Cerita Suka Duka Kerja di Jakarta

Lulusan program studi Statistika yang asyik bekerja di industri media.
Konten dari Pengguna
27 Juni 2022 17:17
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Muhammad Khoirur Rohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu sudut kota Jakarta. Foto: Haya Syahira/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu sudut kota Jakarta. Foto: Haya Syahira/kumparan
ADVERTISEMENT
Berstatus sebagai seorang fresh graduate yang belum genap dua bulan diwisuda, saya begitu antusias merasakan dunia kerja. Tapi ternyata saya masih harus bersabar. Pasalnya setelah dinyatakan diterima kerja, saya harus mengikuti pelatihan dasar militer di Markas Komando Marinir Cilandak selama kurang lebih 10 hari.
ADVERTISEMENT
Selama di Cilandak, ratusan karyawan baru ini benar-benar digembleng secara mental dan fisik. Meski porsi gemblengan kami mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan latihan militer sebenarnya, tak sedikit para calon karyawan yang ingin menyerah dan berhenti mengikuti pelatihan dasar militer ini.
Selama masa pelatihan, beberapa kali saya mendengar ucapan dari para pelatih maupun manajemen perusahaan yang menegaskan jika dunia kerja itu sedemikian keras sehingga kami para karyawan baru harus lebih dulu dididik di Markas Komando Marinir Cilandak.
Apakah dunia kerja memang sekeras itu?
Setelah mulai bekerja di industri televisi, saya bisa menarik kesimpulan jika ucapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Tak seperti orang kebanyakan, jam kerja sana bisa dibilang antimainstream.
Jika para pekerja biasanya pulang kerja jam 17:00, saya justru sebaliknya. Saya masuk kantor jam 17:00 dan bekerja hingga sekitar jam 01.30 dini hari. Jam kerja yang membuat saya disebut mirip seperti Batman karena beraktivitas justru pada malam hari. Meski punya sebutan Batman, saya cukup sadar diri jika penampilan saya jauh dari karakter Bruce Wayne yang tersohor itu.
ADVERTISEMENT
Jam kerja ini juga terkadang menyulitkan saya untuk bisa bersosialisasi di lingkungan indekos maupun teman-teman di luar kantor. Pasalnya ketika mereka bekerja, saya sedang malas-malasan di indekos. Sebaliknya, ketika mereka punya waktu luang, saya sedang sibuk-sibuknya bekerja.
Setiap hari, saya berangkat dari indekos di daerah Karet Kuningan, Setiabudi ke kantor yang terletak di Bilangan Mega Kuningan dengan berjalan kaki. Sesekali saya menggunakan jasa ojek online saat sedang terburu-buru.
Saya benar-benar menikmati momen 15 menit berjalan kaki dari indekos ke kantor. Selama perjalanan singkat itu, saya bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Mulai dari para penjual jajanan di belakang Mal Ambasador, pekerja kantoran yang berjalanan terburu-buru, sampai aksi boneka Mampang yang mencari rezeki di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT
Salah satu yang saya sukai dari Jakarta adalah trotoar yang nyaman dan berfungsi seperti seharusnya. Kondisi ini sebelumnya jarang saya temui ketika masih di Jogja.
Perjalanan pulang kerja begitu berbeda dengan saat berangkat. Situasi jalanan Jakarta begitu sepi ketika saya pulang kerja. Sebagai seorang perantauan dengan gaji yang bisa dibilang pas-pasan, saya sering nekat pulang kerja dengan berjalan kaki daripada harus keluar uang untuk membayar jasa ojek online.
Selain jalanan sepi, tantangan lain saat saya pulang kerja adalah keharusan untuk menaiki pagar setinggi hampir 2 meter di belakang Mal Ambasador dan ITC kuningan. Dalam kegelapan malam, saya harus memanjat pagar itu demi bisa sampai indekos lebih cepat. Pada satu malam yang sial, celana kerja saya sampai robek karena tersangkut pagar ketika sedang asyik memanjat.
ADVERTISEMENT
Sampai saat ini saya masih ingat rutinitas saya ketika masih bekerja di sana. Sesampainya di kantor, saya akan langsung menuju News Room. Di ruangan dengan meja kerja berbentuk lingkaran besar ini saya akan berdiam di depan komputer untuk menulis naskah, kemudian mencari video yang sesuai dengan isi naskah, menggabungkan naskah dan video, sampai akhirnya syuting acara live sampai selesai. Sesekali saya pergi ke garden untuk melepas penat sembari ngopi dan berbincang dengan karyawan lain.
Bekerja di stasiun televisi membuat saya berkesempatan bertemu dengan banyak figur publik yang sebelumnya hanya bisa saya lihat dari layar kaca. Kadang ada perasaan ndeso dan keinginan untuk berfoto bersama beberapa figur publik yang saya kagumi.
ADVERTISEMENT
Selain di kantor, saya juga berkesempatan untuk meliput beberapa acara dan bertemu dengan sosok-sosok penting di dunia olahraga. Dua pengalaman paling berkesan adalah saat meliput acara mantan pembalap MotoGP Marc Márquez dan meliput latihan Tim Nasional Indonesia. Saya memang sangat mencintai dunia olahraga.
Tak terasa, saya telah bekerja di kantor pertama ini selama hampir 4 tahun. Saya kemudian mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah kantor lain yang masih berlokasi di Jakarta.
Sama-sama bergerak di bidang olahraga, saya pun menerima tawaran itu untuk mencoba pengalaman baru. Penasaran cerita selanjutnya? Nantikan di bagian ketiga artikel #HUTDKI495 Lomba Menulis HUT ke-495 Jakarta!
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020