Pasar Klithikan Pakuncen Yogyakarta: Surga Barang Antik yang Kini Meringkik

Nama Saya Muhammad Iqbal Auliyarrohim seorang mahasiswa komunikasi penyiaran islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Auliyarrohim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasar Klithikan Pakuncen yang dulunya menjadi surga bagi pencinta barang antik di Yogyakarta, kini mulai kehilangan pesonanya. Kawasan yang pernah ramai oleh kolektor dan pemburu barang antik kini terlihat sepi, dengan banyak lapak kosong dan penurunan signifikan dalam jumlah pengunjung. Pada masa jayanya, pasar ini selalu dipadati pembeli yang mencari perabot antik, keramik kuno, hingga pernak-pernik langka dari berbagai era. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, geliat Pasar Klithikan kian meredup, meninggalkan kesan muram di antara pedagang yang masih bertahan.
Yusup (38), salah satu pedagang yang telah berjualan di Pasar Klitikan dari tahun 2008, mengenang betapa ramainya tempat ini dulu. "Dulu, akhir pekan selalu ramai, pembeli berdatangan dari mana-mana. Sekarang? Alhamdulillah kalau masih ada yang datang," ujarnya sambil menata barang dagangannya. Penurunan minat belanja menjadi salah satu penyebab utama kemunduran pasar ini. Generasi muda kini lebih suka berbelanja melalui online. Lebih lanjut Yusup juga menuturkan "Saya kalo gak disini, entah mau dimana," seraya tersenyum.
Menurut Sundono (72), salah satu juru parkir senior di Pasar Klithikan Pakuncen, kemunduran pasar ini mulai terasa sejak tahun 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda. "Sejak masa pandemi, pembeli mulai berkurang drastis. Banyak yang beralih ke belanja online karena takut keluar rumah," ujarnya. Perubahan perilaku konsumen ini ternyata berlanjut bahkan setelah pandemi berakhir, membuat pasar kesulitan menarik kembali pengunjung seperti sedia kala.
Selain pergeseran ke pembelian online, Sundono juga menceritakan fenomena menarik terkait acara yang pernah digelar oleh Honda di teras pasar. "Waktu itu ada event dari Honda karena di sini memang ada yang menjual suku cadang motor. Pengunjungnya ramai sekali, tetapi sayangnya mereka hanya fokus pada acara itu. Pasar tetap sepi, pedagang barang antik tidak kebagian rezeki," kenangnya. Acara semacam ini justru menunjukkan ironi meski bisa mendatangkan keramaian, namun belum tentu berdampak positif bagi para pedagang inti pasar.
