ini menambah masalah baru dalam rumah serta menjadi tekanan baru bagi orang tua yang akhirnya menjadi marah dan emosi.

Dalam perspektif psikologi, anak yang berantem ada banyak alasan yang bisa menjelaskannya, mulai dari sekadar keisengan, candaan, rebutan mainan apalagi di rumah saat situasi krisis seperti saat sekarang ini tentu saja bisa dimaklumi, karena itu adalah wujud dari kejenuhan dan bosan yang mereka alami. Namun kalau kita kaji lebih mendalam, anak yang berantem atau berkonflik dengan saudara kandung atau dalam perspektif psikologi bisa disebut dengan istilah "sibling rivalry", bisa disebabkan oleh berbagai macam yang lebih kompleks.

ketika orang tua membandingkan anak dengan anak orang lain, fenomena ini membuat anak tertekan, rendah diri, menjaga jarak, persaingan yang tidak sehat, anak menjadi agresif, tidak bergairah dan melawan/memberontak kepada orang tuanya.

Apalagi konflik terjadi berlangsung lama dan menjurus kepada perilaku negatif serta mengganggu kenyamanan dalam rumah tangga. Persaingan atau rivalitas di antara anak atau sibling rivary adalah fenomena di mana terjadi kecemburuan atas sikap, kasih sayang cinta, dan perhatian dari orang tua yang terbagi. Karena tanpa disadari, karena sikap, keunikan dan potensi anak, orang tua memiliki kecenderungan memberikan cinta dan perhatian yang lebih kepada salah satu anak karena keunikan atau kelebihannya, dan orang tua tanpa disadari mengucapkan dan mengungkapkannya dalam bentuk sikap dan perhatian yang lebih kepada salah seorang anaknya. Hal ini membuat saudara kandung kakak/adiknya menyadari hal itu sehingga muncul kecemburuan, persaingan dan ketidaknyamanan di antara mereka.

Fenomena ini biasanya terjadi pada anak yang memiliki fase perkembangan dan usia yang berbeda dengan saudaranya sehingga memunculkan celah bagi mereka untuk saling bertentangan, di mana muncul rasa inferioritas dan untuk mengkonfrontasi perasaan tersebut anak berusaha untuk memperoleh hal-hal yang membuatnya terlihat tidak inferior dan akhirnya menimbulkan perkelahian,

Konflik dan perseteruan tersebut bila dibiarkan bisa berdampak kepada keharmonisan dalam rumah tangga, karena akan berlanjut sampai anak dewasa. Untuk itu orang tua harus mengetahui dampak dari sikap mereka kepada anak.

Menurut Satow (2016) sibling rivalry muncul sebagai dampak dari pengasuhan anak (parenting) :

1. Pahami bahwa sibling rivalry adalah fase yang normal dalam perkembangan anak untuk mengembangkan kemampuan sosial

2. Tidak melabeli anak

3. Tidak memfavoritkan anak

4. Jika anak berkelahi jangan langsung melerai dan menyelamatkan anak yang lebih kecil

5. Jangan terlibat dalam perkelahian anak. Ajarkan anak cara problem solving misalnya dengan komunikasi yang efektif, stimulasi berbendaharaan kata yang lebih banyak

Namun fenomena lain selain "sibling rivalry" yang membuat anak, berantem, resah, dan tidak nyaman serta mengganggu tumbuh kembangnya adalah ketika orang tua membandingkan anak dengan anak orang lain, fenomena ini membuat anak tertekan, rendah diri, menjaga jarak, persaingan yang tidak sehat, anak menjadi agresif, tidak bergairah dan melawan/memberontak kepada orang tuanya.

Muhammad Iqbal, Ph.D

Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana

CEO Rumah Konseling

Untuk Konsultasi Gratis kirim pertanyaan via DM: @muhammadiqbalphd