Kelezatan Hidangan Sajian Kantin Bu Intan dalam Satu Piring Mie Tiaw

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Kevin Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kantin Bu Intan menyajikan makanan khas Pontinak dengan cita rasa sedap.

Kantin Bu Intan menyajikan makanan khas Pontinak dengan cita rasa sedap. Kantin Bu Intan berdiri sejak tahun 2015 berlokasi di Jalan Karet Pontianak Barat.
Kantin Bu Intan menjual menu khas yang wajib warga Pontianak rasakan kenikmatannya, yaitu Mie Tiaw disajikan bersamaan dengan irisan daging, bakso, telur orek, juga dengan taburan bawang goreng yang menambah aroma dan kenikmatan dari Mie Tiaw.
Ibu Evi, pemilik Kantin Bu Intan, mengatakan sejak dibukanya kantin Bu Intan pada 2015 Mie Tiaw paling banyak diminati pembeli, dikarenakan cita rasa yang disajikan nikmat dan unik. resep turun-temurun dan bahan segar menjadi kunci kenikmatan hidangan tersebut. Dengan harga RP 12-15 ribu, Hal ini membuat kantin Bu Intan tidak hanya dikenal sebagai tempat makan yang terjangkau, tetapi juga sebagai tempat yang menghadirkan cita rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
”Mie tiaw di Pontianak ramai yang jual yang bedakan Mie Tiaw saye dengan Mie Tiaw lain dari resep yang saye simpan dari Ibu diwariskan langsung ke saye jadi rasenye bede jak gitu, ramai yang nanya resepnye cuman nda saye kasi karne rahasie dapur. Saye berusahe kasi yang terbaek buat pelanggan senang jak rasenye lihat pelanggan bahagie dengan masakan saye” Ibu Evi, Senin, 24 November 2025.
Sudah berdiri 1 dekade menandakan Kantin Bu Intan selalu konsisten mempertahankan cita rasa Kantin Bu Intan berkomitmen menjaga dan melestarikan resep asli warisan keluarga sebagai fondasi utama kualitas dan kepercayaan pelanggan. Hal ini menjadi prioritas bagi Kantin Bu Intan agar setiap pengunjung selalu merasa puas dan ingin kembali menikmati cita rasa Mie Tiaw khas Pontianak disuguhkan dengan sepenuh hati oleh Kantin Bu Intan. Kehadiran kantin ini di tengah masyarakat Pontianak bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya kuliner lokal yang terus dijaga eksistensinya.
Muhammad Kevin Maulana, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
