Konten dari Pengguna

Pelajaran Penting Paetongtarn dan Hun Sen, ASEAN Butuh Protokol Komunikasi Baru

Muh Khamdan

Muh Khamdan

Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai Widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Kementerian Hukum

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prabowo Subianto dan putranya Ragowo Hediprasetyo bertemu Thaksin Shinawatra dan Paetongtarn Shinawatra (Sumber: Kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Prabowo Subianto dan putranya Ragowo Hediprasetyo bertemu Thaksin Shinawatra dan Paetongtarn Shinawatra (Sumber: Kumparan)

Peristiwa politik yang mengguncang Thailand menyusul ketegangan perbatasan dengan Kamboja, mencerminkan betapa rapuhnya arsitektur diplomasi bilateral jika tidak disertai etika komunikasi yang kokoh. Kasus pembocoran rekaman pembicaraan antara PM Thailand Paetongtarn Shinawatra dan mantan PM Kamboja Hun Sen, telah memperlihatkan bukan hanya krisis kedaulatan, namun juga kegagalan dalam membangun protokol komunikasi diplomatik yang etis dan strategis.

Konflik antara Thailand dan Kamboja bukan hal baru, terutama terkait wilayah perbatasan yang masih menjadi sengketa pascakolonialisme Prancis. Namun, yang menjadikannya lebih serius kali ini adalah ketika sengketa tersebut berubah menjadi krisis politik domestik yang menggoyahkan kepemimpinan nasional. Skorsing PM Paetongtarn oleh Mahkamah Konstitusi Thailand pada 1 Juli 2025, akibat isi percakapannya dengan Hun Sen, membuka babak baru dari politisasi diplomasi yang melampaui batas wajar etika hubungan internasional.

Hun Sen, tokoh senior dalam politik ASEAN dan mantan penguasa Kamboja yang kini menjabat sebagai Ketua Senat, memainkan manuver yang tajam namun kontroversial. Dengan membocorkan isi percakapan pribadi tersebut, ia secara tak langsung mempermalukan Thailand di panggung internasional, dan mencederai kepercayaan dalam mekanisme komunikasi bilateral. Aksi ini menimbulkan pertanyaan besar atas komitmen Kamboja terhadap prinsip-prinsip kerahasiaan dan kepercayaan dalam diplomasi ASEAN.

Bagi PM Paetongtar, yang mewarisi pengaruh politik dinasti Shinawatra, krisis ini bisa menjadi akhir karier yang prematur. Meskipun ia menyatakan bahwa percakapannya bersifat informal dan hanya sebagai upaya negosiasi damai, penggunaan istilah “lawan” terhadap komandan militer Thailand dianggap tidak pantas. Ini menyoroti kurangnya pengalaman politik dan diplomasi Paetongtarn yang menjadikan dirinya rentan dieksploitasi secara politis.

Poin krusial dalam kegagalan diplomatik ini terletak pada lemahnya protokol komunikasi tingkat tinggi. Dalam komunikasi strategis antarnegara, terlebih mengenai isu sensitif seperti perbatasan dan kedaulatan, selalu ada taklimat, persetujuan naskah, penerjemah profesional, dan kerangka kerahasiaan yang disepakati kedua belah pihak. Sayangnya, semua itu tampaknya diabaikan oleh kedua pemimpin dalam percakapan informal yang kini menjadi bumerang politik.

Etika diplomasi ASEAN sejatinya berlandaskan pada prinsip non-intervensi, penghormatan kedaulatan, dan penyelesaian damai atas sengketa. Dalam konteks ini, tindakan Hun Sen menjadi preseden buruk. Ia bukan hanya mencampuri urusan dalam negeri Thailand, tetapi juga menodai budaya diplomasi Asia Tenggara yang selama ini dikenal lebih tenang, tertutup, dan penuh kehati-hatian.

