Mengapa Manusia Lebih Senang Berkompetisi dibanding Berkolaborasi?

Founder Muda Bicara ID, Peneliti di Komite Independen Sadar Pemilu (KISP)
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Khatami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam era digital yang saling terhubung ini, ada paradoks menarik yang terus mengganggu kita; mengapa semakin maju peradaban, semakin besar motivasi manusia untuk bersaing satu sama lain, meskipun kita semua tahu bahwa kolaborasi adalah kunci kemajuan sejati. Fenomena ini terjadi karena alasan apa? Jawabannya terletak pada evolusi manusia.
Insting berfokus pada ribuan tahun yang lalu, ketika manusia bersaing satu sama lain di padang pasir yang luas. Setiap orang berjuang untuk makanan, perlindungan, dan kesempatan reproduksi, yang sangat sedikit. Sementara yang lain tersingkir, mereka yang paling kuat, cepat, atau strategis bertahan. Pola ini secara bertahap tertanam dalam DNA dan otak kita.
Tidak mengherankan bahwa hasrat kompetitif kita masih kuat bahkan saat kebutuhan dasar kita telah dipenuhi. Kita tidak lagi bersaing untuk mangsa atau gua; kita bersaing untuk posisi, gaji, pengakuan, dan status, yang sebenarnya merupakan ekspresi kontemporer dari kebutuhan dasar itu sendiri.
Budaya Kompetisi
Fenomena ini secara signifikan diperkuat oleh budaya sosial, terutama di masyarakat yang menekankan prestasi dan individualisme. Kita dididik untuk "menjadi yang terbaik", "unggul dibanding teman-teman", dan "mencapai puncak" sejak kecil. Pesan yang sama: hanya pemenang yang berhak mendapatkan pengakuan, telah disampaikan oleh sistem pendidikan berbasis rangking, dunia kerja yang dipenuhi dengan KPI, dan media sosial yang mengukur keberhasilan melalui jumlah suka dan pengikut.
"Jika saya membantu orang lain, saya akan tertinggal" adalah pernyataan yang sering digunakan untuk menggambarkan kolaborasi sebagai kompromi atau kelemahan dalam situasi seperti ini. Hal ini adalah logika yang masuk akal dalam penghitungan kasat mata di mana keuntungan satu pihak sama dengan kerugian pihak lain. Meskipun dunia kontemporer jauh lebih kompleks, kebanyakan orang masih terperangkap dalam pandangan ini.
Kompetisi adalah Keniscayaan
Kita tidak boleh menolak kompetisi sepenuhnya. Kompetensi yang kuat memiliki banyak keuntungan. Ia menciptakan standar excellence, mendorong inovasi, dan mendorong kita untuk melampaui batas. Jika tidak ada kompetisi, tidak ada kebutuhan untuk berkembang, tidak ada alasan untuk keluar dari zona nyaman, dan kreativitas akan hilang.
Ambil saja industri teknologi atau olahraga sebagai contoh. Ketika ada persaingan ketat di antara pemain besar, produk dan layanan menjadi lebih baik. Atlet yang terus berlatih dapat mencapai prestasi yang tampak tidak mungkin sepuluh tahun sebelumnya. Dalam jumlah yang tepat, kemampuan adalah sumber kemajuan.
Kolaborasi: Kekuatan yang Diabaikan
Kerja sama dan kolaborasi sering menjadi hal yang tidak terlihat di balik setiap prestasi luar biasa. Selain dirinya sendiri, Steve Jobs memimpin kelompok pemikir kreatif, desainer, dan insinyur. Para pemenang Nobel bekerja sama dengan tim peneliti untuk proyek. Ribuan orang yang bergerak bersama membangun bisnis terbesar di dunia.
Jika orang bekerja sama dengan baik, mereka dapat mengatasi keterbatasan masing-masing, menggabungkan perspektif yang berbeda, dan menciptakan solusi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sangat penting untuk menyeimbangkan keduanya; pertanyaan sebenarnya bukan "apakah kita harus bersaing atau berkolaborasi", tetapi "bagaimana kita menyeimbangkan keduanya?" Keunggulan diri tidak hanya mengalahkan pesaing, tetapi juga kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain, memperkuat tim, dan membuat lingkungan di mana semua orang dapat berkembang.
Orang-orang yang sukses benar-benar tahu ini. Mereka tidak hanya kompetitif, tetapi mereka juga suka berbagi informasi. Mereka tidak terlalu ambisius secara individual, tetapi mereka berkomitmen pada kesuksesan kelompok. Mereka menyadari bahwa bekerja sama adalah cara terbaik untuk mencapai kemenangan—bukan mengalahkan orang lain.
Di masa depan, kesuksesan tidak hanya diukur dari kemenangan di kompetisi, tetapi juga dari efek positif yang kita hasilkan bersama. Saatnya untuk menguji intuisi kuno kita dan memilih kerja sama tanpa mengorbankan kualitas. Hanya dengan cara itu kita dapat mencapai potensi penuh kita sebagai masyarakat dan individu.
