Konten dari Pengguna

Menyambut Hari Santri: Kilas Balik Kontribusi

Muhammad Izzul Islam An Najmi

Muhammad Izzul Islam An Najmi

Dosen Tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Tidak Tetap di Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah Jombang Kandidat Doktor Studi Islam di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Khidmah di PP. Bahrul Ulum Tambakberas

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Izzul Islam An Najmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock

Jika kita berbicara tentang perjalanan bangsa Indonesia, tidak lengkap rasanya tanpa menyebut kata santri. Santri bukan hanya identik dengan dunia pesantren, kitab kuning, atau kehidupan sederhana di pondok. Lebih dari itu, santri punya peran penting dalam perjuangan, pembangunan, dan perkembangan budaya bangsa.

Santri dalam Sejarah Indonesia

Sejak abad ke-18, pesantren sudah tumbuh sebagai pusat pendidikan rakyat. Di masa penjajahan, pesantren menjadi benteng perlawanan terhadap kolonialisme. Para kiai dan santri bukan hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga menanamkan semangat perlawanan, baik perlawanan fisik, pergerakan nasional bahwa banyak kiai dan santri ikut serta dalam perang melawan penjajah, seperti perlawanan Pangeran Diponegoro (1825–1830) yang dibantu oleh para ulama dan santrinya.

Saat memasuki abad ke-20, santri ikut aktif dalam organisasi pergerakan. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh lainnya adalah contoh nyata santri yang meletakkan dasar penting bagi pendidikan, organisasi Islam, dan kebangsaan.

Puncaknya ketika muncul Resolusi Jihad 1945, santri tercatat dalam sejarah ketika KH. Hasyim Asy’ari menyerukan resolusi jihad melawan penjajah setelah Proklamasi. Seruan itu menjadi pemicu lahirnya pertempuran 10 November di Surabaya. Sejak dulu, pesantren tidak pernah hanya jadi tempat belajar kitab. Di masa penjajahan, pesantren menjelma markas perlawanan. Para kiai mengajarkan ilmu agama sekaligus menanamkan cinta tanah air.

Mengapa Hari Santri bukan Hari Kiai?

Sejak 2015, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, sebagai bentuk penghargaan atas jasa para santri dalam sejarah Indonesia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa santri bukan hanya penjaga agama, tapi juga pejuang dan penggerak bangsa. maka muncul pertanyaan mendasar “kenapa yang diperingati Hari Santri, bukan Hari Kiai? Bukankah kiai juga punya peran besar dalam sejarah bangsa?”

Jawabannya adalah karena para Kiai dan Ulama juga berasal dari Santri, mereka pernah merasakan mengemban ilmu kepada para guru-gurunya posisi seperti itulah yang membuat mereka pernah menjadi santri bahkan sampai sekarang pun tetaplah santri, karena sebutan santri akan melekat sepanjang hayat.

Jika kita kembali pada definisi "santri" maka secara sederhana, santri adalah orang yang belajar ilmu agama di pesantren dengan bimbingan seorang kiai atau ustaz. Santri biasanya hidup di pondok, belajar kitab-kitab klasik (kitab kuning), menjalani disiplin spiritual, sekaligus mengasah kemandirian. Namun lebih dari sekadar “murid pesantren”, santri identik dengan semangat kesederhanaan, ketekunan, dan ketulusan dalam menuntut ilmu. Mereka tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mengabdi kepada masyarakat dan bangsa.

Hari Santri bukan berarti mengecilkan peran para kiai. Justru sebaliknya, Hari Santri adalah cara untuk menghargai kolaborasi antara kiai dan santri dalam menjaga agama, bangsa, dan negara. Kiai memimpin dengan ilmu dan kebijaksanaan, santri menggerakkan dengan semangat dan pengorbanan.

Sumber: Hasil Prompt AI ChatGPT

Kontribusi Nyata untuk Negeri

Peran santri tidak berhenti setelah kemerdekaan. Justru di era modern, santri semakin luas kontribusinya. Jika meminjam istilah yang tercantum dalam sya'ir Syubbanul Wathan karya KH. Abdul Wahab Hasbullah "Hubbul Wathan Minal Iman" yang berartikan "mencintai tanah air sebagian dari iman" maka sebenarnya hal itulah telah terpatri dalam hati para santri, tak perlu tanya seberapa besar nasionalisme para santri, bahkan dalam banyak bidang santri telah memberi kontribusi nyata untuk negeri. Dalam bidang pendidikan dan dakwah santri terus menjadi penggerak pendidikan, tidak hanya di pesantren, tapi juga di sekolah dan universitas. Banyak alumni pesantren yang kini menjadi akademisi, penulis, dan cendekiawan. Dalam bidang kebudayaan tradisi santri melahirkan corak Islam Nusantara yang ramah, moderat, dan toleran. Dari seni hadrah, kitab kuning, hingga tradisi tahlilan, semuanya membentuk wajah khas keislaman Indonesia.

Kemudian dalam bidang politik dan kebangsaan telah banyak santri yang kini menduduki posisi penting di pemerintahan. Kehadiran mereka menjaga nilai moral dan spiritual dalam proses pembangunan bangsa. Apalagi dalam bidang ekonomi dan sosial santri juga mulai masuk ke ranah kewirausahaan.

Pesantren-pesantren di berbagai daerah kini mengembangkan koperasi, usaha mandiri, hingga teknologi digital untuk memberdayakan umat. Santri adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Dari masa perjuangan hingga era digital, santri selalu hadir memberi warna baik melalui pendidikan, dakwah, budaya, maupun pembangunan. Semangat kesederhanaan, keikhlasan, dan cinta tanah air adalah warisan besar santri untuk bangsa.