Konten dari Pengguna

Dari Korban Bullying Menjadi Pelatih Tapak Suci

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foro milik Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foro milik Pribadi

Oleh: M. Ismail Ketua Pimda Tapak suci 212 Kota Serang.

Saya pernah menjadi korban bullying. Ketika masih kecil, tubuh saya yang kecil dan kurus membuat saya kerap merasa tidak berdaya. Bagi sebagian orang, kondisi fisik mungkin hanya bahan candaan. Namun, bagi anak yang mengalaminya, ejekan dan perlakuan merendahkan dapat meninggalkan luka yang tidak mudah dilupakan.

Saya tahu bagaimana rasanya berada dalam posisi yang lemah. Saya tahu bagaimana rasanya ketika kondisi fisik membuat seseorang merasa tidak percaya diri di hadapan orang lain. Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, sekaligus titik balik yang mengubah cara saya memandang keberanian dan perlindungan diri.

Saya tidak ingin terus berada dalam posisi sebagai korban. Saya kemudian memutuskan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Di sanalah saya mulai belajar bela diri, melatih fisik, membangun mental, serta memahami arti kedisiplinan dan keberanian.

Namun, ada satu hal penting yang saya pelajari: menjadi kuat bukan berarti harus menakuti orang lain. Menjadi kuat berarti mampu menjaga diri, mengendalikan emosi, dan menggunakan kemampuan untuk hal yang benar.

Pengalaman itulah yang akhirnya membawa saya pada posisi saya hari ini, menjadi seorang pelatih Tapak Suci. Saya ingin memberikan kepada anak-anak sesuatu yang dahulu saya perjuangkan sendiri: keberanian untuk menghadapi tekanan, kepercayaan diri untuk berdiri tegak, dan kemampuan untuk melindungi diri ketika menghadapi ancaman.

Bullying Bukan Sekadar Candaan

Bullying masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Perundungan kerap dianggap sebagai kenakalan biasa, bahan bercanda antarteman, atau bagian dari proses tumbuh dewasa. Padahal, tindakan merendahkan, mengintimidasi, mengucilkan, dan melakukan kekerasan terhadap orang lain dapat menimbulkan dampak yang panjang.

Tidak semua anak memiliki keberanian untuk melawan. Ada yang memilih diam karena takut, ada yang menyembunyikan penderitaannya dari orang tua, dan ada pula yang kehilangan kepercayaan diri akibat perlakuan yang terus berulang.

Kita tidak boleh menyalahkan anak yang menjadi korban hanya karena dianggap lemah atau tidak mampu membela dirinya. Tanggung jawab atas perundungan tetap berada pada pihak yang melakukan tindakan tersebut. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk mencegah serta menangani perundungan.

Saya memahami persoalan ini bukan hanya dari apa yang saya baca atau dengar. Saya pernah berada di posisi anak yang merasa kecil di hadapan orang lain. Karena itu, saya tidak ingin pengalaman serupa terus dialami oleh anak-anak berikutnya.

Tapak Suci Mengajarkan Lebih dari Sekadar Bela Diri

Bagi saya, Tapak Suci bukan sekadar tempat mempelajari pukulan, tendangan, atau teknik menghadapi lawan. Di dalam latihan, anak-anak juga belajar disiplin, menghormati pelatih, menaati aturan, menjaga sikap, dan mengendalikan diri.

Latihan fisik membantu anak mengenali kemampuan tubuhnya. Latihan yang dilakukan secara bertahap dapat membangun kebugaran dan rasa percaya diri. Sementara itu, pendidikan mental mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu ditunjukkan dengan perlawanan fisik.

Anak yang percaya diri tidak harus membuktikan dirinya dengan berkelahi. Anak yang kuat tidak perlu merendahkan temannya. Justru, semakin baik kemampuan bela diri seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menggunakan kemampuan tersebut secara bijaksana.

Inilah nilai yang ingin saya tanamkan kepada anak-anak yang saya latih. Saya ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani, tetapi tidak arogan; tegas, tetapi tidak kasar; kuat, tetapi tetap memiliki empati.

Saya ingin mereka memahami bahwa bela diri adalah sarana perlindungan, bukan alat untuk mengintimidasi orang lain.

Saya Ingin Anak-Anak Berani Membela Diri

Sebagai pelatih, saya memiliki harapan sederhana tetapi penting: saya ingin anak-anak memiliki keberanian untuk berkata tidak terhadap perlakuan yang salah, berani meminta pertolongan, dan tidak merasa sendirian ketika menghadapi perundungan.