Skorsing terhadap Paetongtarn dan ketegangan politik internal Thailand juga mengungkapkan bagaimana isu eksternal bisa dengan cepat menjadi alat politik domestik. Senator konservatif memanfaatkan celah konstitusional untuk menggoyahkan Paetongtarn, menunjukkan bahwa stabilitas dalam negeri Thailand masih belum sepenuhnya pulih pasca era junta militer. Ini menciptakan kerentanan strategis bagi pertahanan nasional Thailand di tengah sengketa dengan negara tetangga.

Dalam konteks pertahanan kawasan, krisis ini mengganggu stabilitas regional ASEAN. Kamboja dan Thailand adalah anggota ASEAN Defense Ministers’ Meeting (ADMM) dan ADMM-Plus, yang seharusnya menjadi forum penyelesaian konflik. Ketidakmampuan menyelesaikan konflik melalui Komite Bersama (JBC) menunjukkan kegagalan dalam optimalisasi institusi regional untuk mengatasi konflik bilateral.

Krisis ini juga menjadi cermin bahwa hubungan personal antar pemimpin tidak bisa menggantikan diplomasi institusional yang terstruktur. Sekalipun Hun Sen adalah “paman” secara kultural bagi Paetongtarn, hubungan personal tak bisa dijadikan saluran utama untuk mengatasi konflik pertahanan negara. Hal ini menegaskan pentingnya membangun diplomasi berbasis institusi, bukan figur.

Langkah Kamboja membawa kasus perbatasan dengan Thailand yang menewaskan prajurit ke Mahkamah Internasional (ICJ), merupakan bagian dari diplomasi hukum yang sah. Namun, penolakan Thailand terhadap ICJ memperkuat pandangan bahwa ketegangan ini bukan sekadar sengketa hukum, tetapi juga pertarungan legitimasi dan ego nasional. Dalam arsitektur pertahanan ASEAN yang masih berbasis pada semangat kerja sama dan konsensus, sikap saling menolak ini bisa menimbulkan disintegrasi regional.

ASEAN perlu segera mengambil langkah mediasi, melalui ASEAN Troika atau mekanisme High-Level Task Force. Jika tidak, krisis ini dapat berkembang menjadi konflik militer terbuka, atau minimal memperdalam saling curiga antarnegara anggota, melemahkan kerja sama pertahanan dan keamanan kawasan.

Isu ini juga menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin ASEAN bahwa komunikasi diplomatik harus dikelola secara profesional. Kehati-hatian bukan sekadar sopan santun, tetapi merupakan perangkat keamanan nasional. Setiap kata bisa menjadi senjata, terutama ketika disampaikan dalam forum atau medium yang tidak aman.

Thailand kini berada di persimpangan sejarah. Jika Paetongtarn dicopot, maka ini akan menjadi kali kedua dalam dua tahun PM Thailand jatuh akibat manuver politik. Ini menunjukkan rapuhnya stabilitas politik Thailand dan dampaknya yang langsung terasa pada kebijakan luar negeri dan pertahanan nasionalnya.

Sebaliknya, reputasi Kamboja juga dipertaruhkan. Dalam era diplomasi modern, pembocoran informasi sensitif bukan hanya tidak etis, tetapi juga bisa merusak kepercayaan mitra internasional. Negara-negara lain bisa saja enggan menjalin komunikasi terbuka dengan Phnom Penh jika hal-hal pribadi bisa diekspos demi keuntungan politik.

Krisis ini membawa pelajaran penting bagi seluruh negara ASEAN bahwa keamanan bukan hanya soal senjata dan perbatasan, tetapi juga soal komunikasi, etika, dan integritas. Dalam dunia yang semakin terhubung, satu percakapan bisa mengguncang negara. Diplomasi adalah seni menahan diri, bukan seni menyerang lewat kata-kata.

Akhirnya, untuk menjaga perdamaian dan ketahanan kawasan, ASEAN harus segera membangun mekanisme komunikasi diplomatik yang lebih aman, etis, dan terlembaga. Setiap sengketa perbatasan harus diproses melalui forum yang tepat, bukan percakapan pribadi yang bisa disalahgunakan. Diplomasi adalah benteng pertama dari pertahanan nasional. Jika diplomasi gagal, yang tersisa hanyalah konflik.