Kaki Pengkor atau CTEV pada Anak Dapat Disembuhkan Secara Gratis

Founder Muda Bicara ID, Peneliti di Komite Independen Sadar Pemilu (KISP)
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Khatami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kaki pengkor, atau dalam istilah medis Congenital Talipes Equinovarus (CTEV), adalah kelainan bawaan yang menyebabkan posisi kaki bayi tampak tidak normal saat dilahirkan. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kaki yang melengkung ke dalam atau menyamping, serta terkadang terlihat lebih pendek dibandingkan kaki yang sehat. Penyebab pasti CTEV belum diketahui secara pasti, tetapi para ahli menduga bahwa hal ini melibatkan faktor genetik dan lingkungan. Kelainan ini berkembang sejak masa awal kehamilan dan bisa memengaruhi salah satu atau kedua kaki bayi.
Pada anak dengan CTEV, terjadi pengetatan pada otot dan tendon di bagian dalam kaki yang menyebabkan kaki tertarik ke dalam. Diagnosis kaki pengkor dapat dilakukan segera setelah bayi lahir melalui pemeriksaan fisik, dan dalam beberapa kasus dapat dideteksi sejak masa kehamilan dengan menggunakan ultrasonografi (USG). Saat ini, metode penanganan yang paling direkomendasikan untuk CTEV adalah metode non-operatif Ponseti, di mana gips dipasang secara bertahap dan bayi harus menggunakan sepatu khusus untuk memperbaiki posisi kaki.
Di Indonesia, prevalensi kaki pengkor diperkirakan antara 0,76 hingga 3,49 per 1000 kelahiran hidup, dengan sekitar 3.648 hingga 16.752 kasus baru per tahun. Rasio kejadian kaki pengkor pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan adalah 2:1.
Faktor Risiko dan Penyebab
Faktor genetik: Jika salah satu orang tua memiliki riwayat CTEV, risiko pada anak sekitar 3-4%. Jika kedua orang tua mengidapnya, risiko meningkat menjadi 30%.
Faktor risiko lainnya: Riwayat keluarga, kebiasaan merokok selama kehamilan, serta adanya gangguan genetik tertentu turut meningkatkan kemungkinan terjadinya CTEV.
Penyebab pasti dari kondisi ini masih belum sepenuhnya dipahami, tetapi kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan diyakini berperan besar.
Meskipun kaki pengkor sulit untuk dicegah, intervensi yang cepat dan tepat bisa memberikan hasil yang sangat baik. Pengobatan sebaiknya dimulai sejak bayi berusia 1-2 minggu untuk mencapai hasil optimal. Jika metode non-operatif tidak berhasil, intervensi bedah mungkin menjadi pilihan. Dengan penanganan yang tepat, anak-anak dengan CTEV dapat tumbuh normal, berjalan, dan menjalani kehidupan yang aktif seperti anak-anak pada umumnya.
Tantangan Penanganan Kaki Pengkor di Indonesia
Terdapat beberapa tantangan dalam penanganan kaki pengkor di Indonesia, khususnya terkait dengan pemahaman masyarakat dan akses terhadap layanan medis. Berikut beberapa tantangan yang sering dihadapi:
Mitos dan Stigma Sosial Banyak mitos yang salah terkait kaki pengkor, misalnya dianggap sebagai kutukan, hasil perbuatan roh jahat, atau terkait dengan ilmu hitam. Akibatnya, tidak sedikit keluarga yang merasa malu dan menyembunyikan anak mereka sehingga menunda pengobatan yang semestinya dilakukan sejak dini.
Penolakan Pengobatan Medis Sebagian orang tua enggan menerima perawatan medis untuk anak mereka yang mengalami CTEV. Beberapa lebih memilih pengobatan alternatif seperti pijat atau urut, yang sebenarnya tidak efektif dalam mengatasi kaki pengkor. Ada pula kekhawatiran bahwa pengobatan medis akan menambah penderitaan anak atau memperburuk kondisi.
Keterbatasan Akses dan Biaya Akses terhadap fasilitas kesehatan yang memadai masih menjadi kendala, terutama di daerah terpencil. Selain itu, anggapan bahwa biaya perawatan medis mahal membuat sebagian masyarakat tidak mencari pengobatan, meskipun metode Ponseti lebih terjangkau dibandingkan prosedur bedah. Kurangnya tenaga medis terlatih untuk menangani kasus kaki pengkor juga menjadi masalah di beberapa wilayah.
MENTARI Clubfoot: Solusi Pengobatan Gratis untuk Kaki Pengkor
MENTARI Clubfoot, sebuah inisiatif dari Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bekerja sama dengan Miraclefeet, hadir untuk memberikan layanan pengobatan kaki pengkor (CTEV) secara gratis dengan menggunakan metode Ponseti, meliputi: 1. konsultasi, 2. pemasangan Gips, 3. tenotomy, dan 4. pemasangan sepatu.
Program ini beroperasi di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, dengan tujuan memberikan dukungan penuh kepada keluarga yang membutuhkan perawatan kaki pengkor yang komprehensif.
Saat ini, MENTARI Clubfoot bekerja sama dengan tujuh rumah sakit mitra dan satu rumah sakit jejaring, yaitu: RS PKU Muhammadiyah Bantul, RS PKU Muhammadiyah Jogja, RS PKU Muhammadiyah Cepu, RS PKU Muhammadiyah Temanggung, RSI PKU Muhammadiyah Tegal, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS Aisyiyah Kudus, dan RS PKU Aisyiyah Jepara.
Layanan MENTARI Clubfoot dapat diakses melalui media sosial @mentari_clubfoot, dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan dan membantu anak-anak dengan kaki pengkor agar bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