Membela diri tidak selalu berarti membalas pukulan dengan pukulan. Dalam situasi perundungan, tindakan paling tepat bisa berupa menjauh dari lokasi berbahaya, mencari tempat yang aman, meminta bantuan orang dewasa, melaporkan kejadian, atau menggunakan teknik perlindungan diri ketika benar-benar diperlukan untuk melepaskan diri dari serangan.

Anak-anak juga harus dibekali pemahaman bahwa tidak ada kewajiban untuk menghadapi pelaku sendirian. Melawan bullying membutuhkan dukungan lingkungan, bukan sekadar keberanian individu.

Karena itu, saya ingin pendidikan bela diri berjalan seiring dengan pendidikan karakter. Anak-anak harus memahami batas antara membela diri dan melakukan kekerasan. Mereka perlu mengetahui kapan harus bersikap tegas, kapan harus menjauh, dan kepada siapa mereka dapat meminta pertolongan.

Saya tidak ingin menciptakan anak-anak yang gemar berkelahi. Saya ingin mendidik anak-anak yang tidak mudah ditindas, mampu menjaga dirinya, serta berani membela teman yang menjadi korban dengan cara yang aman dan bertanggung jawab.

Tanggung Jawab Orang Tua dan Sekolah

Pencegahan bullying tidak bisa dibebankan hanya kepada anak atau pelatih bela diri. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman menceritakan persoalan yang dialaminya.

Sekolah juga harus menyediakan lingkungan yang melindungi setiap peserta didik. Laporan perundungan perlu ditanggapi secara serius, korban harus memperoleh pendampingan, dan perilaku pelaku harus ditangani melalui pembinaan serta mekanisme yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kegiatan ekstrakurikuler, termasuk Tapak Suci, dapat menjadi salah satu bagian dari upaya membangun karakter dan kepercayaan diri. Namun, latihan bela diri bukan pengganti sistem pencegahan bullying yang menyeluruh. Kita tetap membutuhkan pengawasan, pendidikan empati, keberanian untuk melapor, dan tindakan nyata dari pihak yang bertanggung jawab.

Jangan sampai anak yang menjadi korban justru diminta terus bersabar, sementara perilaku pelaku tidak pernah diperbaiki.

Kita perlu mengubah cara pandang: anak yang menjadi korban bukanlah anak yang gagal membela dirinya. Ia adalah anak yang berhak mendapatkan perlindungan.

Mengubah Luka Menjadi Pengabdian

Ketika mengingat masa lalu, saya menyadari bahwa pengalaman menjadi korban bullying telah membentuk sebagian perjalanan hidup saya. Pengalaman tersebut membawa saya mengenal Tapak Suci, belajar memperkuat fisik dan mental, hingga akhirnya menjadi pelatih.

Saya tidak bisa mengubah apa yang pernah saya alami. Namun, saya bisa memilih bagaimana pengalaman itu saya gunakan hari ini.

Saya memilih menjadikannya alasan untuk mendampingi anak-anak. Saya ingin setiap latihan bukan hanya menghasilkan gerakan bela diri yang baik, melainkan juga membangun karakter, rasa percaya diri, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Saya ingin anak-anak yang berlatih bersama saya memahami bahwa mereka berharga, bahwa tubuh mereka tidak pantas dijadikan bahan hinaan, dan bahwa mereka berhak merasa aman di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.

Jika dahulu saya harus berjuang membangun keberanian untuk menghadapi perlakuan yang merendahkan, hari ini saya ingin membantu anak-anak menemukan keberanian itu dengan bimbingan yang tepat.

Saya pernah menjadi korban bullying. Kini, saya ingin menjadi bagian dari upaya agar anak-anak lain tidak harus mengalami luka yang sama.

Bagi saya, inilah makna menjadi seorang pelatih: bukan hanya mengajarkan cara menghadapi lawan, melainkan membentuk manusia yang mampu menjaga dirinya, menghormati orang lain, dan berani berdiri di sisi kebenaran.

Sebab, tujuan akhir bela diri bukanlah membuat seseorang ditakuti. Tujuan yang lebih mulia adalah membentuk pribadi yang kuat tanpa menyakiti, berani tanpa merendahkan, dan mampu melindungi tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.