Guru dalam Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Tantangan Masa Kini

Dosen Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Japar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali memperingati Hari Guru, ingatan kita kembali pada sosok Ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan nasional. Namun, pertanyaan penting yang relevan untuk direnungkan saat ini adalah: apakah kita benar-benar memahami gagasan Ki Hajar tentang guru itu sendiri?
Di tengah perubahan zaman, perkembangan teknologi, serta derasnya informasi, pemikiran Ki Hajar Dewantara justru semakin menemukan signifikansinya. Ia tidak hanya melihat guru sebagai pengajar di kelas, tetapi juga sebagai teladan moral, pembimbing kehidupan, dan penuntun kemerdekaan berpikir peserta didik.
Ki Hajar menekankan konsep “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Konsep ini bukan sekadar semboyan yang dihafal di sekolah, melainkan prinsip antropologis tentang manusia dalam proses pendidikan. Guru yang berada di depan harus menjadi teladan dan konsisten dalam tindakan. Ketika berada di tengah, guru perlu membangun motivasi dan ruang dialog, bukan mendominasi. Dan ketika di belakang, guru memberi dorongan, kepercayaan, serta kesempatan bagi peserta didik untuk menemukan dirinya sendiri. Inilah pendidikan yang memerdekakan, sebagaimana ditulis Ki Hajar dalam Bagian I: Pendidikan (1935).
Namun, tantangan guru saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan di masa Ki Hajar. Globalisasi, digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga budaya instan telah mengubah cara belajar generasi muda. Di tengah banjirnya akses terhadap informasi, murid membutuhkan bimbingan intelektual, kedewasaan emosional, dan inspirasi nilai. Karena itu, guru masa kini bukan hanya pengajar materi, tetapi arsitek nalar publik, pembentuk karakter, dan pemandu etika bermedia.
Ahli pendidikan Indonesia, Prof. Haedar Nashir, pernah menegaskan bahwa guru ideal adalah sosok yang menguasai ilmu, berkepribadian matang, dan peka terhadap perkembangan zaman. Hal senada juga dikemukakan oleh Prof. Suyatno (UPI): “Guru hari ini harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ia tidak boleh berhenti belajar, karena jika guru berhenti belajar, maka murid akan berhenti maju.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kapasitas guru ditentukan oleh kemauannya untuk terus memperbarui pengetahuan, terutama dalam bidang teknologi dan literasi digital.
Kini, penguasaan teknologi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Guru perlu terampil mengelola sumber belajar digital, memilah informasi, memanfaatkan platform pembelajaran, hingga memahami etika penggunaan kecerdasan buatan. Akan tetapi, teknologi hanyalah alat. Esensi seorang guru tetap terletak pada kemampuannya membangun hubungan kemanusiaan —hal yang tidak dapat digantikan mesin.
Pada akhirnya, harapan bangsa terhadap guru masa kini tetap sama seperti yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara hampir seabad lalu: pendidikan harus memanusiakan manusia. Jika guru mampu menjadi teladan luhur, pembimbing yang bijaksana, dan pembelajar yang rendah hati, maka pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan merdeka dalam berpikir serta bertindak.
