Konten dari Pengguna

QRIS, Dompet, dan Harga Sebuah Cinta Pada Rupiah

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa KKN tengah berdiskusi dan menerima pembekalan langsung dari tim Bank Mandiri terkait proses pembuatan QRIS, sebelum melakukan sosialisasi kepada masyarakat desa.
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa KKN tengah berdiskusi dan menerima pembekalan langsung dari tim Bank Mandiri terkait proses pembuatan QRIS, sebelum melakukan sosialisasi kepada masyarakat desa.

Pernahkah kamu berdiri di depan gerobak kopi keliling, melihat stiker QRIS kecil menempel di sisi gerobak, dan merasa bangga?

Tidak semua orang mungkin merasakannya. Tapi bagi saya, melihat QRIS di warung kaki lima, di penjual pecel pinggir jalan, bahkan di penjual dawet keliling adalah sebuah bentuk revolusi yang sunyi, namun dalam. Bukan sekadar transaksi yang lebih cepat. Tapi perubahan cara berpikir bangsa terhadap uang dan identitasnya sendiri.

Dari Dompet ke Layar

Dulu, kita membawa uang tunai dalam dompet, penuh dengan lembaran dan koin. Uang terasa berat, kadang kotor, kadang hilang. Tapi di balik kerumitan itu, ada hubungan emosional yang aneh, karena melihat bentuk fisiknya, kita “merasa” punya uang.

Kini, dengan QRIS dan dompet digital, uang menjadi sesuatu yang abstrak. Sekadar angka. Kita tinggal “scan”, “klik”, dan selesai. Uangnya hilang begitu saja—tanpa bunyi, tanpa sentuhan. Praktis, tapi terasa jauh.

Lalu pertanyaannya: apakah kemudahan itu membuat kita makin menghargai rupiah, atau justru menjauhkannya dari kesadaran?

QRIS dan Rasa Percaya Diri Baru

Di sinilah letak pentingnya gerakan Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. Karena mencintai tidak selalu berarti memegang. Kadang justru berarti percaya.

Dengan QRIS, kita sedang belajar percaya pada sistem. Pada teknologi buatan negeri sendiri. Pada mata uang kita sendiri, bahwa rupiah layak berada di dunia digital, berdiri sejajar dengan yen, dolar, atau euro dalam dunia e-wallet.

Dan bagi para pedagang kecil itu, yang dulu mungkin tidak mengenal rekening bank, QRIS adalah semacam paspor digital. Tanda bahwa mereka diakui. Bahwa ekonomi digital bukan cuma milik mereka yang berkemeja dan berdasi, tapi juga yang bersarung, berkeringat, dan tetap berjualan meski hujan.

Cinta yang Melewati Layar

Bangga pada rupiah berarti menggunakannya secara sadar. Bukan sekadar karena tidak ada pilihan lain. QRIS mengajari kita hal itu. Kita bisa pakai Gopay, OVO, DANA, ShopeePay, apa pun platformnya. Tapi di balik itu, semua tetap kembali pada satu, yakni rupiah.

Kita mungkin tidak melihat gambarnya, tidak menyentuh kertasnya. Tapi saat kita scan QRIS, rupiah itu bergerak. Dari kita, ke pedagang, ke pelaku UMKM, dan terus mengalir dalam nadi ekonomi nasional. Dan dari situlah cinta yang sebenarnya tumbuh: bukan dari seberapa banyak kita punya, tapi seberapa sadar kita menjaganya tetap hidup.

Paham Adalah Bentuk Cinta Tertinggi

Orang bisa cinta karena terbiasa. Tapi paham? Itu urusan lain. Ketika kita mulai paham kenapa QRIS dibuat, kenapa penting mencintai mata uang sendiri, dan kenapa rupiah adalah simbol kedaulatan, di situlah cinta bertumbuh dewasa.

Dan seperti cinta dalam hubungan apa pun, paham membawa kita pada tindakan: belanja di warung lokal, pilih transaksi dalam negeri, dukung usaha kecil, dan belajar tentang literasi keuangan digital. Semua itu adalah cara mencintai rupiah dengan cara yang tidak bising, tapi berdampak.

Akhir kata, QRIS bukan cuma tentang cashless. Tapi tentang cinta yang berpindah bentuk. Dari genggaman ke layar. Dari rasa memiliki ke rasa menghargai. Dari simbol ke makna.

Rupiah kita, tak hanya bisa dipegang. Ia bisa dipercaya. Dan bukankah kepercayaan adalah inti dari semua cinta yang baik?

Referensi

Bank Indonesia. (2023). Gerakan Nasional Cinta, Bangga, Paham Rupiah.

https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_252723.aspx

Bank Indonesia. (2024). QRIS: Quick Response Code Indonesian Standard. https://www.bi.go.id/id/qris

Cialdini, R. B. (1984). Influence: The psychology of persuasion. Harper Business.

Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.

Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40(6), 998–1009. https://doi.org/10.1002/ejsp.674

Otoritas Jasa Keuangan. (2023). Literasi keuangan digital dan peran QRIS dalam inklusi keuangan. https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi