Memaknai Kembali Hakikat Pahlawan

Dosen Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Japar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 10 November, kita memperingati Hari Pahlawan sebagai penghormatan terhadap mereka yang memperjuangkan kemerdekaan. Dalam ingatan kolektif, pahlawan adalah sosok yang turun ke medan perang, mengangkat senjata, dan mempertaruhkan nyawa demi merah putih. Sejarawan Anhar Gonggong pernah mengatakan bahwa para pejuang tidak bergerak karena ambisi untuk dikenang, melainkan karena tidak punya pilihan lain selain bertindak.
Kala itu bangsa ini berada dalam ancaman, dan keputusan untuk melawan adalah keputusan moral. Namun delapan puluh tahun setelah kemerdekaan, kita hidup di zaman yang sangat berbeda. Perang tidak lagi meletus di medan bersenjata, melainkan di medan hidup sehari-hari. Bukan lagi melawan penjajah, tapi melawan ketidakpedulian, melawan korupsi nilai, melawan godaan untuk menyerah pada kenyamanan yang menumpulkan nurani.
Kata “pahlawan” sering kali kita tempatkan terlalu jauh, terlalu tinggi, terlalu monumental. Seolah kepahlawanan hanya milik mereka yang namanya tertulis dalam buku sejarah dan wajahnya terpahat dalam patung.
Padahal, sebagaimana diingatkan pemikir kebangsaan M. Natsir, kepahlawanan bukan soal kemenangan besar, melainkan keberanian untuk “berdiri di pihak yang benar, meski kita seorang diri.” Keberanian ini disebut sejarawan Taufik Abdullah sebagai tindakan moral independen, yaitu tindakan di mana keberanian didasarkan pada nurani, bukan sekadar mengikuti arus atau tekanan sosial. Dengan demikian, kepahlawanan bukan hanya soal aksi besar di medan perang, tapi juga kesetiaan pada nilai-nilai moral dalam keseharian.
Di keseharian itu, pahlawan sering hadir dalam wujud yang tidak mencolok. Mereka adalah guru yang tetap mengajar di sekolah pelosok dengan papan tulis rapuh, namun percaya bahwa ilmu dapat mengubah jalan hidup seorang anak. Mereka adalah tenaga kesehatan yang menghabiskan malam-malam yang panjang merawat pasien dan mengupayakan kesembuhannya.
Mereka adalah petani dan nelayan yang terus bekerja memastikan ada makanan di meja keluarga-keluarga di negeri ini. Pemikir hukum Satjipto Rahardjo menyebut mereka sebagai “penopang senyap republik” orang-orang yang kebaikannya tidak tercatat, namun tanpanya negara ini rapuh.
Kepahlawanan juga tampak dalam ruang sosial yang lebih luas. Ada jurnalis yang menulis apa adanya, bukan apa yang paling aman. Ada hakim dan advokat yang menjaga integritas meski tekanan bisa datang dalam berbagai bentuk. Ada warga biasa yang bersuara ketika melihat ketidakadilan, meski tahu konsekuensinya tidak mudah.
Namun, di tengah dunia yang serba cepat hari ini, kita sering lebih mudah mengagumi daripada meneladani. Kisah inspiratif bisa viral dalam hitungan detik, tetapi bisa hilang dalam hitungan jam. Kadang kita tergerak oleh cerita pahlawan, tetapi tidak terdorong untuk mengambil langkah kecil dalam hidup kita sendiri untuk berani dan setia terhadap kebenaran, kejujuran, dan keadilan.
Karena itu, Hari Pahlawan seharusnya tidak hanya menjadi upacara mengenang masa lalu. Ia adalah ajakan untuk bercermin. Pertanyaannya sederhana: Apakah kita masih menjaga nilai-nilai moral itu? Kita mungkin tidak akan menjadi nama jalan atau monumen, tapi dalam kesunyian itulah, kepahlawanan menemukan maknanya yang sejati.
